Aturan Melahirkan di Masa Pandemi Covid-19 dari Kemenkes

tim, CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 13:37 WIB
Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan penanganan melahirkan di rumah sakit untuk menekan penularan dan infeksi virus corona. Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan penanganan melahirkan di rumah sakit untuk menekan penularan dan infeksi virus corona. (Pixabay/RitaE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan penanganan melahirkan di rumah sakit. Aturan melahirkan di masa pandemi virus corona ini dibuat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dalam proses persalinan serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

Kemenkes menyatakan aturan ini penting diterapkan mengingat banyaknya kasus Covid-19 konfirmasi, suspek, dan probable. Pasalnya, ibu hamil dan bayi yang dilahirkan memiliki risiko terinfeksi virus corona.

Persalinan ibu dengan kasus suspek atau probable mesti dilakukan di RS Rujukan Covid-19. Sebelum persalinan, setiap ibu hamil diimbau untuk skrining Covid-19 pada tujuh hari sebelum hari taksir persalinan.


Berikut aturan melahirkan di masa pandemi Covid-19.

Dalam masa pandemi COVID-19, rumah sakit rujukan COVID-19 diminta melaksanakan pelayanan maternal dan neonatal dengan memperhatikan kewaspadaan isolasi bagi seluruh pasien, antara lain dengan:

1. Untuk mengurangi transmisi udara, dapat menggunakan delivery chamber untuk pelayanan persalinan pervaginam.

2. Melakukan tindakan di ruang operasi dengan tekanan negatif bila ada, atau melakukan modifikasi aliran udara.

3. Memiliki ketersediaan alat pelindung diri (APD) sesuai standar bagi tenaga kesehatan pemberi pelayanan maternal dan neonatal.

Protokol melahirkan itu terdapat dalam surat edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/III/2878/2020 tentang Kesiapsiagaan Rumah Sakit Rujukan dalam Penanganan Rujukan Maternal dan Neonatal Dengan COVID-19.

Kemenkes menyatakan surat edaran tersebut sudah  disebarkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia,  Direktur Rumah Sakit Rujukan Covid-19, Direktur Rumah Sakit Vertikal, Direktur rumah sakit rujukan nasional, provinsi, dan regional.

Sementara itu  WHO menyatakan setiap negara mesti membuka akses kesehatan pada ibu hamil. Situasi pandemi dinilai membuat ibu hamil semakin kesulitan mendapatkan akses kesehatan.

"Kehamilan tidak berhenti ketika pandemi. Layanan kesehatan untuk itu sangat penting. Bahkan sebelum muncul Covid-19 banyak ibu yang tak bisa mengakses perawatan yang baik. Sekarang, akses sudah memburuk dan terbatas. Itu berisiko bagi kehidupan perempuan,"  kata Direktur Eksekutif Anggaran Populasi PBB Dr Natalia Kanem, beberapa waktu lalu.

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]