Di Balik Tren Mukbang, Hempas Sepi dan Makan Tanpa Aturan

CNN Indonesia | Sabtu, 01/08/2020 13:01 WIB
Tren aktivitas mukbang di Youtube mendapat lebih banyak penonton saat pandemi Covid-19. Ilustrasi mukbang. (Manan VATSYAYANA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 telah mengubah rutinitas warga sehari-hari menjadi lebih banyak di rumah usai anjuran karantina dari pemerintah. Banyak cara buat mengisi waktu luang, salah satu yang lagi tren terkait kuliner yaitu mulai dari menjajal resep baru hingga maraton menonton tayangan mukbang di YouTube.

Mukbang, atau kegiatan menyantap makanan dalam jumlah besar, seperti 100 pangsit sekaligus atau 10 burger dalam waktu singkat, menjadi salah satu konten yang cukup populer dan meraih peningkatan penonton signifikan di tengah pandemi. Tren ini dinilai menjadi cara untuk mengatasi rasa sepi hingga kepuasan menikmati makanan tanpa aturan.

Fenomena kuliner ini sebenarnya telah dimulai di Korea Selatan sejak satu dekade silam, di mana meninggalkan etika makan tapi dengan cara yang tetap mengasyikkan.


Daya tarik global pada mukbang sempat menyusut selama beberapa tahun terakhir, tapi kenaikan mencolok terjadi ketika pandemi datang.

Saluran YouTube Steven Sushi misalnya, yang biasanya rata-rata ditonton 45 ribu kali per video, naik menjadi 100 ribu saat penerapan lockdown imbas pandemi.

Selain itu, BenDeen, yang biasanya menyuguhkan konten makan di depan 120 ribu pengikutnya meroket menjadi 300 ribu.

YouTubers Bloveslife menilai bahwa fenomena mukbang yang terangkat kembali karena, "Orang ingin makan apa yang saya makan, pada saat mereka tidak bisa mengakses makanan favoritnya karena penutupan sejumlah restoran atau sedang berhemat."

YouTubers yang berasal dari Ohio ini juga menganggap orang-orang menikmati menonton videonya karena melihatnya makan tanpa rasa menyesal dan menjadi sebuah kepuasan tersendiri.

Ahli yang berspesialisasi dalam perilaku makan, Amanda Greenless, percaya bahwa menonton orang makan dapat membantu untuk merasa tidak begitu kesepian.

"Makanan adalah sarana komunikasi utama kita, itu juga sarana utama hubungan kita. Ketika berada dalam karantina, kita tidak dapat memiliki hubungan itu lagi sehingga menonton seseorang makan memberikan kemiripan koneksi," katanya, dikutip dari Metro.

Di samping itu, Greenless juga mengatakan bahwa menonton mukbang bisa meringankan rasa bersalah kala berada di sekitar makanan. Apalagi, menurut Greenless, selama lockdown banyak yang makan untuk kenyamanan atau mengalihkan pikiran dari situasi yang sedang terjadi.

"Anda bisa menonton orang lain melakukan sesuatu yang tidak boleh Anda lakukan. Ada budaya besar pembatasan makanan, sosial, dan individu," katanya.

"Kita terus-menerus mengatakan pada diri sendiri, 'Saya tidak boleh memiliki ini, saya tidak harus memilikinya' sehingga untuk melihat seseorang benar-benar mengabaikan batas-batas itu dan melakukan apa pun yang mereka inginkan mungkin merupakan bagian dari daya tariknya," papar Greenless lebih lanjut.

Salah satu contohnya terlihat dalam kolom komentar saluran YouTube milik Stephanie Soo. Salah satu pengikut dari total 2,26 juta pengikut Soo mengungkap bahwa menonton konten mukbang membuat diri mereka seolah sedang di posisi tersebut.

"Saya sedang diet tetapi suka menonton video Stephanie karena membayangkan itu saya," tulis seorang penggemar.

Bagi sebagian pemirsa, menonton mukbang menawarkan konsumsi tanpa konsekuensi karena mereka merayakannya melalui YouTuber. Mukbang menawarkan kepada penonton sebuah pesta bebas kalori, dan bagi sebagian orang yang kesulitan makan yang tidak teratur, mereka bahkan dapat bertindak sebagai pengganti makanan virtual.

Amanda Greenlees mengemukakan bahwa dengan melakukan mukbang, orang mungkin mendapatkan kembali kekuasaan mereka di sekitar makanan dan memberontak melawan tabu masyarakat.

"Ada perasaan ketidakberdayaan yang dirasakan banyak orang ketika mereka makan dan terutama saat makan terus-terusan, jadi dengan memilih mukbang, mereka mengambil kekuatan kembali," katanya.

Dia menambahkan, "Juga, menghilangkan rasa malu, karena mereka secara terbuka memegang kendali atas dirinya tanpa ada yang bisa mempermalukan mereka karenanya," ungkapnya.

(agn/fea)

[Gambas:Video CNN]