Abu Vulkanik Erupsi Gunung Sinabung Bisa Sebabkan ISPA

tim, CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 20:30 WIB
Erupsi abu vulkanik Gunung Sinabung berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan akut atau ISPA. Erupsi abu vulkanik Gunung Sinabung berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan akut atau ISPA. (ANTARA FOTO/Maz Yons)
Sumatera Utara, CNN Indonesia --

Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara kembali erupsi dengan kolom abu mencapai 5.000 meter di atas puncak, Senin (10/8). Erupsi ini menimbulkan abu vulkanik yang berbahaya untuk manusia.

Masyarakat diingatkan agar tak menganggap sepele dengan sebaran abu vulkanik, sebab dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut atau ISPA.

"Sistem pernapasan merupakan hal vital untuk menunjang hidup manusia jadi harus benar-benar diwaspadai khususnya bagi orang yang memiliki permasalahan paru-paru," kata Dokter Spesialis Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan, Wijaya Juwarna.


"Gunung berapi saat meletus ada material yang dikeluarkan di antaranya hujan abu, gas vulkanik seperti uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), asam klorida (HCl),  Nitrogen (NO2). Material ini di antaranya ada yang beracun."

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan tersebut menjelaskan hujan abu vulkanik yang berisi material kecil bisa terbawa angin hingga jauh. Abu vulkanik bisa menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, bronkitis, sesak napas, hingga penyempitan saluran pernapasan yang dapat berakibat fatal untuk kesehatan.

Menurut Wijaya orang paling rentan terdampak abu vulkanik adalah bayi, anak-anak, dan orang usia lanjut. Untuk mencegah bahaya akibat paparan Ia berharap warga terdampak untuk menggunakan masker terutama masker N95 atau P2 karena dapat mencegah materi yang berukuran kurang dari 10 mikron hingga 0,3 milimeter. Masker ini dapat digunakan lebih dari lima kali sesuai pemakaian dan bisa di sterilkan dengan Sinar UVC.

"Masker medik yang paling mudah didapatkan dan dengan harga murah, tapi material masih bisa masuk melalui celah-celah masker ini karena bahannya tidak terlalu tebal," jelasnya.
 
Selain gangguan pernapasan akut atau ISPA, dampak abu vulkanik juga dapat menyebabkan gangguan pada penglihatan, iritasi pada kulit, serta gangguan mekanikal. Benda asing yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi, konjungtivitis (radang pada konjungtiva), abrasi kornea (goresan pada kornea).
 
"Selanjutnya, iritasi pada kulit meskipun jarang ditemukan, tetapi mungkin terjadi karena abu gunung berapi tersebut bersifat asam," beber Wijaya. 

Seperti diketahui, Gunung Sinabung erupsi sejauh 5.000 meter pada Senin (10/8) pukul 10.16 WIB. Usai erupsi besar itu, Sinabung kembali mengalami erupsi susulan dengan tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter pada pukul 11.00 WIB.

Erupsi Gunung Sinabung tersebut menyebabkan sejumlah desa diselimuti abu vulkanik. Bahkan di Kecamatan Naman Teran gelap gulita akibat paparan abu vulkanik. Tak hanya melontarkan abu vulkanik, erupsi Sinabung juga melontarkan material pasir dan batu-batu kecil.

Sebelumnya pada Sabtu 8 Agustus 2020 Sinabung juga erupsi masing-masing dengan tinggi kolom abu sejauh 2.000 meter sekitar pukul 01:58 wib dan pada sore hari dengan ketinggian 1.000 meter dari puncak sekitar pukul 17.18 wib.

Gunung Sinabung berstatus level III atau 'Siaga' sejak 20 Mei 2019. Sinabung terakhir kali erupsi pada Juni 2019.

(fnr/chs)

[Gambas:Video CNN]