Imunomodulator,Upaya Modifikasi Pertahanan Tubuh Cegah Corona

tim, CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 19:15 WIB
Meski sudah masuk masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), harus disadari saat ini pandemi virus corona masih merebak. ilustrasi : Jamu. Meski sudah masuk masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), harus disadari saat ini pandemi virus corona masih merebak. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Meski sudah masuk masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), harus disadari saat ini pandemi virus corona masih merebak. Masyarakat dianjurkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Yang tak kalah penting juga adalah memperhatikan asupan gizi untuk menjaga imunitas tubuh.

Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTTJI) menuturkan selain itu penting juga untuk mengonsumsi suplemen untuk meningkatkan kemampuan tubuh dalam mencegah infeksi.

"Dalam keadaan biasa, kita perlu sistem imunitas yang  baik. Beragam patogen ada di lingkungan kita. Sekarang concern kita patogen dari luar tubuh, gimana kita mencegah, kalau pun terinfeksi, gimana tubuh bisa melawan," jelas Inggrid dalam webinar peluncuran produk Fatigon Promuno, Selasa (4/8).


Sistem imun memiliki peran sangat krusial sehingga memerlukan immunomodulator. Apa itu imunomodulator?

Inggrid menjelaskan immunomodulator merupakan zat atau substansi yang mampu memodifikasi respons imun misalnya, mengaktifkan mekanisme pertahanan alamiah juga mengembalikan sistem imun yang terganggu. Fungsi modifikasi atau regulasi ini ada dua yakni, imunostimulan dan imunosupresif.

Imunostimulan merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan kerja komponen-komponen sistem imun. Pemberian imunostimulan bertujuan meningkatkan respons imun terhadap penyakit atau infeksi. Contoh imunostimulan antara lain, isoprinosin, ekstrak herbal semisal, echinacea, black elderberry, saffron, meniran, jinten hitam, sambiloto, bawang putih, kunyit dan jahe merah.

Sedangkan imunosupresif merupakan senyawa yang digunakan untuk menekan respons imun, meredakan hiper-inflamasi mengatasi penyakit autoimun atau mencegah penolakan transplantasi.

Inggrid mengatakan dua jenis fungsi ini bisa diperoleh dari satu jenis bahan herbal misalnya sambiloto dan jahe merah. Keduanya memiliki fungsi imunostimulan dan imunosupresif.

"Kita mengenal ada istilah badai sitokin, ini respons imun berlebihan, di mana bisa menghancurkan virus tapi karena berlebihan sel tubuh lain ikut dirusak, maka terjadi peradangan berlebihan, makanya perlu imunosupresif," imbuhnya.

(els/chs)

[Gambas:Video CNN]