Mitos dan Kesalahan Obati Luka: Air Liur, Alkohol dan Kasa

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 12/09/2020 18:12 WIB
Pelbagai mitos berkembang mengenai penyembuhan luka, mulai dari penggunaan air liur hingga membersihkan luka dengan kasa. Ilustrasi luka. (Istockphoto/YKD)
Jakarta, CNN Indonesia --

Luka yang muncul pada kulit seringkali dianggap remeh. Sebagian orang menganggap luka bisa sembuh dengan sendirinya. Ada pula mitos-mitos dan kesalahan yang berkembang mengenai penyembuhan luka. Mulai dari menggunakan air liur untuk membersihkan luka hingga menggunakan kasa.

Luka sendiri merupakan kondisi ketika struktur kulit hilang kesinambungan sehingga merusak jaringan di bawah kulit. Perlu langkah pengobatan yang tepat agar luka tak kian parah atau menjadi kronis.

Penerapan mitos-mitos dan kesalahan dalam pengobatan justru akan memperlambat penyembuhan luka, berisiko membuat luka infeksi, dan memperparah luka.


Berikut sejumlah mitos dan kesalahan dalam mengobati luka.

1. Mengemut luka dengan air liur

Seringkali luka langsung diobati dengan memberikan air liur, terutama luka di tangan. Dokter spesialis luka Adisaputra Ramadhinara menjelaskan, air ludah memang memiliki kandungan anti-bakteri. Namun, membersihkan luka dengan air liur bukan cara yang tepat.

"Memang ada anti-bakteri, tapi di dalamnya juga terdapat banyak sekali bakteri lain. Ini tidak direkomendasikan. Tidak higienis dan tidak etis," kata Adisaputra dalam talkshow virtual Hansaplast, memperingati World First Aid Day atau Hari Pertolongan Pertama Sedunia.

2. Menutup luka dengan tanaman

Sejumlah kepercayaan meyakini menutup luka dengan tanaman seperti cabai, kopi, kunyit, jahe, dan dedaunan. Namun menurut Adisaputra, cara ini belum terbukti secara ilmiah sehingga tidak sesuai dengan standar medis di seluruh dunia.

"Secara medis yang menjadi standar adalah yang dapat diaplikasikan dan diulang dengan hasil yang selalu sama," ucap Adisaputra yang merupakan dokter spesialis luka pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Infografis 'cerita salah' Tentang LukaFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis 'cerita salah' Tentang Luka

3. Membersihkan luka dengan alkohol

Banyak orang memilih untuk membersihkan luka dengan alkohol. Adisaputra menjelaskan alkohol bukan cairan yang tepat untuk membersihkan luka. Alkohol memang bisa membunuh bakteri, tapi di sisi lain juga merusak jaringan kulit.

"Alkohol bukan antiseptik tapi desinfektan untuk benda mati, bukan untuk diaplikasikan pada kulit karena merusak jaringan kulit yang sehat," tutur Adisaputra.

4. Menutup luka dengan kasa

Kesalahan lain dalam mengobati luka adalah menutup luka dengan kasa. kasa bukanlah penutup yang tepat untuk luka. Studi menunjukkan dibutuhkan 64 lapis kasa untuk menghalangi bakteri masuk ke luka yang ditutup. Sebaiknya, gunakan plester.

"Bukan hanya di kalangan awam, tapi juga di kalangan medis, masih banyak yang menggunakan kasa. Menutup luka itu untuk mencegah bakteri masuk dan menjaga luka tetap lembap. Sayangnya kasa bukan material yang memenuhi dua kategori itu," ungkap Adisaputra.

Agar luka tak menjadi kronis atau kian parah, perlu langkah tepat dalam pengobatan.

Berikut cara mengobati luka yang tepat.

1. Membersihkan luka dengan air mengalir dan cairan antiseptik.

2. Jika perdarahan, tekan dengan kain bersih untuk menyetop perdarahan.

3. Memberikan salep luka untuk melembapkan.

4. Menutup luka dengan plester.

5. Mengganti plester dua kali sehari setiap habis mandi.

(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA