World Tourism Day, Kemenparekraf Perkuat Protokol Kesehatan

Kemenparekraf, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 12:32 WIB
Kemenparekraf mendorong penguatan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE, termasuk di sektor transportasi udara yang disepakati oleh PT Angkasa Pura. Kemenparekraf mendorong penguatan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE, termasuk di sektor transportasi udara yang disepakati oleh PT Angkasa Pura. (Foto: dok. Kemenparekraf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Barekraf) mengajak seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif menjadikan Hari Pariwisata Sedunia pada 27 September 2020 sebagai momentum untuk memperkuat penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) di tengah upaya bangkit dari pandemi Covid-19.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Kreatif Nia Niscaya menyebut Hari Pariwisata Sedunia tahun ini mengusung tema Tourism and Rural Development yang sejalan dengan protokol kesehatan berbasis CHSe.

"Tema Hari Pariwisata Internasional tahun ini lebih ke alam, pedesaan, pariwisata dan masyarakat lokal. Kalau kita hubungkan dengan program protokol kesehatan CHSE, rupanya program kita sudah sejalan dengan tema Hari Pariwisata Dunia. Kita diingatkan bahwa pariwisata harus tetap dijaga lingkungannya agar tetap lestari," kata Nia dalam acara Sosialisasi Adaptasi Kebiasaan Baru Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang digelar secara daring, Sabtu (19/9).


Nia menekankan, ajakan menjaga lingkungan dan menerapkan protokol kesehatan itu termasuk transportasi udara. Sebagai tanggapan, Vice President Commercial Performance PT Angkasa Pura II Wisnu Raharjo mengatakan pihaknya telah menggulirkan kampanye Safe Travel yang menggaungkan penerapan protokol kesehatan bagi penyedia jasa transportasi, terutama maskapai penerbangan dan konsumen.

"Kampanye ini bertujuan mengembalikan kepercayaan pengguna transportasi udara, terutama untuk meyakinkan jaminan keamanan, kesehatan, dan kebersihan transportasi udara bagi wisatawan," kata Wisnu.

Tiga poin utama Safe Travel Campaign, kata Wisnu, adalah kesiapan staf operasional, memastikan pengalaman bepergian yang aman bagi konsumen, dan membangun kepercayaan konsumen.

"Jadi pada poin pertama kita memastikan seluruh staf operasional di bandara menyesuaikan pola kerja dengan protokol kesehatan, mengenakan alat pelindung diri seperti masker, pengecekan suhu tubuh secara berkala serta pemantauan kesehatan staf secara berkala,"

"Pada poin kedua, kita memastikan pengalaman bepergian yang aman bagi konsumen dengan menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang protokol kesehatan seperti ketersediaan fasilitas cuci tangan dan menjaga kebersihan fasilitas bandara. Kemudian, kita membangun kepercayaan konsumen untuk bepergian dengan pesawat terbang dengan menginformasikan penerapan protokol kesehatan di bandara dan mengedepankan layanan berbasis digital," jelas Wahyu.

Ia menambahkan, salah satu implementasi kampanye dilakukan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, berupa touchless parking machine, touchless elevator, dan pemasangan sinar UV-C di tempat pengambilan bagasi dan hand rail eskalator Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

"Sinar UV-C ini berfungsi untuk mematikan bakteri dan virus yang menempel pada benda-benda yang sering disentuh banyak orang. Sementara untuk parking machine bisa diakses menggunakan sensor gerakan tangan dan elevator diakses menggunakan injakan kaki," kata Wisnu.

Menurut Wisnu, Safe Travel Campaign menempatkan Bandara Soekarno-Hatta di urutan ke-34 dari 217 bandara dunia yang aman dari penyebaran Covid-19. Hal itu sekaligus membuktikan konsumen dapat bepergian dengan aman menggunakan pesawat terbang dengan menerapkan protokol ketat.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I Devy Suradji melanjutkan, pihaknya juga telah menyosialisasikan protokol kepada para penyedia transportasi darat di bandara, dengan tetap memperhatikan unsur kelestarian lingkungan di sekitar lokasi bandara.

"Kita juga meminta agar penyedia transportasi darat menerapkan customer service virtual, jadi petugas customer service ditempatkan di dalam sebuah ruangan yang dilengkapi dengan komputer lengkap dengan kamera yang terhubung perangkat berupa monitor yang ada di meja customer service, sehingga konsumen dan petugas bisa tetap berinteraksi tanpa harus ada kontak fisik," kata Devy.

Hal ini disambut baik oleh Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Vinsensius Jemadu. Selain memperhatikan kelestarian lingkungan pedesaan dan penerapan protokol kesehatan di sektor penerbangan yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Vinsensius mengatakan perlu ada upaya pelestarian budaya yang ada di pedesaan sebagai salah satu potensi wisata.

"Kita juga harus mengangkat nilai kearifan lokal di area pedesaan untuk dikembangkan sehingga rural area itu bisa maju dan berkembang, sehingga kita bisa menikmati outcome pariwisata untuk kesejahteraan bersama," ucap Vinsensius.

(rea)