Kemenparekraf Maksimalkan Desa Wisata Sebagai Lokasi Syuting

Kemenparekraf, CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2020 10:46 WIB
Kemenparekraf menggelar IN-FRAME bagi komunitas film dan pengelola desa wisata dalam upaya memaksimalkan desa wisata sebagai lokasi produksi film. Kemenparekraf menggelar IN-FRAME bagi komunitas film dan pengelola desa wisata dalam upaya memaksimalkan desa wisata sebagai lokasi produksi film. (Foto: dok.Kemenparekraf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Barekraf) bekerja sama dengan Salaka.edu serta IFC Network menggelar kegiatan pelatihan dan peningkatan pemahaman bagi komunitas film dan pengelola desa wisata dalam upaya memaksimalkan desa wisata sebagai lokasi produksi film.

Kegiatan bertajuk IN-FRAME (Indonesia Film Course and Incubation Programme) ini diadakan di Yogyakarta pada 13 hingga 16 Oktober 2020, dan melibatkan 20 peserta dari komunitas film yang berada di Yogyakarta dan kota-kota sekitarnya, seperti Magelang, Purworejo, dan Semarang. Selama empat hari, peserta dibekali materi mengenai layanan produksi film dan desa wisata, layanan perizinan dan insentif, layanan lokasi dan produksi, hingga strategi pemasaran, dan sistem informasi dari para narasumber.

Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi Kemenparekraf/Baparekraf Syaifullah, mengatakan, kegiatan ini memberi pemahaman kepada para pembuat film dan pengelola desa wisata mengenai manajemen serta pengelolaan lokasi syuting sebagai aset yang dapat dioptimalkan.


Lokasi film, katanya, dapat memberikan efek emosional yang berpotensi menjadi pengungkit roda perekonomian dengan menghidupkan industri pariwisata dan pengembangan aspek ekonomi kreatif lainnya. Ia menyebut banyak best practices dari industri perfilman nasional hingga mancanegara mengenai potensi ekonomi dari lokasi syuting bagi industri pariwisata dan pengembangan Intellectual Property (IP) lainnya.

"Saya harap sinergi antara filmmaker dan pengelola desa wisata dapat menjadi pengungkit bagi optimalisasi lokasi syuting, terutama karena Yogyakarta sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya, keindahan alam, kriya, serta kuliner merupakan salah satu lokasi favorit tempat pembuatan film (movie set) yang bisa menjadi magnet tersendiri untuk dikunjungi wisatawan," ujar Syaifullah pada Selasa (20/10).

Sutradara film Hanung Bramantyo yang hadir dalam acara sebagai pembicara dalam kesempatan itu berbagi tentang studio syuting sekaligus Desa Wisata Gamplong yang diinisiasi bersama dengan warga desa terkait.

"Membangun set lokasi bukan hal yang mudah dalam proses pembuatan film. Sayang sekali apabila set tersebut harus dihancurkan setelah proses syuting usai. Dari beragam referensi dan pengalaman pribadi, saya melihat lokasi syuting memberikan value tersendiri yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Untuk itu saya bersama warga desa Gamplong menginisiasi ini sekaligus sebagai penggerak perekonomian warga di sekitar," kata Hanung.

Dipaparkan, sudah ada 15 film dan iklan yang memanfaatkan lokasi ini. Sebagai destinasi wisata, Gamplong pun menarik perhatian wisatawan. Sebelum pandemi, setiap bulan ada lebih dari 40 ribu pengunjung mendatangi set lokasi film Bumi Manusia, Sultan Agung, Habibie & Ainun hingga Gatotkaca itu. Sempat ditutup selama empat bulan pada Maret-Juni silam, saat ini jumlah pengunjung masih mencapai 20 ribu orang lebih per bulan.

"Komunitas film di Yogyakarta dan sekitarnya relatif lebih berkembang dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Ekosistem perfilman di sini juga sudah cukup matang. Dengan ditunjang aspek pariwisata yang juga sudah sangat berkembang, diharapkan Yogyakarta dapat menjadi pilot project yang baik bagi pengembangan lokasi syuting sebagai destinasi wisata dan ekraf lainnya," ujar Hanung.

Kegiatan IN-FRAME di Yogyakarta menjadi yang kedua setelah Denpasar mendapat giliran pertama dengan cakupan sineas dan komunitas film dari Pulau Bali dan Nusa Tenggara. IN-FRAME akan dilaksanakan di empat daerah, yaitu Bali, Yogyakarta, Danau Toba, dan akan ditutup di Jakarta dengan menghadirkan berbagai stakeholder pengembangan destinasi wisata dari lokasi syuting.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK