Salah Kaprah Istilah Diabetes Kering dan Basah

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 17/11/2020 12:25 WIB
Istilah diabetes kering dan diabetes basah pada penyakit gula sebenarnya tidak digunakan dalam dunia kedokteran. Berikut penjelasannya secara medis. Istilah diabetes kering dan diabetes basah pada penyakit gula sebenarnya tidak digunakan dalam dunia kedokteran. Berikut penjelasannya secara medis. (Foto: iStockphoto/Michail_Petrov-96)
Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah diabetes kering maupun diabetes basah pada penyakit gula sebenarnya tidak ada dalam bahasa medis. Sebutan itu digunakan oleh orang awam yang merujuk pada jenis luka diabetesi.

"Istilah diabetes kering atau basah itu tidak ada dalam medis. Hanya sebutan masyarakat saja," ujar dr. Aditya Alfarizi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (17/11).

Penyebutan diabetes kering dan basah, lanjutnya, bisa saja beragam di kalangan masyarakat. Namun umumnya, mereka menyebut diabetes basah merujuk pada diabetes dengan ulkus, yaitu luka atau borok yang tidak kunjung sembuh. Sementara diabetes kering sebaliknya.


"Referensi tiap daerah bisa berbeda. Diabetes kering itu tidak ada luka, sedangkan yang disertai luka pada bagian tangan atau kaki penderitanya dan tidak sembuh disebut [oleh masyarakat] diabetes basah," ujarnya.

Beberapa contoh kasus timbulnya istilah 'diabetes kering' karena penderitanya memiliki sejumlah luka tubuh yang menghitam dengan kondisi kulit yang tak kunjung membaik.

Lalu istilah 'diabetes basah' dilihat dari penderita diabetes dengan luka basah bernanah secara terus-menerus dan sulit disembuhkan hingga berujung amputasi.

Secara medis, para dokter sepakat bahwa penyakit diabetes bukan dibedakan dalam istilah 'kering atau basah'. Melainkan pada tipe utamanya yaitu diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional.

ilustrasi luka diabetesFoto: iStockphoto/ittipon2002
Ilustrasi amputasi. Istilah diabetes kering dan basah oleh masyarakat awam merujuk pada ulkus atau luka borok pada bagian kaki maupun tangan.


Penyakit Diabetes di Indonesia

Saat ini, keberadaan penyakit diabetes di Indonesia telah menduduki urutan ketiga dengan persentase sebesar (6,7 persen) setelah stroke (21,1 persen), dan penyakit jantung koroner (12,9 persen), merujuk Kemenkes.

Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetesi sebanyak 10,3 juta jiwa.

Sementara itu menurut data WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia, ada 442 juta orang menderita diabetes atau sekitar 8,5 persen dari populasi dunia.

Penyebab terjadinya diabetes ada banyak, mulai dari genetik (turunan), gaya hidup konsumtif atau minim aktivitas fisik.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai diabetes, berikut penjelasannya yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

1. Diabetes tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

ilustrasi diabetesFoto: iStockphoto/Maya23K
ilustrasi. Diabetes tipe 1 seringkali dialami remaja lantaran pankreasnya sedikit memproduksi insulin

Diabetes tipe 1 merupakan kondisi kronis ketika pankreas hanya memproduksi hormon insulin yang sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Akibatnya sel-sel tubuh tidak dapat mengambil gula dari darah yang membuat kadar gula darah meningkat.

Jenis diabetes tipe 1 seringkali terjadi pada anak-anak dan remaja. Akan tetapi bisa juga dialami orang dewasa maupun bayi.

a. Gejala Diabetes tipe 1

  • Gejala yang mirip seperti flu
  • Sering buang air kecil dan menyebabkan ngompol
  • Rasa haus serta lapar yang berlebihan
  • Mudah lelah hingga berkeringat
  • Penurunan berat badan secara drastis


b. Penyebab Diabetes tipe 1

Dikutip dari Healthline, penyebab diabetes tipe 1 adalah autoimun. Antibodi yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi justru menyerang balik sel beta pada pankreas.

Belum diketahui secara pasti penyebab antibodi melakukan serangan ke sel beta. Dugaan sejauh ini dikarenakan faktor genetik atau dampak dari gaya hidup tidak sehat.

c. Pengobatan Diabetes tipe 1

Pengobatan untuk menangani diabetes tipe 1 adalah melakukan suntik insulin secara rutin yang bertujuan menjaga kadar gula darah supaya tetap normal.

Selain itu, menjalani diet diabetes dengan mengurangi asupan gula dan karbohidrat, disertai konseling gizi dan latihan fisik seperti senam, jogging, atau bersepeda.


2. Diabetes tipe 2 (Diabetes Melitus tipe 2)

ilustrasi diabetesFoto: istockphoto/ Tempura
Ilustrasi. Mayoritas pengidap diabetes tipe 2 adalah orang dewasa

Untuk diabetes tipe 2 ini, hormon insulin masih bisa diproduksi. Namun, tubuhnya tidak dapat memanfaatkan insulin tersebut secara optimal.

Sekitar 90 persen penderita diabetes tipe 2, kebanyakan orang dewasa dengan rentan usia 40 tahun ke atas. Tapi bisa juga bisa menyerang golongan dewasa muda atau usia 20 tahun.

a. Gejala Diabetes tipe 2

  • Mengalami infeksi terus-menerus atau penyembuhan luka yang lambat, namun tidak untuk disebut gejala diabetes kering atau diabetes basah
  • Komplikasi yang diasosiasikan dengan tingkat level gula darah seperti kesemutan
  • Penglihatan kabur
  • Disfungsi ereksi pada pria
  • Pruritus vulvae atau rasa gatal ekstrem pada kelamin, khususnya wanita.

b. Penyebab Diabetes tipe 2

Beberapa faktor yang berkontribusi menyebabkan diabetes tipe 2 yaitu genetik (turunan), kelebihan berat badan (obesitas), kurang aktivitas fisik, atau faktor lain dari lingkungan dan gaya hidup.

c. Pengobatan Diabetes tipe 2

Penderita diabetes tipe 2 tidak perlu suntik insulin dalam pengobatannya, namun membutuhkan obat yang berfungsi untuk memperbaiki insulin tersebut.

Tidak hanya pemberian obat farmasi, diabetesi juga harus melakukan perawatan diri seperti olahraga, mengonsumsi serat pangan tinggi kalori serta menerapkan perilaku hidup sehat.


3. Diabetes Kehamilan (Diabetes melitus gestasional)

Close-up of pregnant woman relaxing and sitting on the side on the sofa. Holding a hands on the tummy.Foto: Istockphoto/ Gorodenkoff
Ilustrasi. Diabetes melitus gestasional dialami oleh wanita hamil karena tingginya kadar gula darah tinggi.

Diabetes melitus gestasional adalah kondisi kadar gula darah tinggi yang terjadi sementara waktu pada wanita hamil.

Namun, wanita hamil penderita diabetes gestasional ini berisiko terkena diabetes serupa ketika kehamilan berikutnya atau berpotensi terkena diabetes tipe 2 pada 5-10 tahun mendatang.

a. Gejala Diabetes Gestasional

  • Sering buang air kecil
  • Bercak hitam pada lipatan kulit seperti leher atau ketiak
  • Rasa nyeri hingga mati rasa pada kaki
  • Mulut terasa kering
  • Beberapa ada yang tidak menunjukkan gejala.

b. Penyebab Diabetes Gestasional

Mengutip dari WebMD, ada beberapa penyebab wanita hamil mengalami diabetes gestasional. Salah satunya obesitas yang membuat tubuh kesulitan memaksimalkan insulin.

Faktor lainnya adalah keturunan, bisa dari orang tua wanita hamil atau saudaranya yang mengidap diabetes tipe 2.

Wanita hamil yang menderita diabetes gestasional berisiko melahirkan bayi dengan berat badan berlebih atau terkena gangguan hormonal sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Dampak lain wanita hamil diabetes gestasional adalah bayi yang dilahirkan kemungkinan akan mengalami obesitas serta diabetes kemudian hari atau gangguan kesehatan lainnya.

c. Pengobatan Diabetes Gestasional

Strategi pengobatan bagi penderita diabetes gestasional meliputi pemeriksaan glukosa awal hingga lanjutan dengan pemantauan harian serta kondisi bayi dalam kandungan oleh dokter.

Kemudian melakukan tes toleransi glukosa oral. Ibu hamil harus puasa terlebih dulu sebelum pemeriksaan ini, yaitu 8-12 jam dan makan makanan cukup karbohidrat selama 3 hari.

Lalu dianjurkan terapi nutrisi medis atau diet sehat berdasarkan arahan dokter yang sudah disesuaikan dengan kondisi kehamilan dan olahraga khusus.

Setelah mengetahui penjelasan mengenai jenis diabetes di atas, terbukti bahwa istilah diabetes kering maupun diabetes basah tidak digunakan dalam dunia kesehatan.

Kalaupun merujuk pada luka diabetes yang sulit sembuh, itu merupakan gejala dari jenis diabetesnya. Bisa jadi karena gejala diabetes tipe 1, tipe 2, atau diabetes gestasional.

(avd/fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK