Henti jantung mendadak atau cardiac arrest merupakan salah satu kondisi medis yang mengancam nyawa. Teranyar, legenda sepak bola Diego Maradona mengembuskan napas terakhirnya setelah mengalami henti jantung. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya henti jantung.
Pada kasus cardiac arrest, jantung akan berhenti berdetak secara mendadak. Kondisi ini juga dikenal sebagai salah satu penyebab kematian mendadak.
Berbeda dengan serangan jantung yang dipicu oleh masalah pada sirkulasi darah, henti jantung disebabkan oleh gangguan pada impuls listrik jantung. Saat impuls berubah pola, detak jantung menjadi tak teratur atau yang dikenal sebagai aritmia, yang bisa berujung pada henti jantung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Institute of Medicine melaporkan bahwa setiap tahun, lebih dari setengah juta orang di Amerika Serikat mengalami henti jantung. Segera dapatkan pertolongan jika Anda atau orang terdekat mengalami henti jantung. Respons dan pengobatan yang cepat bisa menyelamatkan nyawa.
Kondisi jantung dan faktor kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko henti jantung. Berikut faktor risiko henti jantung yang perlu Anda ketahui, mengutip Healthline.
Jenis penyakit jantung ini dimulai di arteri koroner. Arteri koroner bertugas memasok otot jantung itu sendiri. Saat arteri tersumbat, jantung tak akan mendapatkan pasokan darah yang cukup. Jantung bisa berhenti bekerja.
Lihat juga:5 Makanan Pemicu Darah Tinggi |
Memiliki jantung yang lebih besar menempatkan seseorang pada risiko henti jantung. Pembengkakan membuat jantung tidak berdetak dengan normal. Otot jantung juga lebih rentan mengalami kerusakan.
Kondisi ini membuat katup jantung bocor atau menyempit. Artinya, darah yang mengalir melalui jantung bisa membebani ruang-ruang lain.
Beberapa orang terlahir dengan kerusakan jantung bawaan. Henti jantung mendadak dapat terjadi pada anak-anak yang lahir dengan masalah jantung bawaan yang serius.
Masalah pada listrik jantung menjadi salah satu faktor risiko utama henti jantung mendadak. Masalah ini dikenal juga sebagai kelainan irama jantung primer.
Selain lima daftar di atas, orang dengan kebiasaan dan kondisi berikut juga dapat meningkatkan risiko henti jantung:
- merokok
- gaya hidup sedentary atau minim bergerak
- tekanan darah tinggi
- obesitas
- riwayat penyakit jantung keluarga
- riwayat serangan jantung sebelumnya
- usia di atas 45 tahun untuk pria, di atas 55 tahun untuk perempuan
- pria
- penyalahgunaan zat
- kalium atau magnesium rendah
Hindari daftar faktor risiko di atas demi terhindar dari henti jantung mendadak yang mengancam nyawa.
(asr)