PETRI Dorong Peningkatan Edukasi Pengendalian AMR

Pfizer, CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 12:30 WIB
Disebut sebagai krisis kesehatan global yang terabaikan, saat ini AMR menjadi penyebab 700 ribu kematian di seluruh dunia tiap tahun. Ilustrasi antibiotik. (Foto: Istockphoto/ Richard Villalonundefined undefined)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia (PETRI), Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), bersama Pfizer Indonesia kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan pengertian tentang Antimicrobial Resistance (AMR) dan pengendaliannya.

AMR disebut merupakan krisis kesehatan global yang terabaikan, serta membutuhkan perhatian dan tindakan segera. Jika AMR masih ditangani dengan kebijakan saat ini, Ketua KPRA Harry Parathon mengatakan, pada 2030, diperkirakan penggunaan antibiotik akan meningkat 30 persen dengan potensi sampai 200 persen.

Padahal, saat ini setidaknya 700 ribu kematian disebabkan oleh penyakit yang resisten terhadap obat di seluruh dunia setiap tahun. Pada 2050, WHO memprediksi 10 juta orang kehilangan nyawa karena AMR.


"AMR merupakan permasalahan kesehatan global. Diperlukan kerja sama antar negara dan antar sektor dalam menangani AMR.Secara global, gerakan pengendalian AMR sudah meningkat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya partisipasi negara-negara lain dalam pelaksanaan program Global Antimicrobial Resistance Surveillance System (GLASS),"

"Hampir semua negara anggota WHO sudah melaporkan hasil aktivitas surveilans, termasuk upaya-upaya pengendalian AMR di negara masing-masing. Tetapi, prevalensi AMR - Multi Drug Resistant Organism (MDRO) masih tinggi. MDRO yang resisten terhadap high-end antibiotik juga meningkat," kata Harry dalam rilis tertulis.

Mengusung tema 'Bersama Menangani Antimicrobial Resistance Melalui Antibiotic Stewardship Program (ASP)' dan sub tema 'Tantangan Selama Pandemi Covid-19', PETRI, KPRA, dan Pfizer Indonesia sepakat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan tenaga kesehatan (nakes) tentang Antibiotic Stewardship Program. Hal ini juga seiring dengan WHO yang mengajak masyarakat, nakes dan pemerintah untuk ambil bagian mengurangi angka beban AMR dan menghentikan penyebaran infeksi akibat AMR.

Terlebih, penyalahgunaan antibiotik selama pandemi dapat menyebabkan peningkatan risiko angka penyebaran AMR, karena Covid-19 disebabkan oleh
virus, bukan bakteri. Dengan kata lain, Covid-19 tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik.

Harry mengungkapkan, penanganan AMR harus dilakukan secara kolektif oleh semua pihak. Selain itu, perlu kolaborasi dalam implementasi Antibiotic Stewardship Program (ASP) di Indonesia. Secara regional di kawasan Asia Pasifik, katanya, sudah dibentuk program kerjasama dalam menangani AMR, tetapi program One Health masih belum diterapkan.

Lebih lanjut, Harry menjelaskan tentang kondisi AMR dan pemakaian antibiotik di Indonesia. Pada 2019, prevalensi AMR dengan indikator E.Coli dan K.Pneumonia (ESBL+) dilaporkan masih tinggi, yaitu 60,4 persen.

"Selama masa pandemi Covid-19 ini, pasien yang terpapar dan mengalami ko-infeksi bakteri sebesar 3-12 persen (rata-rata 7 persen), sehingga penting bagi para tenaga kesehatan untuk benar-benar memastikan apakah pasien Covid-19 mengalami ko-infeksi bakteri. Selain itu, fasilitas laboratorium, pemeriksaan imaging dan pengetahuan dokter harus ditingkatkan, guna mendukung kebutuhan diagnosis, karena jika tidak ditingkatkan, pemakaian antibiotik dapat meningkat tajam," paparnya.

Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian disebut sebagai dua lembaga yang memiliki peran terbesar dalam implementasi ASP. Adapun 5 pokok strategis yang telah disepakati secara global adalah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap AMR, meningkatkan pengetahuan melalui surveilans dan riset, pencegahan dan pengendalian penyebaran infeksi, mengoptimalkan penggunaan antimikroba pada manusia dan hewan (ASP), dan investasi jangka panjang seperti mendukung inovasi terapi baru (vaksin dan antibiotik), penemuan rapid diagnostik, serta sistem tatalaksana infeksi.

Dalam pengimplementasiannya, Harry menyatakan bahwa ASP difokuskan pada penyetaraan tatalaksana dan persepsi seluruh tenaga kesehatan, serta masyarakat di Indonesia.

"Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) sudah dicanangkan sejak tahun 2015 dan buku panduan mengenai konsep ASP yang akan dilaksanakan telah dipersiapkan oleh Kemenkes. Selain itu, program pembenahan sarana diagnostik infeksi bakteri di rumah sakit (RS), serta peningkatan kerja sama internal para pihak RS yang berkepentingan juga sudah terlaksana dalam beberapa tahun terakhir," kata Harry.

Ia menambahkan, "Pada pelaksanaannya, implementasi ASP lebih condong ke arah prospective approach, di mana tim ASP di RS akan mendampingi langsung para dokter saat meresepkan antibiotik, sehingga pasien tidak menerima antibiotik yang salah (jenis, dosis, interval, rute dan durasi)."

(rea)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK