Candi Plaosan, Bukti Cinta dan Toleransi Satukan Perbedaan

CNN Indonesia | Senin, 21/12/2020 03:12 WIB
Selain Candi Prambanan, terdapat candi lain di Jawa Tengah yang juga menarik dan layak untuk dimasukkan daftar kunjungan, yakni Candi Plaosan. Sejumlah umat Buddha membawa tumpengan saat mengikuti Kirab Waisak dari Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (29/5). (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia --

Candi Prambanan bukan satu-satunya candi di Klaten, Jawa Tengah, yang menarik untuk dikunjungi. Masih ada candi lain yang tak kalah menarik, salah satunya adalah Candi Plaosan.

Sebagaimana dilansir Indonesia Kaya, Candi Plaosan dibangun oleh Raja Ke-enam Kerajaan Mataram Kuno, Rakai Pikatan untuk istrinya, Pramodawardhani. Pembangunan candi ini merupakan tanda cinta dari Rakai Pikatan.

Bukan hanya sebagai tanda cinta, Candi Plaosan juga bisa dianggap sebagai tanda toleransi beragama. Pasalnya Rakai Pikatan beragama Hindu, sementara Pramodawardhani beragama Buddha.


Sebagaimana dilansir Maioloo, Rakai Pikatan membuat Candi Plaosan sebagai tempat pemujaan pemeluk agama Budha. Kemudian pada desainnya terdapat sentuhan arsitektur Hindu.

Candi Plaosan yang terbagi menjadi dua bagian tersebut dibangun pada abad ke-9. Bagian pertama adalah Candi Plaosan Lor yang memiliki tinggi sekitar 21 meter dengan pintu masuk sebelah Barat.

Pada bagian tengah Candi Plaosan Lor terdapat halaman yang cukup luas dan sebuah pendopo. Pada tiga sisi pendopo tersebut terdapat altar.

Bagian kedua adalah Candi Plaosan Kidul yang memiliki tinggi dan bentuk serupa dengan Candi Plaosan Lor. Pada bagian tengah candi ini juga terdapat halaman.

Perbedaan terletak pada candi kecil yang berada di sekitar Candi Plaosan Kidul. Candi ini dikelilingi delapan candi kecil yang terbagi menjadi dua tingkat dengan empat candi kecil pada setiap tingkatnya.

Sejumlah ahli menilai Candi Plaosan memiliki bentuk yang berbeda bila dibandingkan candi lain pada masa yang sama. Teras candi ini lebih halus ketimbang candi-candi lain.

Hal itu membuat ahli beranggapan bahwa pada masanya Candi Plaosan digunakan sebagai penyimpanan naskah-naskah pendeta Budha. Namun, anggapan ini belum terbukti secara pasti.

Kini Candi Plaosan lebih dikenal dengan sebutan Candi Kembar oleh warga Klaten dan wisatawan. Nama itu disematkan lantaran terdapat dua candi yang terlihat serupa meski sebenarnya berbeda.

Candi Plaosan semakin terlihat cantik jika dilihat dari jauh, karena dikelilingi persawahan. Perpaduan bangunan candi yang tinggi dan persawahan yang hijau tampak memukau.

Salah satu kegiatan menarik yang bisa dilakukan saat mengunjungi Candi Plaosan adalah melihat matahari terbit atau terbenam. Terlebih, ketika siluet candi terbentuk karena sinar matahari.

Kegiatan lain yang tidak kalah menarik adalah memotret di kawasan candi yang cukup luas. Pemotretan Candi Plaosan bisa disesuaikan dengan momen matahari terbit atau terbenam.

Sejumlah Biksuni menyapa para wisatawan saat berada di kompleks Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (2/6). Warga memanfaatkan liburan hari raya Waisak 2015, dengan mengunjungi obyek wisata percandian peninggalan Buddha dari zaman Kerajaan Medang, yang dibangun pada abad ke-9. ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho/ed/nz/15Sejumlah Biksuni menyapa para wisatawan saat berada di kompleks Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (2/6). (Foto: ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho)
(adp/NMA)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK