Perubahan Iklim Disebut Meningkatkan Risiko Diabetes

tim, CNN Indonesia | Rabu, 07/04/2021 20:43 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam, Rudy Kurniawan mengatakan bahwa banyak penelitian yang menyebut hubungan antara perubahan iklim dan risiko diabetes. Ilustrasi. Dokter spesialis penyakit dalam, Rudy Kurniawan mengatakan bahwa banyak penelitian yang menyebut hubungan antara perubahan iklim dan risiko diabetes. (iStockphoto/Michail_Petrov-96)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perubahan iklim kerap dikaitkan dengan aktivitas sosial, ekonomi, bahkan politik. Namun, pernahkah Anda terpikir bahwa perubahan iklim juga dapat meningkatkan risiko diabetes?

Dokter spesialis penyakit dalam, Rudy Kurniawan mengatakan bahwa banyak penelitian yang menyebut hubungan antara perubahan iklim dan risiko diabetes.

Perubahan iklim (climate change) disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia. Urbanisasi, alih fungsi lahan hutan menjadi area perkebunan atau perumahan, serta penggunaan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan menjadi satu dari sekian banyak penyebab perubahan iklim.


Akibatnya, terjadi peningkatan gas rumah kaca di lapisan atmosfer bumi. Penebalan lapisan atmosfer menyebabkan pemanasan global yang kemudian akan berdampak pada perubahan masa panen. Jika masa panen berubah sehingga kestabilan pangan terganggu, maka orang cenderung memilih makanan instan yang biasanya kurang menyehatkan.

"Jadi ini secara tidak langsung (indirect), perubahan iklim mengganggu kestabilan pangan. Di beberapa daerah, iklim ini sangat berpengaruh pada waktu panen atau waktu produksi sumber pangan. Ketika berubah, orang cenderung akan memilih makanan instan," kata Rudy dalam webinar bersama Sobat Diabet, Selasa (6/4).

Padahal biasanya makanan instan mengandung terlalu banyak gula, garam, dan lemak. Ketiga zat ini tentunya tidak menyehatkan ketika dikonsumsi terus menerus.

Rudy juga menjelaskan secara tidak langsung, perubahan iklim menyebabkan sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat alat kesehatan akan berkurang. Terutama alat kesehatan untuk cek gula darah, dan pembuatan insulin yang amat diperlukan bagi pasien diabetes.

"Karena ekosistem terganggu, sumber daya untuk membuat alat kesehatan seperti untuk supply gula darah, dan insulin, juga terganggu," katanya.

Sebagaimana dilansir CNN, dalam jurnal yang diterbitkan oleh BMJ Open Diabetes Research & Care menjelaskan ketika terjadi kenaikan suhu bumi di Amerika Serikat pada tahun 1996-2009 prevalensi penderita diabetes ikut naik.

Kenaikan suhu lingkungan sebesar 1 derajat celcius dapat menyebabkan 100.000 kasus diabetes baru di AS dalam kurun waktu tersebut.

Meski demikian, penelitian ini hanya mengungkapkan hubungan antara iklim dan diabetes. Observasi lebih lanjut diperlukan untuk menemukan sebab-akibat perubahan iklim terhadap peningkatan kasus diabetes.

Rudy juga mengatakan, perubahan iklim dapat mengganggu kinerja pankreas dan meningkatkan gangguan neuropati.

Pernyataan itu didukung dengan studi yang dirilis US National Library of Medicine National Institute of Health pada 2020. Studi tersebut mengatakan, diabetes dan perubahan iklim memiliki keterkaitan. Peristiwa cuaca ekstrim dan peningkatan suhu dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien diabetes.

Orang yang hidup dengan diabetes lebih rentan terhadap dehidrasi dan mengalami gangguan jantung selama musim panas. Sehingga cuaca panas ekstrim bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan penderita diabetes.

Perubahan iklim juga diduga mengubah komposisi lemak dalam tubuh. Cuaca yang panas disebut bisa mengurangi lemak brown fat yang berfungsi untuk merangsang sensitivitas insulin.

Meski demikian, belum ada penelitian mendalam yang menjelaskan pengaruh sebab akibat perubahan iklim pada bagian tubuh manusia.

"Tapi memang belum ada detailnya mengapa perubahan iklim bisa berpengaruh pada komposisi tubuh, ini masih dalam tahap penelitian," tuturnya.

(mel/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK