TAJIL

Belajar Bersabar dan Melatih Diri Tidak Mudah Mengeluh

tim, CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 04:05 WIB
Para ulama mengajarkan kepada kita ilmu hidup itu hanya dua dalam menghadapi segala persoalan yang ada, yaitu syukur dan sabar. Para ulama mengajarkan kepada kita ilmu hidup itu hanya dua dalam menghadapi segala persoalan yang ada, yaitu syukur dan sabar. (iStockphoto/Enes Evren)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selama bulan Ramadan 2021, CNNIndonesia.com menghadirkan tanya jawab seputar Islam (Tajil). Kali ini, tanya jawab seputar Islam membahas tentang belajar bersabar.

Tanya

Bagaimana belajar bersabar dan tidak mudah mengeluh?


Jawab

Narasumber: Menteri Agama Indonesia 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin

Assalamualaikum Wr. Wb.

Orang bijak mengatakan, "Sesungguhnya hidup ini hanya berisi dua warna saja, kebahagiaan dan kesedihan."

Apapun yang kita alami hanya dua jenis ragam saja, sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan kita, dan satu hal lagi yang menyedihkan, menyusahkan serta mengecewakan kita.

Para ulama mengajarkan kepada kita ilmu hidup itu hanya dua dalam menghadapi segala persoalan yang ada, yaitu syukur dan sabar.

Ketika menghadapi hal-hal yang membahagiakan kita bersyukur, dan sebaliknya ketika menghadapi hal-hal yang menyusahkan, mengecewakan, maupun menyedihkan, kita harus bersabar.

Terkait dengan hal ini, maka Tuhan menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan. Ada pagi sore, ada siang malam, ada baik buruk, ada hitam putih dst.

Maka ketika kita merasakan sesuatu yang membahagiakan, kita tidak boleh larut berlebihan bergembira karena ada sisi yang lain yang bisa jadi menyusahkan dan menyedihkan untuk kita.

Pun sebaliknya, dalam kesedihan kita tak boleh larut bersedih karena ada sisi lain. Boleh jadi tidak kita lihat, tapi menggembirakan menjadi sesuatu yang positif.

Itulah mengapa ajaran Al-Qur'an, surat Al-Hujurat ayat 12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.

Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."

Itulah mengapa Islam mengajarkan kita untuk berbaik sangka, positive thinking. Jadi daripada kita melihat segala sesuatunya dari sudut yang negatif, mari kita mencoba melatih diri dari sisi positifnya.

Dalam salah satu hadis:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

"Saya tergantung pada bagaimana hamba-hambaku mempersepsikan diriku, memahami aku."

Jadi kalau Aku, kata Allah SWT, dipersepsi sebagai sesuatu yang menyiksa, memberi azab, murka, maka begitulah yang dirasakan hambaku.

Namun sebaliknya, jika Aku dipersepsikan sebagai yang menebarkan kasih sayang, mendamaikan, lemah lembut, mengampuni, maka begitulah aku pada hamba-hambaku.

Agar kita tetap bersabar dan melatih diri agar tidak mudah mengeluh, mari berprasangka baik dalam melihat segala fenomena yang ada.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

(agn/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK