Kritik Junta, Miss Myanmar Disebut Tak Bisa 'Pulang Kampung'

tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/05/2021 21:00 WIB
Miss Myanmar 2020 Thuzar Wint Lwin disebut tak bisa kembali pulang ke negaranya usai mengkritik junta lewat video dan kostumnya di Miss Universe. Miss Myanmar 2020 Thuzar Wint Lwin disebut tak bisa kembali pulang ke negaranya usai mengkritik junta lewat video dan kostumnya di Miss Universe. (via REUTERS/MISS UNIVERSE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Miss Myanmar 2020 Thuzar Wint Lwin disebut tak bisa kembali pulang ke negaranya. Dia disebut membuat marah junta militer usai memakai national costume di ajang Miss Universe 2020 dan menjadi pemenangnya.

Di kompetisi tersebut, Lwin memakai gaun yang disebut sebagai Fearless Empress yang dibuat di Amerika oleh para wanita Chin. Kostum yang sudah dipersiapkan sebelumnya hilang dalam perjalanan ke AS.

Dalam penampilannya saat itu, Lwin juga membawa spanduk bertuliskan Pray for Myanmar. Dia juga menulis situasi dan kondisi buruk negaranya dalam sebuah unggahan di Instagram.


Mengutip Yahoo, Lwin juga berbicara tentang krisis negaranya dalam rekaman video saat dia berhasil masuk ke posisi 21 besar Miss Universe.

Meski ajang kontes kecantikan dunia itu sudah usai dan menobatkan Miss Mexico sebagai Miss Universe 2020, aksi Lwin masih berbuntut panjang. Dalam sebuah laporan yang diunggah di media sosial namun belum bisa dikonfirmasi mengklaim bahwa Lwin dan rekan senegaranya yang mengikuti ajang kecantikan Miss Grand International 2020, Han Lay mendapat surat perintah penangkapan dari Junta karena dianggap menentang militer.

Mengutip MSN, nama Lwin ditambahkan ke dalam surat perintah penangkapan bersama selebriti lain yang kritis terhadap pemerintah.

Sama seperti Lwin, Lay juga banyak bicara tentang kondisi buruk negaranya. Dia meminta orang-orang untuk membantu Myanmar.

Berdasarkan PEP, Lwin saat ini tetap berada di Amerika usai Miss Universe, sedangkan Lay berada di bawah asuhan Miss Grand International Organization di Thailand sejak kompetisi berakhir.

Dewan Administrasi Negara Myanmar (SAC) mengumumkan pada bulan Februari bahwa siapa pun yang mempublikasikan komentar yang menentang junta militer dapat dikenai tanggung jawab pidana karena "menyebabkan ketakutan" dan untuk "berita palsu, [atau] secara langsung atau tidak langsung melakukan tindak pidana terhadap pegawai Pemerintah." Setiap warga negara yang melanggar Pasal 505 (a) dapat dipenjara selama tiga tahun, menurut Human Rights Watch.

Dengan semua yang terjadi di Myanmar dan kemungkinan penangkapan Lwin dan Lay oleh militer negara tersebut, warganet mendesak dunia untuk melindungi mereka dengan segala cara.

"Lindungi dia dengan segala cara," cuit salah satu akun Twitter bernama Dominique.

Seorang warganet bahkan memuji keberanian Miss Universe Myanmar untuk bicara soal krisis di negaranya. Akun bernama Fredo Bagg menyebut Lwin layak dapat suaka politik.

"Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyampaikan pesan itu. Mari kita bantu suaranya agar lebih didengar," tulis warganet lainnya, Spaghetti.

(chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK