Studi Temukan 'Fat-Shaming' Jadi Masalah Kesehatan Global

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 02/06/2021 12:36 WIB
'Fat-shaming' atau mempermalukan orang dengan kelebihan berat badan menjadi masalah kesehatan global. Perilaku ini justru memicu kenaikan berat badan. Ilustrasi. 'Fat-shaming' atau mempermalukan orang dengan kelebihan berat badan menjadi masalah kesehatan global. (iStockphoto/Zinkevych)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari setengah orang dewasa yang kelebihan berat badan mengaku pernah dipermalukan oleh dokter, keluarga, dan teman. 'Fat-shaming' semacam itu membuat mereka kerap menyalahkan diri sendiri dan tidak menjalani program penurunan berat badan sebagaimana mestinya.

Hal tersebut ditemukan dalam dua studi baru yang dipublikasikan pada Selasa (1/6). Studi menemukan bahwa di zaman kiwari, 'fat-shaming' atau mempermalukan orang dengan kelebihan berat badan menjadi masalah kesehatan global.

"Stigma terkait berat badan begitu umum dan bisa sangat merugikan. Stigma membuat seseorang ogah mencari perawatan yang tepat, sehingga menjadi masalah kesehatan yang tak terselesaikan," ujar penulis utama studi, Rebecca Puhl, melansir CNN.


Puhl sendiri telah mempelajari berbagai stigma yang muncul terkait berat badan selama hampir dua dekade. Dia menemukan prevalensi stigma terkait berat badan yang begitu tinggi.

"Pada dasarnya, masalah ini adalah tentang rasa hormat dan martabat serta perlakuan yang sama terhadap orang-orang dengan ukuran dan berat tubuh yang berbeda," ujar Puhl.

Studi pertama yang dipublikasikan dalam International Journal of Obesity menyurvei sekitar 14 ribu anggota Weight Watchers di enam negara seperti Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat,

Survei dilakukan pada Mei-Juli 2020. Para peserta ditanyai mengenai pengalaman mereka terkait stigma berat badan dan pengaruhnya terhadap harga diri serta kesediaan mereka untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Hasilnya, ditemukan bahwa anggota keluarga adalah kelompok yang paling merasa malu jika ada anggotanya yang mengalami kelebihan berat badan. Sebanyak 76-88 persen peserta mengaku pernah dihina akibat berat badan berlebih oleh orang tua, saudara kandung, atau anggota keluarga lainnya.

"Ketika kami mengajukan pertanyaan terbuka tentang pengalaman orang-orang tentang stigma berat badan dari anggota keluarga, sering kali itu [stigma muncul dalam] kritik yang keras, ejekan, dan olok-olok," jelas Puhl.

Olok-olok berkisar dari penyebutan istilah 'gemuk', 'paha besar', hingga mengatakan bahwa tak ada orang yang akan tertarik pada mereka karena kelebihan berat badan yang dialami. "Komentar ini benar-benar meremehkan dan memiliki dampak jangka panjang," kata Puhl.

Sekitar 22-30 persen peserta mengaku mengalami ejekan terkait berat badan pertama kali pada usia 10 tahun. Namun, stigma yang diberikan keluarga justru berlangsung awet seiring waktu berjalan hingga dewasa.

Olok-olok Teman Sebaya hingga Dokter

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK