SURAT DARI RANTAU

Merantau di Tengah 'Lockdown' Negeri Jiran

Ellysa Dwi Haerani, CNN Indonesia | Minggu, 01/08/2021 13:20 WIB
Merantau ke luar negeri selama pandemi Covid-19 tentu saja memberi pengalaman baru. Suasana kota Kuala Lumpur yang sepi pada 1 Juni 2021. (REUTERS/LIM HUEY TENG)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia --

Kepindahan saya ke Malaysia seharusnya berlangsung pada bulan Mei tahun 2020. Namun karena pandemi virus Corona sedang melanda dunia, akhirnya visa kerja saya baru bisa diproses setahun berikutnya. Jadi setelah satu tahun menunggu sembari mengurus dokumen, akhirnya saya bisa juga merasakan mengadu nasib di Negeri Jiran.

Di Malaysia saya bermukim di ibu kotanya, Kuala Lumpur. Ini bukan kali pertama saya ke sini, karena sebelumnya saya sempat beberapa kali datang sebagai turis.

Merantau ke luar negeri selama pandemi Covid-19 tentu saja memberi pengalaman baru. Selain harus membiasakan diri hidup dengan karakter penduduk asli dan aturan pemerintahnya, saya juga harus memahami aturan protokol kesehatan yang ditetapkan.


Malaysia terbilang tegas dalam hal protokol kesehatan, dan yang paling terasa ialah keberadaan petugas keamanan yang mengecek aktivitas orang di jalanan selama Movement Control Order (MCO/pembatasan pergerakan). Saya harus membawa dokumen perjalanan jika harus ke luar rumah, baik ke kantor atau saat ke supermarket.

Penduduk Malaysia mau tidak mau harus di rumah saja selama MCO. Pusat keramaian, seperti Bukit Bintang atau Jalan Alor yang biasanya ramai oleh pengunjung yang wisata kuliner, kini sepi karena makanan tidak boleh dinikmati di tempat.

Walau aktivitas penduduk sangat dibatasi, namun saya mengacungkan jempol kepada pemerintah Malaysia yang sangat berkomitmen dalam menekan angka penularan virus Corona di negaranya. Mal ditutup, kantor wajib memberlakukan bekerja dari rumah (work from home/wfh) sebanyak 80 persen dari pegawainya.

Tempat bisnis esensial, seperti supermarket dan apotek, hanya beroperasi hingga pukul 20.00. Sementara transportasi umum hanya sampai pukul 21.00.

Sama seperti Indonesia, Malaysia juga sedang gencar melakukan program vaksinasi. Hingga saat ini tercatat hampir setengah penduduk sudah selesai vaksin. Warga negara asing juga diberi kemudahan vaksin.

Pendaftaran vaksin dilakukan melalui aplikasi 'mysejahtera'. Tak hanya itu saja, aplikasi ini juga wajib dimiliki penduduk yang ingin bepergian, karena ada fitur pelacakan melalui barcode yang harus dipindai untuk masuk sebuah tempat atau naik angkutan umum.

Dalam aplikasi tersebut ada status resiko terpaparnya seseorang dengan virus Covid-19, baik low (rendah) atau high (tinggi). Status tersebut juga menentukan boleh atau tidaknya kita masuk ke sebuah tempat atau naik angkutan umum.

Kalau berbicara mengenai bedanya penanganan virus Corona antara Malaysia dan Indonesia, mungkin sistem ini yang belum efektif diterapkan di Tanah Air.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Merantau di Tengah 'Lockdown' Negeri Jiran

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK