Jakarta, CNN Indonesia -- One Piece, Naruto, Kimetsu no Yaiba, dan sederet anime Jepang lainnya sudah menjadi budaya milik Negara Matahari Terbit yang mendunia.
Namun tak hanya itu, Jepang pun mendunia dalam urusan makanan termasuk mi instan. Kenapa bisa?
Barangkali ini aneh, sebab umumnya orang mengenal sushi, okonomiyaki, takoyaki, sashimi sebagai menu makanan khas Jepang. Hanya saja, coba Anda berkunjung ke Yokohama dan mampir di Museum Cup Noodle, merek mi instan dalam gelas yang sangat populer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan mi gelas sembarangan sebab dalam mi gelas ini terlukis ciri orang Jepang dalam hal daya cipta, pengambilan risiko dan keterbukaan untuk beradaptasi dan menyerap pengaruh asing agar segera pulih dari kondisi keterpurukan.
Ide mi instan dalam gelas muncul dari seorang warga Jepang bernama Momofuku Ando, yang khawatir dengan kekurangan stok pangan pascaperang di Jepang.
Ando mendapat ide untuk mengubah kelebihan gandum Amerika menjadi ramen. Namun ramen harus bisa disiapkan hanya bermodal air panas dan siap disantap dalam hitungan menit.
Kala melihat tempura goreng istrinya, tercetus ide untuk menggoreng mi untuk mengeringkannya dengan cepat. Pada 1958, mi instan pertama Ando diluncurkan.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Mi Instan dalam Gelas, Kuliner 'Punk Rock' dari Jepang
Ilustrasi mi instan, warisan kuliner dari Jepang yang sarat dengan semangat
Baru pada 1971, merek Cup Noodles rilis. Ide ini muncul sebab Ando melihat konsumennya menyantap mi dengan menambahkan air sehingga diletakkan di gelas kertas.
Sepeninggal Ando, rupanya temuan-temuan 'ajaib' tidak berhenti.
Di Museum Cup Noodles, Anda wajib mengunjungi kafetaria di lantai empat dan menyicip es krip Cup Noodles.
Es krim dibuat dengan sup dalam bentuk serbuk dan topping mi seperti bawang, udang, potongan telur dan daging kering yang memang merupakan campuran mi yang sebenarnya.
Noriyuki Sato, salah satu pengunjung, menggambarkan rasa es krim ini asin dan manis.
"Saya tidak yakin apakah kata itu masuk akal bagi orang asing. Ini tidak manis dan juga tidak asin," ungkap Sato seperti dikutip dari AP.
Sementara itu, Kahara Suzuki, juru bicara Nissin Foods mengatakan es krim ini sebagai perwujudan "apa yang saya sebut sebagai semangat punk rock yang dimiliki banyak orang Jepang".
"Siapa yang pernah punya ide seperti ini? Maksud saya itu sangat unik. Anda bisa melihat semangat punk rock itu di setiap aspek kehidupan Jepang," ujarnya.