Berikut bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang sebagian besar merupakan benteng dan masih berdiri kokoh. (Foto Benteng Tolukko: iStockphoto/benito_anu)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah mencatat Portugis sebagai salah satu penjajah yang cukup lama berada di Indonesia. Keberadaannya di Tanah Air bahkan ada sebelum Belanda dan Jepang.
Hal tersebut dibuktikan dari bangunan peninggalan Portugis di Indonesia.
Unjuk gigi kekuasaan penjajah umumnya dibuktikan dengan warisan peninggalan dan warisan peninggalan bangsa Portugis yang paling kentara yakni berupa bangunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada masanya bangunan tersebut umumnya berupa benteng yang digunakan untuk menyimpan rempah-rempah, tempat tinggal, dan gudang alat pertahanan lengkap dengan meriam dan senjata di dalamnya.
Selain sebagai saksi bisu sejarah di Indonesia, bangunan dan benteng tersebut kini beralih fungsi menjadi tempat wisata. Berikut bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang masih berdiri kokoh.
1. Benteng Tolukko
Benteng Tolukko berada di Sangaji Utara, Ternate, Maluku. Pada masa lampau, hasil rempah di Ternate sangat melimpah dan hal ini menarik perhatian Portugis untuk merampas rempah-rempah tersebut.
Konon nama Tolukko diambil nama seorang penguasa di Kesultanan Ternate.
Pada awalnya benteng ini Bernama Benteng Hollandia yang dibangun oleh Fransisco Sereo pada tahun 1540. Fransisco Sereo sendiri merupakan seorang panglima perang Portugis.
Selain menyimpan rempah, benteng ini juga berfungsi sebagai pertahanan Portugis dari serangan penjajah lain.
Benteng Tolukko sempat mengalami kerusakan karena usia, dan diperbaiki tahun 1990-an oleh warga setempat.
Namun dalam perbaikan tidak banyak ciri bangunan asli yang bisa diselamatkan, salah satunya terowongan bawah tanah yang terhubung langsung ke laut.
2. Benteng Oranje
Benteng Oranje adalah bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang terletak di Ternate, Maluku Utara (Foto: iStockphoto/benito_anu)
Peninggalan Portugis berikutnya adalah Benteng Oranje. Berbeda dengan Benteng Tolukko yang berada di pesisir, Benteng Oranje terletak di tengah kota.
Benteng Oranje didirikan oleh seorang Belanda Bernama Cornelis Matclief De Jonge pada 26 Mei 1607.
Menurut catatan sejarah, Benteng Oranje didirikan sebagai pengganti Benteng Malayo yang dihancurkan Spanyol sekaligus wujud terima kasih Sultan Ternate karena telah membantu mengusir Spanyol.
Namun pada awalnya, Benteng Oranje merupakan peninggalan Portugis sebelum tersingkir dari Ternate.
Pada masa Portugis, benteng ini dihuni oleh orang-orang Melayu. Akan tetapi setelah dihancurkan oleh Spanyol, pemerintah Hindia Belanda melakukan pemugaran kembali untuk dijadikan pusat pemerintahan.
Benteng Oranje masih eksis berdiri hingga saat ini dan menjadi tempat wisata bagi masyarakat sekitar dan wisatawan.
Pemerintah setempat terus melakukan revitalisasi Benteng Oranje karena memiliki nilai sejarah dan memiliki kelayakan menjadi sebuah situs sejarah.
Bangunan peninggalan Portugis di Indonesia lainnya berlanjut di halaman kedua...
3. Benteng Kalamata
Dari benteng-benteng lain peninggalan Portugis, Benteng Kalamata memiliki pemandangan paling indah.
Benteng ini berada di ujung pulau yang menghadap langsung ke Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Benteng Kalamata terletak di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan.
Portugis mendirikan benteng ini pada tahun 1540 dengan nama awal Benteng Santa Lucia sedangkan nama benteng saat ini diambil dari salah satu nama Sultan Ternate. Benteng Kalamata digunakan Portugis sebagai benteng pertahanan.
Dalam catatan sejarah disebutkan, Fransisco Sereo adalah orang yang mendirikan benteng ini.
Saat itu, Portugis bersaing ketat dengan Spanyol dalam perebutan kekuasaan dan monopoli perdagangan rempah sehingga perlu mendirikan benteng sebagai pertahanan.
Selain berkuasa di Ternate, Portugis juga menancapkan pengaruhnya di Tanah Minahasa. Peninggalan paling populer dan terkenal Portugis di Minahasa adalah Penjara Tua Kema.
Penjara tua ini berada di Desa Kema, Minahasa Utara, dekat dengan laut.
Saat ini lokasi penjara berada di permukiman penduduk. Melansir laman Kemdikbuduntuk mencapai Penjara Tua kema Anda harus menyusuri gang sempit di antara perumahan penduduk.
Pada masa lampau, daerah Kema merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal Portugis untuk mencari rempah.
Bentuk Penjara Tua Kema hampir menyerupai bentuk sebuah rumah. Terdapat 3 bilik tahanan dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan beragam.
Portugis mendirikan penjara ini untuk menahan siapa saja yang melawan bangsa Portugis dalam monopoli perdagangan rempah-rempah.
5. Gereja Tugu
Gereja Tugu merupakan salah satu gereja tertua peninggalan Portugis di Jakarta (Foto: Detikcom/Johanes Randy)
Lokasi peninggalan terakhir dari Portugis ada di Pulau Jawa tepatnya terletak di Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Gereja Tugu diklaim menjadi salah satu gereja tertua yang ada di Jakarta. Gereja Tugu sendiri didirikan oleh Pendeta Melchior Leydecker.
Seiring berjalannya waktu, Gereja Tugu pertama mengalami kerusakan sehingga dibangun Gereja Tugu kedua tahun 1738. Peninggalan yang tersisa dari Gereja Tugu pertama adalah lonceng gereja yang kini disimpan oleh gereja.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah mencatat Portugis sebagai salah satu penjajah yang cukup lama berada di Indonesia. Keberadaannya di Tanah Air bahkan ada sebelum Belanda dan Jepang.
Hal tersebut dibuktikan dari bangunan peninggalan Portugis di Indonesia.
Unjuk gigi kekuasaan penjajah umumnya dibuktikan dengan warisan peninggalan dan warisan peninggalan bangsa Portugis yang paling kentara yakni berupa bangunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada masanya bangunan tersebut umumnya berupa benteng yang digunakan untuk menyimpan rempah-rempah, tempat tinggal, dan gudang alat pertahanan lengkap dengan meriam dan senjata di dalamnya.
Selain sebagai saksi bisu sejarah di Indonesia, bangunan dan benteng tersebut kini beralih fungsi menjadi tempat wisata. Berikut bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang masih berdiri kokoh.
1. Benteng Tolukko
Benteng Tolukko berada di Sangaji Utara, Ternate, Maluku. Pada masa lampau, hasil rempah di Ternate sangat melimpah dan hal ini menarik perhatian Portugis untuk merampas rempah-rempah tersebut.
Konon nama Tolukko diambil nama seorang penguasa di Kesultanan Ternate.
Pada awalnya benteng ini Bernama Benteng Hollandia yang dibangun oleh Fransisco Sereo pada tahun 1540. Fransisco Sereo sendiri merupakan seorang panglima perang Portugis.
Selain menyimpan rempah, benteng ini juga berfungsi sebagai pertahanan Portugis dari serangan penjajah lain.
Benteng Tolukko sempat mengalami kerusakan karena usia, dan diperbaiki tahun 1990-an oleh warga setempat.
Namun dalam perbaikan tidak banyak ciri bangunan asli yang bisa diselamatkan, salah satunya terowongan bawah tanah yang terhubung langsung ke laut.
2. Benteng Oranje
Benteng Oranje adalah bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang terletak di Ternate, Maluku Utara (Foto: iStockphoto/benito_anu)
Peninggalan Portugis berikutnya adalah Benteng Oranje. Berbeda dengan Benteng Tolukko yang berada di pesisir, Benteng Oranje terletak di tengah kota.
Benteng Oranje didirikan oleh seorang Belanda Bernama Cornelis Matclief De Jonge pada 26 Mei 1607.
Menurut catatan sejarah, Benteng Oranje didirikan sebagai pengganti Benteng Malayo yang dihancurkan Spanyol sekaligus wujud terima kasih Sultan Ternate karena telah membantu mengusir Spanyol.
Namun pada awalnya, Benteng Oranje merupakan peninggalan Portugis sebelum tersingkir dari Ternate.
Pada masa Portugis, benteng ini dihuni oleh orang-orang Melayu. Akan tetapi setelah dihancurkan oleh Spanyol, pemerintah Hindia Belanda melakukan pemugaran kembali untuk dijadikan pusat pemerintahan.
Benteng Oranje masih eksis berdiri hingga saat ini dan menjadi tempat wisata bagi masyarakat sekitar dan wisatawan.
Pemerintah setempat terus melakukan revitalisasi Benteng Oranje karena memiliki nilai sejarah dan memiliki kelayakan menjadi sebuah situs sejarah.
Bangunan peninggalan Portugis di Indonesia lainnya berlanjut di halaman kedua...
Bangunan Peninggalan Portugis di Indonesia
Bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang sebagian besar merupakan benteng dan masih berdiri kokoh. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
3. Benteng Kalamata
Dari benteng-benteng lain peninggalan Portugis, Benteng Kalamata memiliki pemandangan paling indah.
Benteng ini berada di ujung pulau yang menghadap langsung ke Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Benteng Kalamata terletak di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan.
Portugis mendirikan benteng ini pada tahun 1540 dengan nama awal Benteng Santa Lucia sedangkan nama benteng saat ini diambil dari salah satu nama Sultan Ternate. Benteng Kalamata digunakan Portugis sebagai benteng pertahanan.
Dalam catatan sejarah disebutkan, Fransisco Sereo adalah orang yang mendirikan benteng ini.
Saat itu, Portugis bersaing ketat dengan Spanyol dalam perebutan kekuasaan dan monopoli perdagangan rempah sehingga perlu mendirikan benteng sebagai pertahanan.
Selain berkuasa di Ternate, Portugis juga menancapkan pengaruhnya di Tanah Minahasa. Peninggalan paling populer dan terkenal Portugis di Minahasa adalah Penjara Tua Kema.
Penjara tua ini berada di Desa Kema, Minahasa Utara, dekat dengan laut.
Saat ini lokasi penjara berada di permukiman penduduk. Melansir laman Kemdikbuduntuk mencapai Penjara Tua kema Anda harus menyusuri gang sempit di antara perumahan penduduk.
Pada masa lampau, daerah Kema merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal Portugis untuk mencari rempah.
Bentuk Penjara Tua Kema hampir menyerupai bentuk sebuah rumah. Terdapat 3 bilik tahanan dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan beragam.
Portugis mendirikan penjara ini untuk menahan siapa saja yang melawan bangsa Portugis dalam monopoli perdagangan rempah-rempah.
5. Gereja Tugu
Gereja Tugu merupakan salah satu gereja tertua peninggalan Portugis di Jakarta (Foto: Detikcom/Johanes Randy)
Lokasi peninggalan terakhir dari Portugis ada di Pulau Jawa tepatnya terletak di Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Gereja Tugu diklaim menjadi salah satu gereja tertua yang ada di Jakarta. Gereja Tugu sendiri didirikan oleh Pendeta Melchior Leydecker.
Seiring berjalannya waktu, Gereja Tugu pertama mengalami kerusakan sehingga dibangun Gereja Tugu kedua tahun 1738. Peninggalan yang tersisa dari Gereja Tugu pertama adalah lonceng gereja yang kini disimpan oleh gereja.