Mengenal Burnout: Gejala, Pencegahan, dan Cara Mengatasinya
CNN Indonesia
Minggu, 22 Agu 2021 10:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kenali apa itu burnout, gejala burnout, cara mencegah burnout, dan cara mengatasi burnout.(Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Work from home (WFH), pekerjaan yang menumpuk, lelah yang berkepanjangan, emosi yang tak stabil merupakan tanda-tanda burnoutyang makin sering terjadi di masa pandemi Covid-19.
Setiap orang dapat mengalami burnout jika tak dapat mengelola stres dengan baik. Jika terus dibiarkan, burnout dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan merusak kesehatan mental.
Apa itu Burnout?
Psikolog Industri Organisasi, Kiky Dwi Saraswati menjelaskan burnout merupakan kondisi psikologis yang terjadi ketika penderitanya terpapar stres berkepanjangan lantaran pola kerja yang buruk dan tidak sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang rentan mengalami burnout adalah karyawan dengan pekerjaan yang stressful, baik dari segi beban kerja, tekanan, dan lingkungan kerja," kata Kiky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (19/8).
Sementara itu, mengutip Aafp, burnout berasal dari gangguan metabolisme energi. Burnout dapat dianalogikan seperti baterai. Seseorang yang mengalami burnout layaknya kehabisan baterai. Burnout membuat seseorang tak bersemangat dan lelah berkepanjangan.
Umumnya, perasaan lelah akan diikuti dengan hilangnya empati. Anda cenderung akan 'nyablak' dan 'ceplas-ceplos' lantaran tak lagi peduli dengan perasaan orang lain.
"Sinisme. Bersikap 'julid' tanpa memedulikan apakah orang lain sakit hati dengan ucapan dan perbuatannya atau tidak," kata Kiky.
Simak gejala burnout, cara mencegah burnout, dan cara mengatasi burnout di halaman berikut.
3. Merasa gagal
Setelah bersikap sinis, Anda mulai kehilangan kontrol diri sendiri. Perasaan kesepian dan merasa gagal akan muncul.
Muncul perasaan bahwa diri selalu gagal bahkan dalam hidup tak pernah melakukan sesuatu yang benar-benar bermakna.
4. Aspek kognitif menurun
Aspek kognitif saat burnout juga ikut terganggu. Seseorang yang burnout akan mudah kehilangan fokus, pikiran melayang-layang, dan pekerjaan tak kunjung selesai.
Dalam satu kondisi Anda juga mungkin akan mengalami pusing, tak berselera atau selera makan tinggi, hingga mual dan muntah.
"Raut wajah terlihat lelah atau kusut, tubuh merasa lelah atau pegal-pegal. Gejala psikosomatis akibat stres seperti kepala pusing, perut mual, maag, dan lain-lain," kata dia.
Menurut Kiky, level atau tingkatan burnout pada setiap orang bermacam-macam tergantung kondisi dan situasi seseorang.
Tak perlu khawatir saat burnout melanda. Segera lakukan langkah-langkah untuk mengatasi burnout. Berikut cara mengatasi burnout:
Mengatasi sumber stres
Mengelola stres dengan baik
Melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti hobi
Meditasi
Berolahraga
Jika burnout terus berlanjut segera berkonsultasi dengan ahli seperti psikolog.
Itulah pengertian burnout, gejala burnout, cara mencegah burnout, dan cara mengatasi burnout.
Jakarta, CNN Indonesia --
Work from home (WFH), pekerjaan yang menumpuk, lelah yang berkepanjangan, emosi yang tak stabil merupakan tanda-tanda burnoutyang makin sering terjadi di masa pandemi Covid-19.
Setiap orang dapat mengalami burnout jika tak dapat mengelola stres dengan baik. Jika terus dibiarkan, burnout dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan merusak kesehatan mental.
Apa itu Burnout?
Psikolog Industri Organisasi, Kiky Dwi Saraswati menjelaskan burnout merupakan kondisi psikologis yang terjadi ketika penderitanya terpapar stres berkepanjangan lantaran pola kerja yang buruk dan tidak sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang rentan mengalami burnout adalah karyawan dengan pekerjaan yang stressful, baik dari segi beban kerja, tekanan, dan lingkungan kerja," kata Kiky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (19/8).
Sementara itu, mengutip Aafp, burnout berasal dari gangguan metabolisme energi. Burnout dapat dianalogikan seperti baterai. Seseorang yang mengalami burnout layaknya kehabisan baterai. Burnout membuat seseorang tak bersemangat dan lelah berkepanjangan.
Umumnya, perasaan lelah akan diikuti dengan hilangnya empati. Anda cenderung akan 'nyablak' dan 'ceplas-ceplos' lantaran tak lagi peduli dengan perasaan orang lain.
"Sinisme. Bersikap 'julid' tanpa memedulikan apakah orang lain sakit hati dengan ucapan dan perbuatannya atau tidak," kata Kiky.
Simak gejala burnout, cara mencegah burnout, dan cara mengatasi burnout di halaman berikut.
Mengenal Burnout: Gejala, Pencegahan, dan Cara Mengatasinya
Gejala burnout meliputi rasa lelah, rasa gagal, kognitif menurun, pusing, hingga mual dan muntah.(Foto: iStockphoto)
3. Merasa gagal
Setelah bersikap sinis, Anda mulai kehilangan kontrol diri sendiri. Perasaan kesepian dan merasa gagal akan muncul.
Muncul perasaan bahwa diri selalu gagal bahkan dalam hidup tak pernah melakukan sesuatu yang benar-benar bermakna.
4. Aspek kognitif menurun
Aspek kognitif saat burnout juga ikut terganggu. Seseorang yang burnout akan mudah kehilangan fokus, pikiran melayang-layang, dan pekerjaan tak kunjung selesai.
Dalam satu kondisi Anda juga mungkin akan mengalami pusing, tak berselera atau selera makan tinggi, hingga mual dan muntah.
"Raut wajah terlihat lelah atau kusut, tubuh merasa lelah atau pegal-pegal. Gejala psikosomatis akibat stres seperti kepala pusing, perut mual, maag, dan lain-lain," kata dia.
Menurut Kiky, level atau tingkatan burnout pada setiap orang bermacam-macam tergantung kondisi dan situasi seseorang.