Stres Berat Picu Risiko Terkena Stroke Menurut Studi

CNN Indonesia | Rabu, 15/09/2021 20:28 WIB
Sebuah studi mengatakan bahwa stres berat dan berkepanjangan dapat memicu risiko sejumlah penyakit, termasuk hipertensi hingga terkena stroke. Sebuah studi mengatakan bahwa stres berat dan berkepanjangan dapat memicu risiko sejumlah penyakit, termasuk hipertensi hingga terkena stroke. (iStockphoto/Getty Images/RyanKing999)
Jakarta, CNN Indonesia --

Stres berat dan berkepanjangan dapat memicu risiko sejumlah penyakit, termasuk tekanan darah tinggi atau hipertensi hingga terkena stroke.

Sebuah studi dalam jurnal American Heart Association (AHA) menyebutkan, ketika hormon stres kortisol terus meningkat, risiko mengalami stroke, serangan jantung, dan penyakit jantung lainnya lebih tinggi daripada mereka yang tidak mengalami stres.

Ahli Jantung dan Profesor Kedokteran Baylor College of Medicine di Houston yang mewakili AHA, Glenn Levine mengatakan, penelitian itu menunjukkan hubungan antara pikiran dan kesehatan jantung.


"Stres, depresi, frustasi, kemarahan, dan pandangan negatif tentang hidup tidak hanya membuat kita tak bahagia, tetapi berdampak juga pada kesehatan dan umur panjang," kata Levine, seperti dikutip CNN.

Dari data yang diterbitkan melalui penelitian itu, Levine mengungkapkan bahwa kesehatan psikologis negatif seperti stres berkaitan erat dengan risiko terkena penyakit kardiovaskular.

Analisis terkait stres ini juga dilihat melalui tes urine, dengan mengukur kadar hormon stres yang terkandung di dalamnya. Studi ini turut menguji tiga hormon yakni norepinefrin, epinefrin, dan dopamin.

Ketiga hormon ini ada untuk mengatur sistem saraf otonom dan mengontrol fungsi tubuh yang tidak disengaja seperti detak jantung, tekanan darah dan pernapasan.

Saat mengalami stres, hormon kortisol akan mengalami peningkatan dan memacu ketiga hormon ini untuk bergerak lebih ekstrim.

Ubah pola pikir

Meski tidak bisa memeriksa kadar hormon penyebab stres melalui tes urine, menurut Levine setiap orang tetap bisa mengelola stres yang terjadi pada dirinya. Terutama dengan sering melakukan refleksi diri.

Menjaga hati dan pikiran sangat disarankan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terkena darah tinggi. Menurutnya, ini juga baik diimbangi dengan pikiran dan pandangan positif semasa hidup.

"Jika menyadari diri cenderung sering stres, frustrasi atau marah, maka akan sangat membantu untuk merenungkan apa sebenarnya hal yang membuat kita stres," kata Levine.

Pakar manajemen stres, Cynthia Ackrill mengatakan setiap orang berhak mengubah situasi stres yang tengah dialami. Dengan menyadari lebih dini maka stres tak akan menjadi racun yang berbahaya untuk tubuh.

"Kita tidak boleh mengabaikan kemampuan kita untuk berperan dalam kesejahteraan kita," ujar Ackrill.

(tst/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK