Bertemu Geng Kera di Desa Cikakak, 'Monkey Forest' Banyumas

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 11:50 WIB
Jika Bali punya Desa Sangeh yang mendapat sebutan sebagai Monkey Forest, maka di Jawa Tengah ada kawasan serupa, di Desa Cikakak, Banyumas. Jika Bali punya Desa Sangeh yang mendapat sebutan sebagai Monkey Forest, maka di Jawa Tengah ada kawasan serupa, di Desa Cikakak, Banyumas. (AP/Firdia Lisnawati)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jika Bali punya Desa Sangeh yang mendapat sebutan sebagai Monkey Forest (Hutan Monyet), maka di Jawa Tengah ada kawasan serupa, yakni Desa Cikakak di Banyumas.

Desa Cikakak sendiri memang terkenal dengan ribuan habitat kera ekor panjang yang hidup berdampingan dengan warga di area hutan di sekitar pemukiman warga.

Yang unik, di sana juga terdapat ritual Rewanda Bojana (pemanggilan kera) di mana para kera itu turun untuk mengambil sajian yang ada di Gunungan Buah.


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menginginkan Desa Wisata Cikakak mampu naik kelas dan mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman).

"Keberpihakan kita dengan program andalan desa wisata untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat, terbukanya lapangan kerja, dan transformasi Desa Wisata Cikakak menjadi destinasi berkelas nasional, internasional, mungkin juga destinasi berkelas dunia," kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam rangkaian visitasi 50 besar desa wisata terbaik ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 Desa Wisata Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Rabu (13/10).

Kehadiran Menparekaf di desa yang dapat ditempuh dari Kota Purwokerto selama 60 menit itu, juga memberikan beberapa program ekonomi kreatif yang nantinya dapat dikerjasamakan dengan warga.

Kunjunga Menparekraf Sandiaga Uno ke Desa Wisata Cikakak, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (13/10/2021). (Dok. Kemenparekraf)Kunjungan Menparekraf Sandiaga Uno ke Desa Wisata Cikakak, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (13/10/2021). (Dok. Kemenparekraf)


Selain kawanan kera, Desa Cikakak juga punya potensi wisata sejarah dan religi, salah satunya dengan keberadaan Masjid Saka Tunggal yang konon dibangun pada tahun 1288.

"Ini tentu akan kita riset lagi kalau betul (dibangun) 1288, ini berarti lebih tua dari Masjid Demak. Ini berarti juga menjadi destinasi wisata religi," kata Sandiaga.

Terkait batik, dia mengharapkan motif batik "Ngapak Cikakak" bisa jauh lebih dikenal serta menjadi suvenir untuk membuka lapangan usaha dan lapangan kerja bagi ibu-ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) maupun Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Sementara itu, Bupati Banyumas Achmad Husein mengharapkan Desa Wisata Cikakak yang masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia bisa menjadi juara dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

"Desa Cikakak harus nomor satu. Kalau tidak nomor satu, bukanlah Cikakak," katanya.

Kepala Desa Cikakak Akim mengatakan pihaknya sudah cukup lama mempersiapkan Desa Wisata Cikakak untuk mengikuti ADWI 2021.

Beberapa hal yang dipersiapkan terutama berkaitan dengan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability).

"Alhamdulillah sejak penjaringan pertama, dari 1.831 desa menjadi 300 desa, terus menjadi 100 desa, kemudian menjadi 50 besar dan Cikakak termasuk di dalamnya," ujarnya.



[Gambas:Video CNN]



(ard/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK