Kenali Bahaya Paksa Calistung pada Anak, Trauma hingga Depresi
CNN Indonesia
Minggu, 21 Nov 2021 10:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Memaksa anak bisa baca, tulis, hitung (calistung) sejak dini dapat berdampak pada masalah kesehatan mental dan fisik mereka. Berikut penjelasan psikolog. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak sedikit orang tua berpikir bahwa kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung) sejak dini merupakan prestasi membanggakan dan jadi tolok ukur keberhasilan dalam mendidik anak.
Karena pemikiran tersebut, akhirnya banyak anak di bawah tiga tahun atau batita yang dipaksa orang tua untuk bisa calistung. Padahal, memaksakan kemampuan tersebut justru cukup berbahaya bagi mental anak.
Apa bahaya paksa anak bisa calistung sejak usia di bawah tiga tahun untuk kesehatan mental dan fisik anak?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan. Kurniawan Satria Denta mengatakan, hal utama yang bisa dirasakan anak di bawah usia tiga tahun saat dipaksa belajar calistung adalah merasa bingung. Belajar memang tidak salah, tapi harus sesuai dengan pencapaian kognitif, keinginan, serta kesiapan diri anak.
"Orang tua seharusnya bisa membuat support system untuk lingkungan belajar," kata Denta saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (17/11).
Memang tidak salah ingin anak belajar atau bisa calistung sejak dini. Namun Denta mengingatkan bahwa sebaiknya tidak ada paksaan dalam proses tersebut.
Berikut beberapa dampak yang bisa dialami anak jika orang tua memaksakan belajar calistung sejak usia dini atau batita.
1. Trauma
Memaksakan anak belajar calistung sejak masa batita bisa membuat anak trauma. Menurut Denta, trauma yang dialami anak ini bisa menjadi benih permasalahan psikologis yang tumbuh seiring berjalannya waktu hingga merusak masa depan anak.
"Ekspektasi tidak apa-apa, tapi kalau nge-push anak nanti bikin trauma," katanya.
2. Depresi
Depresi saat anak beranjak dewasa bisa terjadi karena sejak usia batita sudah dipaksa belajar calistung. Depresi ini tak ada hubungannya dengan kemampuan calistung itu sendiri, melainkan proses belajar yang disertai dengan tekanan dan paksaan.
"Depresinya pas dewasa akibat tekanan, dorongan atau paksaan dari orang tua biar anak selalu mencapai sesuatu. Itu jadi stressor buat anak, terakumulasi sampai dewasa, dewasa jadi minder, jadi insecure, stres, gampang depresi, gampang ke-trigger," papar Denta.
3. Malas belajar
Psikolog anak, Alzena Masykouri menambahkan bahwa anak batita sudah bisa merasa proses belajar yang diterapkan orang tuanya mengerikan dan tidak menyenangkan. Hal ini bisa terjadi karena anak memang belum siap dan belum sanggup, tapi sudah dipaksa melakukannya.
Akibatnya, alih-alih bisa menyerap apa yang diajari, anak justru jadi malas belajar.
"Karena pengalaman yang tidak menyenangkan. Dipaksa, jadi keharusan bukan atas kesiapan, kemauan, dan kesanggupan sendiri tentu akan menjadi beban pada manusia, mau berapa pun usianya," kata Alzena.
Lalu, bagaimana cara yang baik mendidik anak baca, tulis, dan hitung (calistung) sejak dini? Simak penjelasannya di halaman berikut.
Perasaan frustasi tak hanya dialami orang dewasa. Alzena mengungkapkan bahwa anak yang dipaksa belajar bisa merasakan frustasi dan rasa tak berdaya atas emosi yang mereka rasakan.
Stres yang dialami anak memang wajar, dan mereka memang seharusnya merasakan berbagai emosi, termasuk stres dan marah saat proses tumbuh dan berkembang.
Meski demikian, orang tua juga harus bisa melatih anak bagaimana mengelola emosi. Ini menjadi bagian pembelajaran hidup, bagian dari perkembangannya.
Memaksa anak belajar calistung sejak batita tentu bukan hal yang direkomendasikan.
Sesuatu yang dipaksa, termasuk belajar, tidak baik. Pasalnya, tekanan yang dialami anak sejak dini bisa sangat berbahaya untuk perkembangan mereka di masa depan.
"Pemaksaan biasanya terjadi satu arah, tanpa memerhatikan kesediaan, kesiapan, dan kesanggupan pihak lainnya. Akibatnya, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan," katanya.
Belajar, lanjut Alzena, adalah fitrah manusia, mulai dari bayi baru lahir sampai menutup mata sejatinya manusia akan terus belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, kemudian menjadi terampil.
Misalnya, bayi belajar tengkurap, bayi belajar berjalan, semua belajar dan memang harus belajar. Namun semua harus sesuai porsinya masing-masing.
"Kalau bayi umur satu bulan dipaksa belajar jalan, ya tidak akan bisa karena belum siap, belum sanggup. Jadi ada milestone nya, kapan kebanyakan manusia siap dan sanggup. Ada yang lebih cepat, ada yang lambat. Tak mengapa, asal siap, asal sanggup," ujar Alzena.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak sedikit orang tua berpikir bahwa kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung) sejak dini merupakan prestasi membanggakan dan jadi tolok ukur keberhasilan dalam mendidik anak.
Karena pemikiran tersebut, akhirnya banyak anak di bawah tiga tahun atau batita yang dipaksa orang tua untuk bisa calistung. Padahal, memaksakan kemampuan tersebut justru cukup berbahaya bagi mental anak.
Apa bahaya paksa anak bisa calistung sejak usia di bawah tiga tahun untuk kesehatan mental dan fisik anak?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan. Kurniawan Satria Denta mengatakan, hal utama yang bisa dirasakan anak di bawah usia tiga tahun saat dipaksa belajar calistung adalah merasa bingung. Belajar memang tidak salah, tapi harus sesuai dengan pencapaian kognitif, keinginan, serta kesiapan diri anak.
"Orang tua seharusnya bisa membuat support system untuk lingkungan belajar," kata Denta saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (17/11).
Memang tidak salah ingin anak belajar atau bisa calistung sejak dini. Namun Denta mengingatkan bahwa sebaiknya tidak ada paksaan dalam proses tersebut.
Berikut beberapa dampak yang bisa dialami anak jika orang tua memaksakan belajar calistung sejak usia dini atau batita.
1. Trauma
Memaksakan anak belajar calistung sejak masa batita bisa membuat anak trauma. Menurut Denta, trauma yang dialami anak ini bisa menjadi benih permasalahan psikologis yang tumbuh seiring berjalannya waktu hingga merusak masa depan anak.
"Ekspektasi tidak apa-apa, tapi kalau nge-push anak nanti bikin trauma," katanya.
2. Depresi
Depresi saat anak beranjak dewasa bisa terjadi karena sejak usia batita sudah dipaksa belajar calistung. Depresi ini tak ada hubungannya dengan kemampuan calistung itu sendiri, melainkan proses belajar yang disertai dengan tekanan dan paksaan.
"Depresinya pas dewasa akibat tekanan, dorongan atau paksaan dari orang tua biar anak selalu mencapai sesuatu. Itu jadi stressor buat anak, terakumulasi sampai dewasa, dewasa jadi minder, jadi insecure, stres, gampang depresi, gampang ke-trigger," papar Denta.
3. Malas belajar
Psikolog anak, Alzena Masykouri menambahkan bahwa anak batita sudah bisa merasa proses belajar yang diterapkan orang tuanya mengerikan dan tidak menyenangkan. Hal ini bisa terjadi karena anak memang belum siap dan belum sanggup, tapi sudah dipaksa melakukannya.
Akibatnya, alih-alih bisa menyerap apa yang diajari, anak justru jadi malas belajar.
"Karena pengalaman yang tidak menyenangkan. Dipaksa, jadi keharusan bukan atas kesiapan, kemauan, dan kesanggupan sendiri tentu akan menjadi beban pada manusia, mau berapa pun usianya," kata Alzena.
Lalu, bagaimana cara yang baik mendidik anak baca, tulis, dan hitung (calistung) sejak dini? Simak penjelasannya di halaman berikut.
Tidak apa terlambat, asal siap
Memaksa anak bisa baca, tulis, hitung (calistung) sejak dini dapat berdampak pada masalah kesehatan mental dan fisik mereka. Berikut penjelasan psikolog. (Pixabay/blueMix)
Perasaan frustasi tak hanya dialami orang dewasa. Alzena mengungkapkan bahwa anak yang dipaksa belajar bisa merasakan frustasi dan rasa tak berdaya atas emosi yang mereka rasakan.
Stres yang dialami anak memang wajar, dan mereka memang seharusnya merasakan berbagai emosi, termasuk stres dan marah saat proses tumbuh dan berkembang.
Meski demikian, orang tua juga harus bisa melatih anak bagaimana mengelola emosi. Ini menjadi bagian pembelajaran hidup, bagian dari perkembangannya.
Memaksa anak belajar calistung sejak batita tentu bukan hal yang direkomendasikan.
Sesuatu yang dipaksa, termasuk belajar, tidak baik. Pasalnya, tekanan yang dialami anak sejak dini bisa sangat berbahaya untuk perkembangan mereka di masa depan.
"Pemaksaan biasanya terjadi satu arah, tanpa memerhatikan kesediaan, kesiapan, dan kesanggupan pihak lainnya. Akibatnya, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan," katanya.
Belajar, lanjut Alzena, adalah fitrah manusia, mulai dari bayi baru lahir sampai menutup mata sejatinya manusia akan terus belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, kemudian menjadi terampil.
Misalnya, bayi belajar tengkurap, bayi belajar berjalan, semua belajar dan memang harus belajar. Namun semua harus sesuai porsinya masing-masing.
"Kalau bayi umur satu bulan dipaksa belajar jalan, ya tidak akan bisa karena belum siap, belum sanggup. Jadi ada milestone nya, kapan kebanyakan manusia siap dan sanggup. Ada yang lebih cepat, ada yang lambat. Tak mengapa, asal siap, asal sanggup," ujar Alzena.