Studi: 8 Faktor Penyebab Pasien Covid-19 Meninggal Dunia
CNN Indonesia
Kamis, 17 Feb 2022 19:39 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: iStock/Morsa Images
Jakarta, CNN Indonesia --
Menakar peluang kesembuhan atau kematian pasien Covid-19 memang sulit dilakukan. Namun ada beberapa faktor yang bisa jadi pertimbangan.
Dalam dunia kedokteran dikenal identifikasi faktor risiko dan faktor prognostik terkait kematian menggunakan tes laboratorium canggih.
Namun dalam kondisi serba terbatas, prognostik atau prediksi mengenai kondisi pasien setelah tindakan perawatan tentu sulit dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi dalam sebuah riset terbaru, para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap sistem skor prognostik untuk kematian pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
Sistem skor prognostik mencakup beberapa faktor penyumbang terbesar kematian akibat Covid-19 yakni, usia, gagal ginjal kronis, penyakit paru obstruktif kronis, kelelahan, sesak napas, perubahan status mental, rasio neutrofil-limfosit dan keparahan gejala.
Riset yang diterbitkan di jurnal Acta Medica Indonesiana ini melibatkan 1.048 kasus positif Covid-19 dengan 160 kasus kematian (15 persen) dalam periode Juli 2020-Januari 2021 di 5 rumah sakit yakni, RSCM, RSUD Cengkareng, RSUD Tarakan, RSI Cempaka Putih dan RSUD Pasar Minggu.
Data pun dikumpulkan meliputi data demografi (usia dan jenis kelamin), kondisi penyakit penyerta, gejala klinis, tingkat kesadaran, rasio neutrofil-limfosit (NLR) dan temuan radiologis. Dari data kemudian ditentukan variabel terikat dan variabel bebas. Peneliti menggunakan analisis statistik dengan SPSS Versi 26 untuk melihat hubungan antarvariabel.
Hasilnya, kematian pasien Covid-19 bisa diprediksi dengan melihat beberapa faktor yakni:
1. Usia Sejumlah studi yang sudah ada menemukan usia jadi salah satu faktor risiko kematian pasien Covid-19. Peneliti mengelompokkan pasien menjadi tiga kelompok usia yaitu, 18-49 tahun, 50-69 tahun dan di atas 70 tahun. Selain kelompok usia 18-49 tahun, ternyata ditemukan memiliki risiko kematian tinggi.
2. Gagal ginjal kronis (chronic kidney disease)
Peneliti berkaca pada riset yang sudah ada bahwa pasien Covid-19 dengan penyakit ginjal kronis memiliki risiko kematian 2 kali lipat lebih tinggi dari pasien Covid-19 tanpa penyakit ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis dan Covid-19 mengarah pada sejumlah komplikasi seperti, miokarditis, cedera miokardial akut, gagal jantung, dan aritmia.
3. Penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease)
Penyakit ini berhubungan dengan kematian pasien Covid-19. Ada kemungkinan ini berkaitan dengan gangguan pada sel epitel bronkus sehingga memicu peningkatan ekspresi ACE-2. Saat spike protein virus mengikat ACE-2, timbul kerusakan jaringan akibat peningkatan inflamasi.
4. Kelelahan
Virus tidak hanya menginvasi paru-paru tetapi juga otot sehingga pasien merasa kelelahan.
5. Sesak napas Dalam riset yang sudah ada sebelumnya, kelelahan dan sesak napas berkontribusi pada kematian pasien Covid-19.
6. Perubahan status mental
Ini dihitung dengan metode Glasgow Coma Scale di mana jika hasilnya kurang dari 15 maka ini jadi salah satu prediktor kematian pasien. Perubahan status mental pasien bisa berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit atau cedera langsung pada otak.
7. Rasio neutrofil-limfosit (NLR)
NLR merupakan prediktor inflamasi sistemik pada beberapa penyakit termasuk penyakit kardiovaskular dan pankreatitis akut.
8. Keparahan dan kondisi kritis
Pasien dengan gejala berat dan kritis berkaitan dengan risiko kematian. Ini termasuk pasien yang memerlukan bantuan oksigen selama perawatan di rumah sakit.
Masing-masing faktor ini diberi kategori (ya atau tidak) dan tiap kategori memiliki poin berbeda (0-3). Prof Ari Fahrial Syam, salah satu peneliti dalam studi, menjelaskan skor di atas atau sama dengan 7 kemungkinan kematian sudah di atas 50 persen sehingga pasien harus ditempatkan di ruang perawatan intensif.
Yang cukup menarik, komorbid seperti hipertensi dan diabetes melitus yang selama ini dikenal berkontribusi pada gejala berat pasien Covid-19 tidak memberikan pengaruh signifikan pada risiko kematian. Namun ini bukan alasan untuk menganggap enteng keduanya.
"Hipertensi dan diabetes melitus tetap sebagai komorbid tetapi tidak berkontribusi langsung untuk penyebab kematian. Gagal ginjal kronis (CKD) bisa disebabkan oleh diabetes melitus dan hipertensi," kata Ari pada CNNIndonesia.com, Kamis (17/2).
Melihat hasil riset ini, Ari mengingatkan buat orang yang berusia di atas 70 tahun, ada kondisi gagal ginjal kronis atau penyakit kronik paru menahun agar berhati-hati agar tidak terpapar Covid-19.
"Agar menjadi perhatian pasien, jangan sampai jatuh dalam kondisi ini dan ketika ada pasien masuk dalam kondisi ini, keluarga sudah bisa dikomunikasikan juga," imbuhnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Menakar peluang kesembuhan atau kematian pasien Covid-19 memang sulit dilakukan. Namun ada beberapa faktor yang bisa jadi pertimbangan.
Dalam dunia kedokteran dikenal identifikasi faktor risiko dan faktor prognostik terkait kematian menggunakan tes laboratorium canggih.
Namun dalam kondisi serba terbatas, prognostik atau prediksi mengenai kondisi pasien setelah tindakan perawatan tentu sulit dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi dalam sebuah riset terbaru, para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap sistem skor prognostik untuk kematian pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
Sistem skor prognostik mencakup beberapa faktor penyumbang terbesar kematian akibat Covid-19 yakni, usia, gagal ginjal kronis, penyakit paru obstruktif kronis, kelelahan, sesak napas, perubahan status mental, rasio neutrofil-limfosit dan keparahan gejala.
Riset yang diterbitkan di jurnal Acta Medica Indonesiana ini melibatkan 1.048 kasus positif Covid-19 dengan 160 kasus kematian (15 persen) dalam periode Juli 2020-Januari 2021 di 5 rumah sakit yakni, RSCM, RSUD Cengkareng, RSUD Tarakan, RSI Cempaka Putih dan RSUD Pasar Minggu.
Data pun dikumpulkan meliputi data demografi (usia dan jenis kelamin), kondisi penyakit penyerta, gejala klinis, tingkat kesadaran, rasio neutrofil-limfosit (NLR) dan temuan radiologis. Dari data kemudian ditentukan variabel terikat dan variabel bebas. Peneliti menggunakan analisis statistik dengan SPSS Versi 26 untuk melihat hubungan antarvariabel.
Hasilnya, kematian pasien Covid-19 bisa diprediksi dengan melihat beberapa faktor yakni:
1. Usia Sejumlah studi yang sudah ada menemukan usia jadi salah satu faktor risiko kematian pasien Covid-19. Peneliti mengelompokkan pasien menjadi tiga kelompok usia yaitu, 18-49 tahun, 50-69 tahun dan di atas 70 tahun. Selain kelompok usia 18-49 tahun, ternyata ditemukan memiliki risiko kematian tinggi.
2. Gagal ginjal kronis (chronic kidney disease)
Peneliti berkaca pada riset yang sudah ada bahwa pasien Covid-19 dengan penyakit ginjal kronis memiliki risiko kematian 2 kali lipat lebih tinggi dari pasien Covid-19 tanpa penyakit ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis dan Covid-19 mengarah pada sejumlah komplikasi seperti, miokarditis, cedera miokardial akut, gagal jantung, dan aritmia.
3. Penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease)
Penyakit ini berhubungan dengan kematian pasien Covid-19. Ada kemungkinan ini berkaitan dengan gangguan pada sel epitel bronkus sehingga memicu peningkatan ekspresi ACE-2. Saat spike protein virus mengikat ACE-2, timbul kerusakan jaringan akibat peningkatan inflamasi.
Studi: 8 Faktor Penyebab Pasien Covid-19 Meninggal Dunia
Foto: iStockphoto
4. Kelelahan
Virus tidak hanya menginvasi paru-paru tetapi juga otot sehingga pasien merasa kelelahan.
5. Sesak napas Dalam riset yang sudah ada sebelumnya, kelelahan dan sesak napas berkontribusi pada kematian pasien Covid-19.
6. Perubahan status mental
Ini dihitung dengan metode Glasgow Coma Scale di mana jika hasilnya kurang dari 15 maka ini jadi salah satu prediktor kematian pasien. Perubahan status mental pasien bisa berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit atau cedera langsung pada otak.
7. Rasio neutrofil-limfosit (NLR)
NLR merupakan prediktor inflamasi sistemik pada beberapa penyakit termasuk penyakit kardiovaskular dan pankreatitis akut.
8. Keparahan dan kondisi kritis
Pasien dengan gejala berat dan kritis berkaitan dengan risiko kematian. Ini termasuk pasien yang memerlukan bantuan oksigen selama perawatan di rumah sakit.
Masing-masing faktor ini diberi kategori (ya atau tidak) dan tiap kategori memiliki poin berbeda (0-3). Prof Ari Fahrial Syam, salah satu peneliti dalam studi, menjelaskan skor di atas atau sama dengan 7 kemungkinan kematian sudah di atas 50 persen sehingga pasien harus ditempatkan di ruang perawatan intensif.
Yang cukup menarik, komorbid seperti hipertensi dan diabetes melitus yang selama ini dikenal berkontribusi pada gejala berat pasien Covid-19 tidak memberikan pengaruh signifikan pada risiko kematian. Namun ini bukan alasan untuk menganggap enteng keduanya.
"Hipertensi dan diabetes melitus tetap sebagai komorbid tetapi tidak berkontribusi langsung untuk penyebab kematian. Gagal ginjal kronis (CKD) bisa disebabkan oleh diabetes melitus dan hipertensi," kata Ari pada CNNIndonesia.com, Kamis (17/2).
Melihat hasil riset ini, Ari mengingatkan buat orang yang berusia di atas 70 tahun, ada kondisi gagal ginjal kronis atau penyakit kronik paru menahun agar berhati-hati agar tidak terpapar Covid-19.
"Agar menjadi perhatian pasien, jangan sampai jatuh dalam kondisi ini dan ketika ada pasien masuk dalam kondisi ini, keluarga sudah bisa dikomunikasikan juga," imbuhnya.