Rutin atau Olahraga Berat Sesekali, Mana yang Lebih Baik?

tim | CNN Indonesia
Sabtu, 16 Apr 2022 16:00 WIB
Mana yang lebih baik, rutin atau cukup olahraga berat sesekali? Berikut penjelasan dokter. Mana yang lebih baik, rutin atau cukup olahraga berat sesekali? Berikut penjelasan dokter.iStock/kazuma seki
Jakarta, CNN Indonesia --

Padatnya aktivitas membuat sebagian orang sulit meluangkan waktu berolahraga setiap hari. Alhasil, beberapa orang memanfaatkan olahraga sesekali di akhir pekan dengan intensitas lebih berat dan waktu lebih panjang.

Namun sebenarnya, mana yang lebih baik, rutin atau cukup olahraga berat sesekali?

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia, Andi Nusawarta berpendapat, salah satu hal yang perlu dan penting untuk diperhatikan dalam berolahraga termasuk selama bulan Ramadan yakni rutinitas bukan beratnya.


"Olahraga itu harus diatur dan harus dikontrol, jika tidak bisa maka dapat terjadi risiko cedera dan bahkan kematian," kata Andi, seperti dikutip Antara.

Lebih lanjut, menurut Dokter Sport Clinic di Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) itu, olahraga dengan intensitas berat justru dapat menurunkan imun dan membuat tubuh tidak fit dan bugar.

"Dan bahkan dapat meningkatkan risiko cedera maupun gangguan kesehatan lainnya. Paling bagus ringan dan sedang," ujarnya.

Untuk mengetahui intensitas olahraga, Anda bisa melakukan tes bicara. Bila Anda sudah terengah berarti Anda sudah melakukan olahraga berat karena sudah berada di puncak latihan.

Anda juga bisa mengukur Heart Rate Maximum (HRM). HRM menunjukkan kurang dari 60 persen HRM termasuk ringan), HRM 60-80 persen tergolong dan di atas 80 persen sudah dikatakan berat.

"Biasanya paling gampang bisa digunakan jam tangan khusus untuk mengetahuinya," kata Andi.

Hal lain yang juga perlu perhatikan dalam berolahraga yaitu fleksibilitas atau kelenturan yang biasanya dilakukan saat pemanasan. Kelenturan tubuh dapat mencegah cedera dan berperan menjadi pelindung dalam peradangan sendi dan penyakit lainnya.

"Contohnya, lakukan stretching secara rutin untuk melatih fleksibilitas, maka dari itu baiknya kita jangan duduk seharian tapi lakukan peregangan setiap dua jam sekali," saran Andi

Selama Ramadan, Andi juga menyarankan Anda tetap berolahraga walau sebagian Anda cenderung malas bergerak yang berakibat turunnya imunitas tubuh sehingga tubuh terasa tidak fit dan bugar.

Terkait waktu berolahraga, sebelum buka puasa atau sesudah buka puasa menjadi rekomendasi. Bila Anda memilih berolahraga sesudah berbuka puasa, maka perhatikan agar durasinya 2-3 jam sebelum tidur.

Sementara, apabila Anda ingin melakukannya pada pagi hari maka kurangi waktunya dan intensitasnya. Anda disarankan hanya berolahraga dengan intensitas ringan demi menghindari dehidrasi dan lemas.

"Ada pun hal yang perlu kita perhatikan dalam olahraga yaitu durasinya, itu bisa 30 sampai 60 menit atau 150 menit per minggu. Yang perlu diperhatikan lain adalah frekuensinya yaitu 3 sampai 5 kali seminggu," kata Andi.

Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis olahraga yang selama ini dikenal, salah satunya olahraga aerob atau latihan kardio.

Menurut Andi, olahraga ini tepat untuk membakar lemak dan dapat dilakukan di rumah, seperti treadmill, sepeda statis, skipping atau lompat tali, naik turun tangga dan jalan cepat sekitar rumah.

Jenis lainnya yakni olahraga anaerob yang dapat bermanfaat untuk melatih kekuatan otot. Contoh olahraga jenis ini yakni push up, squat dan lunges.

"Mengapa perlu melatih otot? Karena otot akan menyusut 1-2 persen dengan sendirinya pada usia di atas 35 atau 40 tahun. Otot itu berbanding lurus dengan tulang. Apabila kita tidak melatih otot maka otot mengecil dan tulang jadi lemah sehingga mudah patah," demikian penjelasan Andi.

(Antara/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER