Bilby, Kelinci Paskah Australia yang Terancam Punah
CNN Indonesia
Rabu, 20 Apr 2022 15:48 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Bilby, kelinci Paskah Australia ditemukan hampir punah. (iStockphoto/Bastetamn)
Selama dua tahun, kamera memotret ratusan burung, reptil, dan mamalia yang masuk dan mencari makan di sekitar liang bibly.
"Studi ini benar-benar menyoroti fakta bahwa jika Anda kehilangan habitat mikro yang disediakan bilby, spesies lain dalam ekosistem menjadi lebih rentan terhadap predator, suhu ekstrem, dan kekuatan lain," ujar Brendan Wintle, profesor ekologi konservasi Universitas Melbourne.
Pada 2019, pemerintah Australia merilis versi awal dari rencana pemulihan bilby. Rencana tersebut berisi peningkatan kontrol negara terhadap spesies invasif, memulihkan habitat bilby, dan mempromosikan pengelolaan spesies melalui kemitraan dengan komunitas Aborigin.
Sementara itu, masyarakat juga diharapkan terus menjadikan bilby sebagai kelinci Paskah. Kampanye Paskah disebut sebagai prakarsa yang fantastis untuk membantu meningkatkan kesadaran seputar penderitaan bilby.
Kelinci Paskah berasal dari tradisi pagan yang merayakan Dewi Eostre atau Austro yang dikenal sebagai dewi musim semi atau dewi kesuburan yang biasanya ditampilkan memegang telur dan kelinci.
Di samping itu, kelinci dikenal sebagai simbol kesuburan dan permulaan kehidupan baru karena dikenal mampu berkembang biak dengan cepat dan banyak.
Menurut laporan History, tradisi kelinci Paskah pertama kali hadir di Amerika Serikat pada 1700-an oleh imigran Jerman yang menetap di Pennsylvania. Mereka membawa tradisi tentang kelinci bertelur yang disebut 'Osterhase' atau 'Oschter Haws'.
Sejak itu, kelinci pun menjadi simbol Paskah yang dikenal di seluruh dunia.
Perayaan Paskahkerap identik dengan kelinci. Bilby, kelinci Paskah khas Australia, kini terancam punah.
Melansir National Geographic, bilby (Macrotis lagotis) biasanya tinggal di gurun dan pernah menempati 80 persen wilayah benua Australia. Namun, populasi bilby semakin menurun selama beberapa dekade terakhir akibat habitat yang semakin terkikis. Bilby juga kerap dimangsa oleh kucing, rubah, dan spesies lainnya.
Bilby sendiri merupakan seekor marsupial dengan telinga seperti kelinci. Marsupial merupakan kelompok mamalia, di mana betina memiliki marsupium atau kantung perut.
Saat ini, bilby hanya dapat ditemukan di beberapa daerah terpencil di Australia Barat, Queensland, dan Northern Territory. Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan pemerintah Australia bahkan menganggap hewan ini terancam punah.
Kelompok konservasi Australia seperti Foundation for Rabbit-Free Australia dan Save the Bilby Fund telah berusaha agar publik mengenal bilby dengan mempromosikannya sebagai alternatif kelinci Paskah.
Meskipun kampanye tersebut terbilang berhasil, ahli zoologi Stuart Dawson mengatakan, para konservasionis harus berusaha lebih keras untuk meningkatkan populasi bilby. Pasalnya, liang yang dibentuk bilby menyediakan perlindungan bagi kurang lebih 45 spesies lainnya sehingga keberlangsungan hidup mereka juga akan terancam jika jumlah bilby semakin sedikit.
Bilby hidup di pedalaman Australia yang suhunya mencapai 104 derajat Fahrenheit dan sering terjadi kebakaran hutan. Bilby berusaha melindungi diri dengan bersembunyi di liang yang kedalamannya lebih dari dua meter.
Pada 2014, Dawson memasang kamera di luar 127 liang bilby di wilayah utara Australia Barat untuk menentukan berapa banyak spesies yang memanfaatkan tempat perlindungan bawah tanah tersebut.
Simak selengkapnya tentang bilby kelinci Paskah Australia di halaman berikutnya..
Bilby, Kelinci Paskah Australia yang Terancam Punah
Ilustrasi. Populasi bilby terus menurun selama beberapa dekade terakhir. (iStockphoto/Ken Griffiths)
Selama dua tahun, kamera memotret ratusan burung, reptil, dan mamalia yang masuk dan mencari makan di sekitar liang bibly.
"Studi ini benar-benar menyoroti fakta bahwa jika Anda kehilangan habitat mikro yang disediakan bilby, spesies lain dalam ekosistem menjadi lebih rentan terhadap predator, suhu ekstrem, dan kekuatan lain," ujar Brendan Wintle, profesor ekologi konservasi Universitas Melbourne.
Pada 2019, pemerintah Australia merilis versi awal dari rencana pemulihan bilby. Rencana tersebut berisi peningkatan kontrol negara terhadap spesies invasif, memulihkan habitat bilby, dan mempromosikan pengelolaan spesies melalui kemitraan dengan komunitas Aborigin.
Sementara itu, masyarakat juga diharapkan terus menjadikan bilby sebagai kelinci Paskah. Kampanye Paskah disebut sebagai prakarsa yang fantastis untuk membantu meningkatkan kesadaran seputar penderitaan bilby.
Kelinci Paskah berasal dari tradisi pagan yang merayakan Dewi Eostre atau Austro yang dikenal sebagai dewi musim semi atau dewi kesuburan yang biasanya ditampilkan memegang telur dan kelinci.
Di samping itu, kelinci dikenal sebagai simbol kesuburan dan permulaan kehidupan baru karena dikenal mampu berkembang biak dengan cepat dan banyak.
Menurut laporan History, tradisi kelinci Paskah pertama kali hadir di Amerika Serikat pada 1700-an oleh imigran Jerman yang menetap di Pennsylvania. Mereka membawa tradisi tentang kelinci bertelur yang disebut 'Osterhase' atau 'Oschter Haws'.
Sejak itu, kelinci pun menjadi simbol Paskah yang dikenal di seluruh dunia.