Mengenal Aritmia, Si Penyebab Henti Jantung

Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Rabu, 25 Mei 2022 17:11 WIB
Aritmia yang umumnya muncul saat olahraga, dalam kondisi stress, atau setelah terpapar kafein, nikotin dan obat-obatan tertentu, dapat menyebabkan kematian. Aritmia yang umumnya muncul saat olahraga, dalam kondisi stress, atau setelah terpapar kafein, nikotin dan obat-obatan tertentu, dapat menyebabkan kematian. (Foto: Istockphoto/stevanovicigor)
Jakarta, CNN Indonesia --


Mengenal Aritmia, Si Penyebab Henti Jantung

Aritmia adalah kondisi saat terjadi gangguan pada sistem kelistrikan yang menyebabkan denyut jantung menjadi lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan. Sementara, denyut jantung dikendalikan oleh sistem kelistrikan agar berdenyut dengan irama teratur.

Dalam keadaan normal, jantung berdenyut 60 sampai 100 kali per menit. Ketika tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya. Hal ini akan mengganggu asupan darah ke organ tubuh lain hingga menyebabkan kerusakan.


Orang yang terjatuh tiba-tiba akibat aritmia bisa meninggal dalam waktu singkat apabila terlambat mendapatkan pertolongan medis, atau mendapatkan penanganan yang salah. Umumnya, aritmia muncul saat olahraga, dalam kondisi stress, atau setelah terpapar kafein, nikotin dan obat-obatan tertentu.

dr. Rerdin Julario, SpJP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi dari Mayapada Hospital Surabaya mengatakan, gejala aritmia yang timbul bisa berbeda-beda pada tiap orang, bergantung dari jenis aritmia yang dialami.

Adapun gejala yang biasa dirasakan adalah jantung berdebar (palpitasi), nyeri dada, sesak nafas, mudah lelah, keringat dingin, rasa akan pingsan. Di sisi lain, aritmia dapat juga dipengaruhi faktor risiko lain seperti memiliki penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hipo/hipertiroid, penyakit jantung bawaan, dan faktor genetik.

Selain itu, aritmia meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali lebih besar dibanding yang tidak mengalami aritmia. Data CDC pada 2017 menyebutkan, aritmia menyebabkan stroke iskemik sebesar 15 sampai 20 persen.

Guna mendiagnosa aritmia, dokter akan mengevalusi gejala dan riwayat medis pasien melalui pemeriksaan fisik dan penunjang, seperti Elektrokardiografi (EKG), Treadmill Test, Holter Monitor, dan Electrophysiology Study (EP Study).

"Electrophysiology Study adalah golden standard untuk mendiagnosa aritmia. Dengan pemeriksaan ini, dapat dipetakan aktifitas listrik jantung sehingga titik penyebab gangguan kelistrikan jantung dapat diketahui. Berdasarkan hasil EP Study, dapat ditentukan jenis aritmia dan terapi yang dibutuhkan untuk mengembalikan irama jantung normal," kata dr. Rerdin.

dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia, Mayapada Hospital Tangerang menambahkan, penanganan akan disesuaikan dengan jenis aritmia yang dialami pasien. Pada kasus aritmia di mana jantung berdenyut lebih lambat dari normal, pasien akan dipasangi alat pacu jantung atau pacemaker.

"Tindakan lain yaitu ablasi jantung, merupakan tindakan untuk mengkoreksi aritmia dengan cara memasukan kateter melalui pembuluh darah sampai ke jantung. Elektroda pada ujung kateter dilengkapi dengan energi radiofrekuensi untuk mengablasi titik tertentu pada jantung yang menyebabkan aritmia sehingga jantung dapat kembali berdenyut normal," ujar dr. Agung.

(rea/rea)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER