Omicron BA.4 dan BA.5 Bisa 'Kabur' dari Kekebalan Tubuh dan Vaksin

tim | CNN Indonesia
Rabu, 15 Jun 2022 06:15 WIB
Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki karakteristik yang berbeda dengan varian lain. Omicron BA.4 dan BA.5 disebut punya kemampuan immune escape. Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki karakteristik yang berbeda dengan varian lain. Omicron BA.4 dan BA.5 disebut punya kemampuan immune escape. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki karakteristik yang berbeda dengan varian lain. Omicron BA.4 dan BA.5 disebut punya kemampuan immune escape.

Immune escape adalah kemampuan virus sehingga bisa dengan mudah masuk ke tubuh seseorang meskipun sudah melakukan vaksinasi Covid-19.

Dokter Adria Rusli dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso mengatakan kemampuan immune escape yang dimiliki subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini membuatnya menjadi virus yang lincah. Virus ini bahkan disebut bisa mengelabui sistem pertahanan yang sebelumnya sudah terbentuk di tubuh manusia.


"Kalau sepak bola dia tuh seperti Messi, bisa lompat ke sana kemari. Lincah yah, bisa mengelabui pertahanan tubuh," kata Adria dalam acara podcast Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Senin (13/6).

Hal ini bisa terjadi karena BA.4 dan BA.5 bermutasi dengan mengikuti perkembangan sistem imunitas di tubuh manusia. Oleh karena itu, pertahanan yang sebelumnya terbentuk menjadi tidak mengenali subvarian Omicron ini sehingga virus tetap bisa menginfeksi manusia.

Meski punya kemampuan immune escape, kata Adria, bukan berarti vaksinasi yang dilakukan selama ini tidak berguna atau tidak perlu dilakukan. Justru dengan melakukan vaksinasi membuat berbagai mutasi dari Covid-19 ini semakin lemah saat menginfeksi manusia.

"Kalau terinfeksi juga tidak akan berat gejalanya, malah ringan dan tidak bergejala sama sekali. Jadi vaksinasi tetap harus dilakukan," katanya.

Dalam kesempatan itu, Adria juga menyebut subvarian ini memang disebut-sebut memiliki kemampuan untuk menular dengan cepat. Namun hal itu justru belum terbukti di Indonesia.

Hal ini terlihat dari jumlah kasus yang tetap kecil meskipun subvarian ini disebut telah ditemukan di Indonesia.

"Ini sudah cukup lama sejak diumumkan subvarian BA.4 dan BA.5 ini ditemukan, tapi sampai sekarang lonjakan kasus tidak terjadi, seperti itu yah," kata dia.

(tst/chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER