Kisah WNI di Jerman: Bertubi-tubi Terinfeksi Covid-19 dan Cacar Monyet

tim | CNN Indonesia
Jumat, 12 Agu 2022 14:00 WIB
Bak jatuh tertimpa tangga, Arsya (bukan nama sebenarnya) dia diserang penyakit bertubi-tubi, termasuk Covid-19 dan cacar monyet dalam waktu berdekatan. Bak jatuh tertimpa tangga, Arsya (bukan nama sebenarnya) dia diserang penyakit bertubi-tubi, termasuk Covid-19 dan cacar monyet dalam waktu berdekatan. ( iStockphoto/turk_stock_photographer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selain covid-19, kasus cacar monyet juga masih tinggi di Eropa. Meski disebut belum ada kasus di Indonesia, namun ini tak berarti tak ada warga Indonesia di luar negeri yang tak terinfeksi penyakit ini.

Panggil dia Arsya (bukan nama sebenarnya) seorang pria asal Indonesia yang kini bermukim di sebuah kota kecil di Jerman Barat. Beberapa waktu lalu setelah bepergian ke Paris, dia diaganosis dengan pneumonia. Namun dokter menyatakan ini bukan Covid-19. Tak cuma itu hasil swabnya pun juga negatif.

Setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit di kota tersebut, dia pun sembuh.

Aktivitasnya kembali seperti biasa, namun tak berapa lama, kesehatannya kembali terganggu. Pneumonia membuat daya tahan tubuhnya turun drastis.

"Selang beberapa waktu, saya baru sadar kalau ada benjolan di salah satu area tubuh yang harus segera dioperasi," ucap Arsya kepada CNNIndonesia.com.

"Kata dokter harus dioperasi biar tidak bahaya."

Namun operasi tak bisa dilakukan dalam waktu dekat namun bisa dijadwalkan. Setelah operasi tersebut terjadwal, Arsya sedikit bisa bernapas lega. Dia kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa, bekerja dan kuliah.

Namun nyatanya sebelum jadwal operasi tiba, daya tahan tubuhnya yang turun membuat dia pun terinfeksi covid-19.

"Saat itu saya sempat kena covid-19, gejalanya ringan sehingga isolasi di rumah selama 2 minggu,"ucapnya.

Ketika masa isolasi selesai, Arsya pun kembali menunggu jadwal operasi dari rumah sakit. Dalam hitungan minggu, dia sudah siap dioperasi.

Selang beberapa waktu, dia operasinya pun berhasil dilakukan. Namun operasi ini mengharuskannya untuk tetap check up beberapa kali ke rumah sakit.

Dia pun mulai kembali beraktivitas seperti biasa, bekerja, dan juga kuliah. Tak cuma itu, seperti di negara-negara Eropa lainnya, Jerman juga sudah mengizinkan berbagai festival dan juga pesta. Arsya pun ikut bergabung dalam saah satu festival yang diadakan di kota sebelah. Dia bersenang-senang, tentu saja setelah lebih dari 2 tahun 'dilarang' keramaian karena pandemi, festival menjadi sebuah kerinduan tersendiri.

penderita cacar monyetFoto: Arsip Istimewa
cacar monyet yang dialami Arsya

Beberapa hari kemudian, Arsya merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Pascaoperasi, Arsya mengaku sempat alami demam dan beberapa 'komplikasi' lain dari hasil operasinya.

Dia pun kembali ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter. Dia bercerita dokternya pun sempat kaget lantaran harusnya tak ada demam akibat komplikasi.

Gejala tersebut membuat dokter memutuskan bahwa Arsya harus dirawat inap. Namun sebelumnya, sebagai prosedur di masa pandemi, tes swab pcr pun dilakukan.

"Nah jadi imun saya turun banget trus beberapa hari setelah operasi saya demam. Terus dua hari berikutnya muncul bintik-bintik, isinya bukan nanah pekat sih, kayak air tapi agak keruh dikit, sama dokter di swab, eh ternyata si 'monyet' itu."

Hasilnya pun positif, namun kali ini bukan positif covid-19 melainkan positif cacar monyet alias monkeypox. Arsya kaget bukan kepalang, dalam jarak waktu yang berdekatan, tiga penyakit harus dirasakannya. Bahkan dua dari tiga penyakit yang dialaminya adalah penyakit yang sedang 'tren' saat ini.

"Bertubi-tubilah ini saya habis kena corona trus kena ini."

"Kali ini karantina di rumah sakit, minimal tiga minggu. Harusnya di rumah bisa, cuma aku di RS karena harus infus gara-gara komplikasi operasi," katanya sembari mengingat lagi masa-masa itu.

"Kemungkinan kena waktu datang ke sebuah festival. Dan karena lagi panas sekali di sini, saya dan sekitar 1000 orang lain yang datang pun buka kaos. Senggol sana-sini, mungkin kenanya di situ ya."

Anggap saja sial, Arsya tak mau mencari-cari 'kena di mana,' 'kok bisa,' atau 'ketularan siapa?' Toh nasi sudah jadi bubur, yang penting sekarang fokus dengan kesehatan.

penderita cacar monyetFoto: Arsip Istimewa
Bekas bintil cacar monyet yang sudah mengering

"Saya masih beruntung karena bintil-bintilnya hanya ada di tangan dan kaki, itu pun enggak full."

"Tapi syukur banget saya "cuma" kena di tangan sama kaki."

Saat itu dia bercerita, di dalam kamar isolasi rumah sakit, dia berada bersama dengan orang lain yang menurutnya punya kondisi lebih parah, misalnya punya bintil di mulut bagian dalam, atau bintil di seluruh tubuh.

Anehnya setelah bintil keluar di tagan dan kakinya, dia sama sekali tak merasakan gejala apapun. Dokter mengungkapkan bahwa cacar monyet yang dialaminya termasuk cacar monyet ringan.

"Enggak berasa apa-apa.. tapi yang sekamar sama saya yang juga positif, dia bengkak gitu mulutnya, karena kena cacarnya di dalam mulut. Kata dia juga enggak panas, enggak apa, cuma nggak nyaman aja."

Saat ini Arsya sudah menyelesaikan masa isolasinya selama 3 minggu. Lesi atau bintilnya pun sudah mengering. Bagian nanahnya sudah lepas dan menyisakan bintil merah kering seperti bekas cacar air.

"Iya sama persis tidak beda sama cacar air. Yang beda kata dokter cuma kalau cacar monyet itu kelenjar getah bening akan bengkak. Di saya bengkak dikit di selakangan dan leher belakang."

(chs/chs)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER