Mirip Jepang, Angka Kelahiran Bayi di China Juga Rendah, Ini Sebabnya

tim | CNN Indonesia
Jumat, 19 Agu 2022 12:30 WIB
Para peneliti menemukan beberapa penyebab angka kelahiran di China semakin menurun. Berikut beberapa penyebabnya. Para peneliti menemukan beberapa penyebab angka kelahiran di China semakin menurun. Berikut beberapa penyebabnya.( iStockphoto/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia --

China adalah negara dengan populasi terpadat di dunia. Memiliki wilayah yang cukup luas, tak mengherankan jika populasi warganya pun besar.

Tapi ternyata, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa China justru mengalami pengurangan populasi. Ini terjadi karena tingkat kelahiran hidup warganya yang semakin menurun.

Penelitian berjudul The Challenges of the Low Birth Rate in China yang diterbitkan di One Library itu menemukan penurunan tingkat kelahiran pada 2021 sebanyak 7,52 kelahiran per 1000 orang. Sementara di tahun sebelumnya tingkat kelahiran sebanyak 8,52 per 1000 orang.

"Angka kelahiran di 2021 ini adalah yang paling rendah sejak 1949. Tingkat kelahiran di China terus mengalami penurunan sejak awal abad 21. Bahkan tingkat kesuburan negara itu disebut hanya 1,8," mengutip hasil penelitian itu.

Statistik pada 2021 menunjukkan bahwa hanya sekitar 11 juta bayi yang lahir. Hal ini bukan kabar yang baik untuk negara itu, lantaran angka tersebut merupakan penurunan yang cukup signifikan. Sebab pada 2018 saja, angka kelahiran di China menyentuh 18 juta bayi dan angka tersebut tergolong rendah.

Para peneliti menemukan beberapa penyebab angka kelahiran di China semakin menurun. Berikut beberapa penyebabnya :

1. Kebijakan pengendalian kelahiran

Kebijakan pengendalian kelahiran mulai berlaku pada 1979. Namun karena angka kelahiran terus menurun, pada 2016 negara itu mengubah kebijakan dari yang sebelumnya hanya satu anak, kini setiap pasangan boleh memiliki dua hingga tiga anak.

2. Pernikahan semakin menurun

Warga China juga semakin hari semakin tidak tertarik melangsungkan pernikahan. Jumlah pencatatan pernikahan mengalami penurunan selama tujuh tahun berturut-turut.

Pada 2020 hanya ada 8,1 juta pasangan yang menikah. Ini sama dengan terjadi penurunan 12 persen dari tahun sebelumnya dan penurunan besar-besaran dari 13,4 juta pernikahan pada 2013.

3. Pasangan menikah memilih tidak punya anak atau hanya satu anak

Meskipun pemerintah mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak anak, bukti menunjukkan bahwa satu dari dua orang tua lebih memilih untuk memiliki hanya satu anak.

Bukan hanya itu, banyak wanita di China yang memilih tidak menjadi orang tua atau enggan melahirkan anak.

4. Menunda pernikahan terlalu lama

Pernikahan yang ditunda mengurangi kemungkinan menjadi orang tua, karena alasan fisiologis, atau hanya fokus untuk hidup bersama.

5. Angka perceraian tinggi

China juga mengalami peningkatan angka perceraian. Meskipun baru-baru ini angka perceraian menurun, namun ini juga sejalan dengan angka pernikahan yang terus merosot.

(chs/chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER