40 Persen Wanita Mengidap Gangguan Kecemasan Umum, Kenali Faktanya
CNN Indonesia
Sabtu, 08 Okt 2022 10:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Prevalensi gangguan kecemasan seumur hidup adalah 26 persen untuk pria dan 40 persen untuk wanita. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --
Satuan Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikatmenyatakan semua orang dewasa di bawah usia 65 tahun harus melakukan skrining untuk gangguan kecemasan melalui sebuah pedoman baru.
Hingga kini banyak yang bertanya-tanya, seberapa umum gangguan kecemasan yang terjadi? Apakah ada populasi tertentu yang lebih berisiko mengidap gangguan kecemasan daripada lainnya? Apa saja gejalanya?
Faktanya, prevalensi gangguan kecemasan seumur hidup adalah 26 persen untuk pria dan 40 persen untuk wanita.
MengutipCNN, Sabtu (8/10), hal ini berarti sekitar 1 dari 4 pria dan 4 dari 10 wanita dapat mengalami gangguan kecemasan di beberapa titik selama hidup mereka.
Menurut seorang dokter sekaligus analis medis CNN Leana Wen, hal ini jelas merupakan sebuah masalah yang perlu ditangani.
Gangguan kecemasan seperti depresi dan masalah mental lainnya harus diperlakukan dengan perhatian yang sama seperti yang pada umumnya diberikan pada masalah kesehatan fisik.
Leana Wen menegaskan pada perbedaan perasaan cemas dari diagnosis medis gangguan kecemasan. Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stres. Setiap orang dapat merasakan beberapa tingkat kecemasan terhadap situasi dalam hidup mereka.
Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa takut atau kecemasan yang terus-menerus dan berlebihan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi.
Kecemasan dapat menyebabkan orang menghindari situasi seperti keterlibatan sosial, fungsi profesional, janji temu atau bahkan tugas sehari-hari misalnya. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi pekerjaan, pendidikan, dan hubungan pribadi mereka.
Gangguan kecemasan mencakup berbagai diagnosis, termasuk gangguan kecemasan umum, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial dan fobia tertentu.
Siapa saja yang berisiko terhadap gangguan kecemasan?
Kehadiran kondisi kesehatan mental pada seseorang meningkatkan kemungkinan dirinya mengembangkan gangguan kecemasan. Misalnya, depresi dan kecemasan sering tumpang tindih.
Sebuah studi besar menemukan bahwa 67 persen orang dengan depresi juga memiliki gangguan kecemasan. Terdapat juga hubungan antara gangguan kecemasan dan merokok dan penggunaan alkohol.
Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti kehilangan pekerjaan, berkabung atau kehamilan juga dapat meningkatkan kemungkinan gangguan kecemasan.
Apa saja gejala gangguan kecemasan? Orang dengan gangguan kecemasan dapat mengalami beragam gejala seperti;
- merasa gelisah,
- merasa panik atau malapetaka,
- sulit berkonsentrasi atau tidur ,dan
- mengalami serangan panik. Serangan panik ditandai dengan jantung berdebar-debar, sesak napas atau tangan dingin dan kesemutan.
Penting untuk dicatat bahwa banyak orang dengan gangguan kecemasan mungkin memiliki gejala fisik lainnya.
Misalnya, beberapa mengalami sakit kepala, sakit perut, mual dan kelelahan. Karena gejala gangguan kecemasan sangat bervariasi, kurang terdeteksi dan kurang terdiagnosis sering terjadi.
Apa yang harus dilakukan?
Seperti depresi dan beberapa diagnosis kesehatan mental lainnya, gangguan kecemasan dapat diobati melalui farmakoterapi, psikoterapi, atau keduanya.
Farmakoterapi melibatkan obat-obatan, sedangkan psikoterapi mencakup terapi perilaku kognitif yang dilakukan melalui kerja sama dengan psikolog atau spesialis kesehatan mental lainnya.
Seringkali, dokter merekomendasikan perubahan gaya hidup juga, termasuk meditasi, olahraga dan mengurangi asupan alkohol dan merokok.
Beberapa penderita gangguan kecemasan membutuhkan perawatan berkelanjutan. Banyak yang menerima perawatan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian dipantau untuk melihat apakah mereka mungkin membutuhkannya lagi.
Intinya, perawatan sangat membantu. Perawatan mengurangi gejala gangguan kecemasan dan membantu penderitanya mendapatkan kembali kesehatan dalam hidup mereka.
Satuan Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikatmenyatakan semua orang dewasa di bawah usia 65 tahun harus melakukan skrining untuk gangguan kecemasan melalui sebuah pedoman baru.
Hingga kini banyak yang bertanya-tanya, seberapa umum gangguan kecemasan yang terjadi? Apakah ada populasi tertentu yang lebih berisiko mengidap gangguan kecemasan daripada lainnya? Apa saja gejalanya?
Faktanya, prevalensi gangguan kecemasan seumur hidup adalah 26 persen untuk pria dan 40 persen untuk wanita.
MengutipCNN, Sabtu (8/10), hal ini berarti sekitar 1 dari 4 pria dan 4 dari 10 wanita dapat mengalami gangguan kecemasan di beberapa titik selama hidup mereka.
Menurut seorang dokter sekaligus analis medis CNN Leana Wen, hal ini jelas merupakan sebuah masalah yang perlu ditangani.
Gangguan kecemasan seperti depresi dan masalah mental lainnya harus diperlakukan dengan perhatian yang sama seperti yang pada umumnya diberikan pada masalah kesehatan fisik.
Leana Wen menegaskan pada perbedaan perasaan cemas dari diagnosis medis gangguan kecemasan. Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stres. Setiap orang dapat merasakan beberapa tingkat kecemasan terhadap situasi dalam hidup mereka.
Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa takut atau kecemasan yang terus-menerus dan berlebihan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi.
Kecemasan dapat menyebabkan orang menghindari situasi seperti keterlibatan sosial, fungsi profesional, janji temu atau bahkan tugas sehari-hari misalnya. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi pekerjaan, pendidikan, dan hubungan pribadi mereka.
Gangguan kecemasan mencakup berbagai diagnosis, termasuk gangguan kecemasan umum, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial dan fobia tertentu.
Siapa saja yang berisiko terhadap gangguan kecemasan?
Kehadiran kondisi kesehatan mental pada seseorang meningkatkan kemungkinan dirinya mengembangkan gangguan kecemasan. Misalnya, depresi dan kecemasan sering tumpang tindih.
Sebuah studi besar menemukan bahwa 67 persen orang dengan depresi juga memiliki gangguan kecemasan. Terdapat juga hubungan antara gangguan kecemasan dan merokok dan penggunaan alkohol.
Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti kehilangan pekerjaan, berkabung atau kehamilan juga dapat meningkatkan kemungkinan gangguan kecemasan.
Apa saja gejala gangguan kecemasan? Orang dengan gangguan kecemasan dapat mengalami beragam gejala seperti;
- merasa gelisah,
- merasa panik atau malapetaka,
- sulit berkonsentrasi atau tidur ,dan
- mengalami serangan panik. Serangan panik ditandai dengan jantung berdebar-debar, sesak napas atau tangan dingin dan kesemutan.
Hal yang Harus Dilakukan Saat Mengalami Gangguan Kecemasan
Orang dewasa di bawah usia 65 tahun harus melakukan skrining untuk gangguan kecemasan melalui sebuah pedoman baru. (iStock/Enes Evren).
Penting untuk dicatat bahwa banyak orang dengan gangguan kecemasan mungkin memiliki gejala fisik lainnya.
Misalnya, beberapa mengalami sakit kepala, sakit perut, mual dan kelelahan. Karena gejala gangguan kecemasan sangat bervariasi, kurang terdeteksi dan kurang terdiagnosis sering terjadi.
Apa yang harus dilakukan?
Seperti depresi dan beberapa diagnosis kesehatan mental lainnya, gangguan kecemasan dapat diobati melalui farmakoterapi, psikoterapi, atau keduanya.
Farmakoterapi melibatkan obat-obatan, sedangkan psikoterapi mencakup terapi perilaku kognitif yang dilakukan melalui kerja sama dengan psikolog atau spesialis kesehatan mental lainnya.
Seringkali, dokter merekomendasikan perubahan gaya hidup juga, termasuk meditasi, olahraga dan mengurangi asupan alkohol dan merokok.
Beberapa penderita gangguan kecemasan membutuhkan perawatan berkelanjutan. Banyak yang menerima perawatan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian dipantau untuk melihat apakah mereka mungkin membutuhkannya lagi.
Intinya, perawatan sangat membantu. Perawatan mengurangi gejala gangguan kecemasan dan membantu penderitanya mendapatkan kembali kesehatan dalam hidup mereka.