Jangan Salah Langkah, Antisipasi Gejala dan Pengobatan Low Back Pain

Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Selasa, 29 Nov 2022 20:39 WIB
Low back pain adalah  sakit nyeri punggung dan pinggang yang kerap terjadi pada karyawan yang banyak duduk dan menyerang anak muda. Ilustrasi gejala low back pain. (Foto: iStockphoto/kokouu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di era modern saat ini, gaya hidup tak sehat serta kurang gerak dan olahraga, menjadi keseharian anak muda. Akibatnya, ancaman penyakit daerah punggung hingga ke pinggang, atau disebut dengan istilah low back pain, tidak lagi menyasar lansia.

Tidak jarang, saat ini usia 30-40 tahun sudah mengeluh nyeri punggung dan pinggang. Keluhan nyeri pinggang dan leher akibat pekerjaan yang mana tentu menyebabkan absen karena sakit.

Dokter Spesialis Ortopedi dari Mayapada Hospital, Dr. Nicko Perdana Hardiansyah, SpOT(K)Spine, menyebutkan gejala tersebut kerap terjadi pada karyawan yang banyak duduk di depan komputer saja, atau mengangkat beban cukup berat dengan posisi yang salah.

Keluhan yang ditimbulkan juga bermacam-macam, seperti nyeri di pinggang, tidak bisa bergerak leluasa, otot tegang, pusing, hingga kesemutan.

"Low back pain sesuatu yang berbeda. Low back pain 80-90 persen terjadi otot dan ligamen," kata dia dalam keterangannya, Selasa (29/11).

Maka dari itu, dr. Nicko menegaskan, sebagai tenaga kesehatan, dirinya selalu berusaha memberikan edukasi kepada pasien bagaimana peregangan atau stretching yang baik. Idealnya, dr. Nicko memaparkan, setelah duduk 30 menit sebaiknya melakukan stretching.

"Boleh kombinasi ringan dengan gerakan sederhana atau berdiri. Begitu juga saat di mobil, ada cara peregangan yang benar," imbuhnya.

Gejala Low Back Pain

Menurut dr. Nicko, gejala low back pain dan cara pengobatannya ditentukan dengan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh pasien. Hal ini dikarenakan keluhan setiap pasien tentunya berbeda.

Pasien dengan keluhan gejala ringan, akan menghilang dengan istirahat. Karena itu dalam pengobatan pun masing-masing pasien berbeda.

"80-90 persen itu akan sembuh dengan sendirinya. Tanpa intervensi aneh-aneh," ucap dia.

Akan tetapi, pada beberapa kasus ada gejala yang menjadi alarm atau bendera merah (red flag). Misalnya nyeri punggung yang sudah mengganggu tidur.

Bisa juga terjadi penurunan kekuatan otot. Ataupun ada nyeri menjalar, hingga mengganggu pola berjalan.

"Pastikan keluhan Anda tak disertai gangguan terhadap buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), hingga gangguan seksual. Ketika itu terjadi, belum tentu bahaya tetapi ada something wrong," imbau dr. Nicko.

Berikut ini adalah gejala low back pain yang sering ditemukan pada pasien:

  1. Pegal-pegal di bagian pinggang bawah, nyeri lokal.
  2. Biasanya diperberat aktivitas
  3. Nyeri terasa berkurang saat istirahat. Rasa sakit dan tak nyaman saja.

Sementara itu, faktor risiko low back pain antara lain:

  1. Usia,
  2. Riwayat jatuh
  3. Berat badan berlebih
  4. Posisi dominan membungkuk
  5. Terlalu sering mengangkat benda yang berat
Tatalaksana Terapi

Pasien datang ke dokter umumnya mengeluhkan nyeri di bagian pinggang dan punggung saat mengunjungi dokter. Setelah itu dokter akan melakukan asesmen, atau pemeriksaan apa saja faktor risiko dan pemicunya.

"Setelah dianalisis paling banyak ternyata karena pengaruh aktivitas di tempat kerja atau sering angkat berat," jelas dr. Nicko.

Pertolongan pertama biasanya dokter memberikan obat-obatan ringan seperti pain killer, pelemas otot, hingga fisioterapi.

"Pada pasien-pasien berat, bisa dilakukan penyuntikan, radio frekuensi, hingga jalan terakhir adalah pembedahan, hanya sekitar 3-5 persen pasien," jelasnya.

Pertolongan pertama pada pasien di rumah bisa juga menggunakan obat oles. Atau boleh juga mengonsumsi pereda nyeri, seperti paracetamol.

Faktor Lain Pemicu Low Back Pain

• Saraf kejepit

Perlu diketahui bahwa saraf di bagian belakang lebih rentan mengalami cedera. Oleh karena itu, Anda harus lebih berhati-hati karena risiko untuk terjadi bagian luar saraf yang robek, atau seperti rasa tertarik atau terjepit.

• Penyempitan tulang belakang

Spinal stenosis atau bisa juga disebut sebagai penyempitan tulang belakang adalah kondisi ketika tulang belakang menyempit. Tekanan pada sumsum tulang belakang, juga saraf di sekitarnya, bisa menyebabkan mati rasa, kram, serta sakit pinggang belakang.

Abnormal spine

Abnormal spine atau lekukan tulang belakang yang tidak normal terdiri dari beberapa jenis, seperti skoliosis, kifosis, atau lordosis. Lengkungan tersebut bisa memberikan tekanan pada otot, tendon, ligamen, serta menyebabkan sakit pinggang belakang.

• Radang sendi

Peradangan pada area persendian tulang panggul biasanya diawali dengan robekan kecil. Dari kerusakan tersebut hingga menimbulkan rasa nyeri, butuh proses pergeseran tulang yang terjadi secara berulang kali.

Solusi Low Back Pain Mayapada Hospital

Mayapada Hospital memberikan solusi untuk mengatasi nyeri pada daerah tulang belakang dengan terapi, yaitu:

Heating: IRR/SWD/MWD

Heating adalah suatu bentuk pemanasan dengan modalitas tertentu seperti IRR, SWD, maupun MWD, yang digunakan sesuai dengan kebutuhan kondisi pasien.

• TENS

TENS merupakan alat elektrikal terapi yang menghasilkan gelombang mekanik/getar dengan frekuensi tertentu.

• Ultrasound

Ultrasound merupakan salah satu modalitas terapi yang berbentuk gelombang suara , menghasilkan efek micro massage pada jaringan yang sedang diterapi.

Excercise/Terapi Latihan

Terapi Latihan dilakukan dengan mengunakan bermacam-macam metode dari massage (efflurage, friksen, palm kneeding, dan yang lainnya), terapi latihan dari stretching, strengthening dan isometrik, serta active exercise.

Teknologi Endoskopi

Dalam mengatasi nyeri akibat gangguan tulang belakang juga dapat dilakukan tindakan BESS atau Biportal Endoscopic Spine Surgery. Teknologi endoskopi tersebut lebih membuat pasien merasa nyaman.

"Permasalahan tulang belakang yang disebabkan oleh jepitan saraf kini tidak perlu dilakukan operasi bedah terbuka. Tindakan BESS adalah tindakan minimal invasif menggunakan alat endoskopi untuk mengatasi masalah tulang belakang," ujar dr. Nicko.

BESS dapat dilakukan pada pasien lansia karena dengan prosedur minimal invasif, risiko komplikasi sangat minimal, dan waktu pemulihan lebih cepat sehingga aman untuk pasien lansia. Metode ini juga memberikan tingkat keberhasilan yang tinggi, sehingga pasien dapat segera beraktivitas kembali pasca tindakan.

Mayapada Hospital memiliki Orthopedic Center yaitu layanan komprehensif untuk menangani gangguan pada tulang, sendi, dan otot, seperti gangguan pada tulang belakang, lutut, panggul, tangan dan kaki.

Didukung tim Dokter Spesialis Orthopedi dari berbagai subspesialisasi, Orthopedic Center Mayapada Hospital mampu menangani berbagai kasus. Seperti gangguan tulang belakang, penggantian sendi lutut dan panggul, cedera ligamen, tulang dan otot secara minimal invasif, termasuk cedera olahraga.

Berikut Tim Dokter Orthopedic Center Konsultan Spine Mayapada Hospital:

• Dr. Rizal Pohan, SpOT(K)Spine (Mayapada Hospital Tangerang)
• Dr. Starifulkani Arif, SpOT(K)Spine (Mayapada Hospital Jakarta Selatan)
• Dr. Nicko Perdana Hardiansyah, SpOT(K)Spine (Mayapada Hospital Kuningan)
• Dr. Putu Bagus Didiet Khresna Wibawa, SpOT(K)Spine (Mayapada Hospital Kuningan)
• Dr. Harun Rosidi, SpOT(K)Spine (Mayapada Hospital Bogor)

Bagi Anda yang mengalami gejala low back pain, jangan tunggu lagi dan segera lakukan konsultasi melalui https://bit.ly/dokterorthopedi-mh.

(rir/rir)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER