Penanganan HIV/AIDS di RI, Belum Semua Pasien Dapat Akses Obat

CNN Indonesia
Kamis, 01 Des 2022 10:30 WIB
Perayaan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengingatkan bahwa penanganannya di Indonesia masih belum optimal. Belum semua pasien HIV/AIDS mendapatkan akses obat. Ilustrasi. Perayaan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengingatkan bahwa penanganannya di Indonesia masih belum optimal. (iStockphoto/atakan
Jakarta, CNN Indonesia --

Perayaan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengingatkan bahwa penanganan HIV/AIDS di Indonesia masih belum optimal.

Sederet pekerjaan rumah masih perlu diselesaikan. Apalagi, dari sekian banyak ODHIV (orang dengan HIV/AIDS), cuma segelintir yang menjalani pengobatan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi mengatakan bahwa sebenarnya dalam kurun waktu 2010-2020 ada kemajuan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Namun, pandemi Covid-19 memperlambat upaya eliminasi HIV/AIDS pada 2030.

Hingga September 2020, capaian dari target 95-95-95 yang dicanangkan belum optimal. Target 95-95-95 berarti 95 persen ODHIV hidup dan tahu statusnya, 95 persen ODHIV menjalani pengobatan, dan 95 persen ODHIV dengan virus tersupresi.

Akan tetapi, dari estimasi 526.841 ODHIV di Indonesia, 'hanya' 79 persen (417.863) ODHIV yang hidup dan tahu statusnya. Tak cuma itu, hanya sebanyak 41 persen (169.767) ODHIV yang menjalani pengobatan dan 16 persen (27.381) ODHIV yang virusnya tersupresi.

"Permasalahan saat ini lebih pada bagaimana kita bisa melakukan follow up orang yang positif lalu masuk pengobatan. Kemudian yang pengobatan harus dicek juga bagaimana kondisinya. Dua hal ini perlu lebih fokus lagi," ujar Imran dalam konferensi pers daring bersama Kemenkes dalam rangka Hari AIDS Sedunia, Selasa (29/11).

Ibu dan anak

Yang cukup memprihatinkan adalah perempuan, terutama ibu dan anak dengan HIV/AIDS. Imran mengatakan bahwa dari total sekitar 12.500 anak 12 tahun ke bawah dengan status HIV, hanya sekitar 7.800 anak yang memperoleh pengobatan.

ODHIV yang masih berusia anak tentu masih sangat tergantung pada orang tua. Dia menyebut gap angka yang begitu besar antara anak dengan HIV/AIDS dan yang sudah memiliki akses terhadap ARV terletak pada akses pengetahuan dan layanan kesehatan pada ibunya.

ilustrasi hivIlustrasi. Perayaan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengingatkan bahwa penanganannya di Indonesia masih belum optimal. (iStockphoto/Gam1983)

Misalnya, jika mau ditarik ke belakang, hanya sebagian ibu hamil yang melakukan skrining HIV. Dari data yang ada, dari sekitar 5,2 juta ibu hamil, hanya sekitar 2 juta yang melakukan skrining HIV. Sementara saat ditemukan positif, ibu enggan mengungkapkan pada keluarga.

"Kalau positif, ditanya, 'Kamu kena [HIV] dari mana?'. Ini suatu hal yang sangat berat untuk dijawab. Beberapa kasus menimbulkan pertengkaran dalam keluarga. Ujungnya ibu dan bayi tidak bisa akses obat gara-gara permasalahan seperti ini," imbuhnya.

Tim P2PM pun menemukan perempuan di beberapa daerah masih menggantungkan pengambilan keputusan pada laki-laki atau keluarga. Hal ini pula yang menghambat aksesnya terhadap obat.

Faktanya, pencegahan HIV/AIDS di Indonesia memang masih menghadapi aneka tantangan. Santoso Edi Budiono, anggota panel ahli HIV-AIDS & IMS Kemenkes, mengaku masih ada anggapan bahwa edukasi soal kondom berarti menghalalkan seks bebas. Hal ini ditambah stigma negatif yang masih melekat pada HIV/AIDS.

Kemenkes pun mengupayakan edukasi tentang HIV/AIDS lewat orang yang seusia atau sebaya. Harapannya, edukasi akan lebih ditangkap daripada yang diberikan oleh guru dan orang tua.

"Jadi bisa membangun kesan, HIV ini enggak ada bedanya dengan hipertensi dan diabetes. Selama minum obat, enggak ada masalah," katanya.



(els/asr)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER