Meramal Masa Depan Tren Wahana Horor, 'Unik' tapi Tetap Diminati
CNN Indonesia
Kamis, 29 Des 2022 17:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Wahana horor Dendam Hotel Palmerah di Jakarta. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagaimana nasib wisata horor di masa mendatang? Apakah wisata macam ini akan bisa meraup pengunjung yang ingin menjajal sensasi? Mungkin dua pertanyaan ini relevan dengan mulai maraknya tren wisata horor di sejumlah tempat.
Nico Putra Budiman, pendiri Kaia Project, mungkin punya jawabannya. Dia sendiri tidak menyangka antusiasme akan wahana 'Dendam Hotel Palmerah' yang cukup tinggi. Padahal ini kali pertama timnya mengerjakan wahana horor.
"Jujur sebelum bikin, ya sudah bikin aja. (Ternyata) 2-3 hari pertama itu total sekitar tiga ribuan. Menurut kami itu besar sekali. Antrean mengular sampai ujung, ada yang antre sampai tiga jam. Kami senang, bangga, bersyukur," ujar Nico saat ditemui di wahana 'Dendam Hotel Palmerah, Twin Plaza Hotel, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Rumah Hantu Production yang konsisten di jalur horor juga meraup animo cukup baik. Project Manager Rumah Hantu Production Nizhan Prayoga menuturkan tiap kali rumah produksinya menghadirkan wahana horor, pengunjung terbilang banyak dan datang dari berbagai kalangan usia.
Keduanya pun sepakat bahwa tren wisata horor di Indonesia ke depan akan tetap eksis dan ramai peminat. Nico berkata, pencinta horor terbilang banyak terlebih meski takut, orang Indonesia tetap penasaran untuk menjawab tantangan.
Nizhan menambahkan wisata seperti ini akan tetap memiliki penikmat terutama mereka yang memang suka horor. "Antusiasme tinggi apalagi saat film horor tayang dan kami membuat pertunjukan [wahana]," kata dia dalam wawancara terpisah.
Pengamat wisata Sapta Nirwandar berpendapat wisata horor memang terbilang wisata dengan keunikan tersendiri. Jenis wisata seperti ini memang ada yang suka meski hanya kalangan tertentu.
"Pernah dengar Nyi Roro Kidul? Wisata yang sedikit menyeramkan ada di situ [Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu]. Itu juga [wisata] horor berkaitan dengan kultur tapi ada metafisika, mistisnya," kata Sapta pada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Hanya untuk kalangan Tertentu
Pengunjung Wahana Dendam Hotel Palmerah sedang ditakut-takuti. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Menurut Sapta, kegiatan wisata kini jadi salah satu kebutuhan dasar. Kemudian meski Anda tidak mengunjungi destinasi wisata tertentu tapi pergi ke suatu daerah dalam rangka kunjungan keluarga, hal itu juga disebut wisata.
"Sekarang tidak hanya sekadar hiburan, kegembiraan tapi harus dibumbui [hal lain] di mana aktivitas yang dilakukan sesuai dengan gaya hidup. Kalau Anda suka marine, ya mestinya ke laut. Kalau Anda suka kuliner, ya ke tempat kuliner," katanya.
Kalau suka horor? Tentu saja wisata bakal berhubungan dengan dunia horor semisal mengunjungi wahana horor atau destinasi wisata dengan mitos atau legenda tertentu.
Ada beragam jenis wisata seperti wisata alam, budaya dan man made atau objek wisata buatan manusia. Wahana horor termasuk dalam wisata man made. Hanya saja, objek wisata buatan kerap dipandang miring dibanding wisata alam atau budaya.
"Man made enggak selalu jelek, kadang story telling [yang menguatkan dan membuat objek wisata menarik perhatian pengunjung]. Misal, balkon Romeo-Juliet. Itu kan metamorfosa, disebut tempat Romeo dan Juliet memadu kasih. Saat balkon dibuat, foto-fotolah orang di situ," kata Wamenparekraf periode 2011-2014 ini.
Baik 'Dendam Hotel Palmerah' dan wahana rumah hantu kreasi Rumah Hantu Production juga mengusung cerita dan jadi daya tarik pengunjung.
Wahana 'Dendam Hotel Palmerah', kata Nico, membuat wahana 'Kamar Terlarang' di lantai 21 atau lantai tertinggi Twin Plaza Hotel. Konon, lantai 22 di salah satu hotel di kawasan Palmerah tidak bisa diakses. Cerita legendaris ini yang diusung dalam wahana di lantai 21.
"Tiap kali orang mau naik lift ke lantai 22, enggak bisa. Turunnya tetep di lantai 21. Nah di situlah kami angkat cerita ini. Sama-sama hotel di kawasan Palmerah tapi bukan hotel ini," imbuhnya.
Sementara Rumah Hantu Production yang memang digawangi para lulusan kampus kesenian mengolah wahana jadi 'panggung' pertunjukan. Karena hantu lokal lebih banyak diminati, mereka pun mengangkat wahana bertema rumah kuntilanak.
"Kami menyediakan tour guide. Nantinya pengunjung enggak cuma ditakut-takuti, sebab kami lulusan kampus kesenian ada sisi dialog, teater yang menceritakan sinopsis [konsep ceritanya]," kata dia.
Kendati demikian, wisata horor sepertinya memang hanya akan menarik wisatawan dari kalangan tertentu terutama penyuka horor. Sapta tidak melihat wisata horor dijadikan tujuan wisata umum.
Orang mungkin berkunjung ke wahana horor atau destinasi wisata bernuansa klenik karena mengikuti kelompok atau hobi. Bayangkan, jika Anda punya ide wisata berkunjung ke rumah hantu dan diajukan ke keluarga, tentu tidak semua anggota keluarga setuju.
Hal ini tentu bakal beda kalau Anda mengajak keluarga untuk wisata alam di Bali. Minat akan wisata seperti ini tentu lebih tinggi ketimbang ditakut-takuti di wahana horor.
"Saya pikir, wisata horor tetap ada peminatnya, cuma untuk kelompok tertentu yang [jumlahnya] segitu saja. Seperti wisata panjat tebing, ya ada peminatnya, ya yang berani," ujarnya.
Pemeran hantu dalam wahana horor Dendam Hotel Palmerah. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Dia pun memberikan sedikit catatan untuk penyelenggara wisata horor agar bisa mempertahankan eksistensinya. Story telling jelas perlu dipikirkan sebab ini salah satu cara menarik perhatian calon pengunjung.
Saat penyelenggara berhasil membuat orang penasaran dengan kemasan cerita wahana, pengunjung pun akan datang untuk mengobati rasa penasarannya. Kemudian informasi lengkap buat pengunjung sebab hal ini berkaitan dengan keselamatan mereka.
"Di beberapa destinasi ada lorong gelap, [misal], tapi orang tahu itu bagian dari wisata, ada atraksi. Dulu ada di Taman Mini [Indonesia Indah], ada sesuatu yang melambai-lambai, ada yang jalan, ya itu termasuk atraksi," kata Sapta.
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagaimana nasib wisata horor di masa mendatang? Apakah wisata macam ini akan bisa meraup pengunjung yang ingin menjajal sensasi? Mungkin dua pertanyaan ini relevan dengan mulai maraknya tren wisata horor di sejumlah tempat.
Nico Putra Budiman, pendiri Kaia Project, mungkin punya jawabannya. Dia sendiri tidak menyangka antusiasme akan wahana 'Dendam Hotel Palmerah' yang cukup tinggi. Padahal ini kali pertama timnya mengerjakan wahana horor.
"Jujur sebelum bikin, ya sudah bikin aja. (Ternyata) 2-3 hari pertama itu total sekitar tiga ribuan. Menurut kami itu besar sekali. Antrean mengular sampai ujung, ada yang antre sampai tiga jam. Kami senang, bangga, bersyukur," ujar Nico saat ditemui di wahana 'Dendam Hotel Palmerah, Twin Plaza Hotel, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Rumah Hantu Production yang konsisten di jalur horor juga meraup animo cukup baik. Project Manager Rumah Hantu Production Nizhan Prayoga menuturkan tiap kali rumah produksinya menghadirkan wahana horor, pengunjung terbilang banyak dan datang dari berbagai kalangan usia.
Keduanya pun sepakat bahwa tren wisata horor di Indonesia ke depan akan tetap eksis dan ramai peminat. Nico berkata, pencinta horor terbilang banyak terlebih meski takut, orang Indonesia tetap penasaran untuk menjawab tantangan.
Nizhan menambahkan wisata seperti ini akan tetap memiliki penikmat terutama mereka yang memang suka horor. "Antusiasme tinggi apalagi saat film horor tayang dan kami membuat pertunjukan [wahana]," kata dia dalam wawancara terpisah.
Pengamat wisata Sapta Nirwandar berpendapat wisata horor memang terbilang wisata dengan keunikan tersendiri. Jenis wisata seperti ini memang ada yang suka meski hanya kalangan tertentu.
"Pernah dengar Nyi Roro Kidul? Wisata yang sedikit menyeramkan ada di situ [Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu]. Itu juga [wisata] horor berkaitan dengan kultur tapi ada metafisika, mistisnya," kata Sapta pada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Hanya untuk kalangan Tertentu
Pengunjung Wahana Dendam Hotel Palmerah sedang ditakut-takuti. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Menurut Sapta, kegiatan wisata kini jadi salah satu kebutuhan dasar. Kemudian meski Anda tidak mengunjungi destinasi wisata tertentu tapi pergi ke suatu daerah dalam rangka kunjungan keluarga, hal itu juga disebut wisata.
"Sekarang tidak hanya sekadar hiburan, kegembiraan tapi harus dibumbui [hal lain] di mana aktivitas yang dilakukan sesuai dengan gaya hidup. Kalau Anda suka marine, ya mestinya ke laut. Kalau Anda suka kuliner, ya ke tempat kuliner," katanya.
Kalau suka horor? Tentu saja wisata bakal berhubungan dengan dunia horor semisal mengunjungi wahana horor atau destinasi wisata dengan mitos atau legenda tertentu.
Ada beragam jenis wisata seperti wisata alam, budaya dan man made atau objek wisata buatan manusia. Wahana horor termasuk dalam wisata man made. Hanya saja, objek wisata buatan kerap dipandang miring dibanding wisata alam atau budaya.
"Man made enggak selalu jelek, kadang story telling [yang menguatkan dan membuat objek wisata menarik perhatian pengunjung]. Misal, balkon Romeo-Juliet. Itu kan metamorfosa, disebut tempat Romeo dan Juliet memadu kasih. Saat balkon dibuat, foto-fotolah orang di situ," kata Wamenparekraf periode 2011-2014 ini.
Agar Wahana Horor Bisa Mempertahankan Eksistensi
Wahana horor The Village di Jakarta. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Baik 'Dendam Hotel Palmerah' dan wahana rumah hantu kreasi Rumah Hantu Production juga mengusung cerita dan jadi daya tarik pengunjung.
Wahana 'Dendam Hotel Palmerah', kata Nico, membuat wahana 'Kamar Terlarang' di lantai 21 atau lantai tertinggi Twin Plaza Hotel. Konon, lantai 22 di salah satu hotel di kawasan Palmerah tidak bisa diakses. Cerita legendaris ini yang diusung dalam wahana di lantai 21.
"Tiap kali orang mau naik lift ke lantai 22, enggak bisa. Turunnya tetep di lantai 21. Nah di situlah kami angkat cerita ini. Sama-sama hotel di kawasan Palmerah tapi bukan hotel ini," imbuhnya.
Sementara Rumah Hantu Production yang memang digawangi para lulusan kampus kesenian mengolah wahana jadi 'panggung' pertunjukan. Karena hantu lokal lebih banyak diminati, mereka pun mengangkat wahana bertema rumah kuntilanak.
"Kami menyediakan tour guide. Nantinya pengunjung enggak cuma ditakut-takuti, sebab kami lulusan kampus kesenian ada sisi dialog, teater yang menceritakan sinopsis [konsep ceritanya]," kata dia.
Kendati demikian, wisata horor sepertinya memang hanya akan menarik wisatawan dari kalangan tertentu terutama penyuka horor. Sapta tidak melihat wisata horor dijadikan tujuan wisata umum.
Orang mungkin berkunjung ke wahana horor atau destinasi wisata bernuansa klenik karena mengikuti kelompok atau hobi. Bayangkan, jika Anda punya ide wisata berkunjung ke rumah hantu dan diajukan ke keluarga, tentu tidak semua anggota keluarga setuju.
Hal ini tentu bakal beda kalau Anda mengajak keluarga untuk wisata alam di Bali. Minat akan wisata seperti ini tentu lebih tinggi ketimbang ditakut-takuti di wahana horor.
"Saya pikir, wisata horor tetap ada peminatnya, cuma untuk kelompok tertentu yang [jumlahnya] segitu saja. Seperti wisata panjat tebing, ya ada peminatnya, ya yang berani," ujarnya.
Pemeran hantu dalam wahana horor Dendam Hotel Palmerah. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Dia pun memberikan sedikit catatan untuk penyelenggara wisata horor agar bisa mempertahankan eksistensinya. Story telling jelas perlu dipikirkan sebab ini salah satu cara menarik perhatian calon pengunjung.
Saat penyelenggara berhasil membuat orang penasaran dengan kemasan cerita wahana, pengunjung pun akan datang untuk mengobati rasa penasarannya. Kemudian informasi lengkap buat pengunjung sebab hal ini berkaitan dengan keselamatan mereka.
"Di beberapa destinasi ada lorong gelap, [misal], tapi orang tahu itu bagian dari wisata, ada atraksi. Dulu ada di Taman Mini [Indonesia Indah], ada sesuatu yang melambai-lambai, ada yang jalan, ya itu termasuk atraksi," kata Sapta.