Traveling tanpa Itinerary, Berlabuh di Ipoh hingga Pemilu Kamboja
CNN Indonesia
Sabtu, 18 Feb 2023 10:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kota Ipoh di Malaysia. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketika sampai di Malaysia, Farchan Noor Rachman bersama istrinya secara spontan memilih bertualang ke Kota Ipoh. Keputusan itu diambil karena bus pertama yang mereka lihat di bandara adalah yang jurusan ke Ipoh.
Sampai di Ipoh, Farchan menemukan kejutan-kejutan dalam perjalanannya di wilayah yang merupakan ibu kota negara bagian Perak itu. Salah satunya adalah fakta bahwa salah satu merek white coffee terkena ternyata berasal dari Ipoh .
Menurut Farchan, Ipoh kota yang kecil, bahkan kalau mengelilingi kotanya sampai selesai, barangkali hanya memakan waktu sehari atau dua hari. Namun, yang membuat dia terkesan adalah kultur dari orang-orang di wilayah itu.
"Kan kebanyakan penduduknya (Ipoh) orang-orang peranakan Tionghoa, yang merantau ke melayu dulu dari kota asalnya yang merupakan wilayah pertambangan, terus ke Ipoh memulai hidup dari perkebunan, sampai akhirnya jadi seperti sekarang, cultural mix di Ipoh bagus," beber Farchan kepada CNNIndonesia.com.
Salah satu yang paling membuat Farchan takjub dari Ipoh adalah dari sisi kulinernya. "Kalau dibandingkan di Penang, Melaka, Johor Baru atau KL (Kuala Lumpur), itu (kulinernya) memang lebih autentik kalau di Ipoh," tambahnya.
Suasana di Kota Ipoh, Malaysia. (iStockphoto)
Dia mengungkapkan, perjalanan ke Ipoh paling menarik, karena biasanya pelancong jika ke Malaysia kan pergi ke Kuala Lumpur, Penang, Melaka, atau Johor Baru. Tapi, dia dan istri memilih perjalanan ke Ipoh secara random alias tidak direncanakan. Ipoh sendiri memang bukan pilihan yang lazim bagi wisatawan.
Gaya traveling seperti ini sudah dilakoni Farchan dan istri selama lebih dari 10 tahun, sejak keduanya masih pacaran. Dia mengaku tidak pernah punya itinerary atau jadwal rencana perjalanan ketika pergi melancong.
Namun, dengan gaya traveling seperti itu, bukan berarti Farchan tidak pernah mendapatkan masalah. Saat dia melancong ke Kamboja, Farchan bercerita sempat mengalami kesulitan transportasi, karena negara itu ternyata sedang menggelar pemilihan umum.
"Kami gak riset tanggal keberangkatannya, jaman dulu sebelum pandemi kita kalau tanggal keberangkatan kan gak bisa riset, karena tergantung tiket murah. Dapat harga 300-400 ribu rupiah langsung berangkat," ucapnya.
Saat itu, dia dan istri tengah berada di objek wisata Angkor Wat di Kota Siem Reap dan hendak kembali ke Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Lalu, dia mendapat informasi dari orang lokal bahwa tepat hari itu sedang berlangsung pemilu, sehingga tidak ada bus beroperasi dari Siem Reap ke Phnom Penh.
"Jadi tidak ada bus sama sekali. Ya akhirnya dapat sih kendaraan yang ke Phnom Penh, cuma harganya lebih tinggi, semacam travel, itu pun nyarinya harus satu-satu, jadi seharian habis buat nyari transportasi ke Phnom Penh itu, harusnya bisa buat jalan-jalan di tempat lain, akhirnya terbuang satu hari," tuturnya.
Keduanya memang berencana ingin berkeliling Phnom Penh sekembalinya dari Angkor Wat, karena saat lusanya Farchan dan istri mesti pulang ke Indonesia, sehingga tak ada waktu lagi.
"Tapi karena itu lagi pemilu, jadi di Phnom Penh juga enggak ada angkutan apapun, ya akhirnya jalan kaki saja. Karena Kamboja penguasanya masih militer, jadi pas pemilu itu tentara di mana-mana," ujarnya.
Karena punya kesamaan hobi traveling dengan istri dan bergaya spontan, tak jarang ada perbedaan keinginan destinasi saat sampai di negara tujuan. Namun, biasanya Farchan dan istri mencari jalan tengah, karena enggak mungkin bisa terwujud semua.
"Kebetulan kalau saya dan istri minatnya sama di kultur dan kuliner, jadi biasanya ya paling ributnya di situ-situ aja pas pilih destinasi saat traveling," ujarnya.
Bagi yang ingin menjajal gaya traveling spontan, Farchan punya tips, terutama dalam urusan penginapan. Menurut dia, apabila kota yang dipilih untuk bertualang terbilang kota besar seperti Kuala Lumpur atau Singapura, bisa langsung pesan saat tiba.
"Kalau waktu ke Ipoh, karena kotanya kecil dan belum seperti apa di sana, dalam perjalanan di bus menuju ke sana, saya pesan penginapan, karena takut di sana susah atau malah enggak dapat," ungkapnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketika sampai di Malaysia, Farchan Noor Rachman bersama istrinya secara spontan memilih bertualang ke Kota Ipoh. Keputusan itu diambil karena bus pertama yang mereka lihat di bandara adalah yang jurusan ke Ipoh.
Sampai di Ipoh, Farchan menemukan kejutan-kejutan dalam perjalanannya di wilayah yang merupakan ibu kota negara bagian Perak itu. Salah satunya adalah fakta bahwa salah satu merek white coffee terkena ternyata berasal dari Ipoh .
Menurut Farchan, Ipoh kota yang kecil, bahkan kalau mengelilingi kotanya sampai selesai, barangkali hanya memakan waktu sehari atau dua hari. Namun, yang membuat dia terkesan adalah kultur dari orang-orang di wilayah itu.
"Kan kebanyakan penduduknya (Ipoh) orang-orang peranakan Tionghoa, yang merantau ke melayu dulu dari kota asalnya yang merupakan wilayah pertambangan, terus ke Ipoh memulai hidup dari perkebunan, sampai akhirnya jadi seperti sekarang, cultural mix di Ipoh bagus," beber Farchan kepada CNNIndonesia.com.
Salah satu yang paling membuat Farchan takjub dari Ipoh adalah dari sisi kulinernya. "Kalau dibandingkan di Penang, Melaka, Johor Baru atau KL (Kuala Lumpur), itu (kulinernya) memang lebih autentik kalau di Ipoh," tambahnya.
Suasana di Kota Ipoh, Malaysia. (iStockphoto)
Dia mengungkapkan, perjalanan ke Ipoh paling menarik, karena biasanya pelancong jika ke Malaysia kan pergi ke Kuala Lumpur, Penang, Melaka, atau Johor Baru. Tapi, dia dan istri memilih perjalanan ke Ipoh secara random alias tidak direncanakan. Ipoh sendiri memang bukan pilihan yang lazim bagi wisatawan.
Gaya traveling seperti ini sudah dilakoni Farchan dan istri selama lebih dari 10 tahun, sejak keduanya masih pacaran. Dia mengaku tidak pernah punya itinerary atau jadwal rencana perjalanan ketika pergi melancong.
Namun, dengan gaya traveling seperti itu, bukan berarti Farchan tidak pernah mendapatkan masalah. Saat dia melancong ke Kamboja, Farchan bercerita sempat mengalami kesulitan transportasi, karena negara itu ternyata sedang menggelar pemilihan umum.
"Kami gak riset tanggal keberangkatannya, jaman dulu sebelum pandemi kita kalau tanggal keberangkatan kan gak bisa riset, karena tergantung tiket murah. Dapat harga 300-400 ribu rupiah langsung berangkat," ucapnya.
Nyaris Terjebak di Angkor Wat Gegara Pemilu
Objek Wisata Angkor Wat di Kamboja. (AFP/Tang Chhin Sothy)
Saat itu, dia dan istri tengah berada di objek wisata Angkor Wat di Kota Siem Reap dan hendak kembali ke Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Lalu, dia mendapat informasi dari orang lokal bahwa tepat hari itu sedang berlangsung pemilu, sehingga tidak ada bus beroperasi dari Siem Reap ke Phnom Penh.
"Jadi tidak ada bus sama sekali. Ya akhirnya dapat sih kendaraan yang ke Phnom Penh, cuma harganya lebih tinggi, semacam travel, itu pun nyarinya harus satu-satu, jadi seharian habis buat nyari transportasi ke Phnom Penh itu, harusnya bisa buat jalan-jalan di tempat lain, akhirnya terbuang satu hari," tuturnya.
Keduanya memang berencana ingin berkeliling Phnom Penh sekembalinya dari Angkor Wat, karena saat lusanya Farchan dan istri mesti pulang ke Indonesia, sehingga tak ada waktu lagi.
"Tapi karena itu lagi pemilu, jadi di Phnom Penh juga enggak ada angkutan apapun, ya akhirnya jalan kaki saja. Karena Kamboja penguasanya masih militer, jadi pas pemilu itu tentara di mana-mana," ujarnya.
Karena punya kesamaan hobi traveling dengan istri dan bergaya spontan, tak jarang ada perbedaan keinginan destinasi saat sampai di negara tujuan. Namun, biasanya Farchan dan istri mencari jalan tengah, karena enggak mungkin bisa terwujud semua.
"Kebetulan kalau saya dan istri minatnya sama di kultur dan kuliner, jadi biasanya ya paling ributnya di situ-situ aja pas pilih destinasi saat traveling," ujarnya.
Bagi yang ingin menjajal gaya traveling spontan, Farchan punya tips, terutama dalam urusan penginapan. Menurut dia, apabila kota yang dipilih untuk bertualang terbilang kota besar seperti Kuala Lumpur atau Singapura, bisa langsung pesan saat tiba.
"Kalau waktu ke Ipoh, karena kotanya kecil dan belum seperti apa di sana, dalam perjalanan di bus menuju ke sana, saya pesan penginapan, karena takut di sana susah atau malah enggak dapat," ungkapnya.