Sepenggal Kisah dari Kota yang Pernah Dianggap Aib Negara
CNN Indonesia
Jumat, 10 Mar 2023 18:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Distrik Sassi, Matera, di bagian selatan Italia. (Reuters/Yara Nardi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lokasi di Piazza Vittorio Veneto di Kota Matera, di selatan Italia membuat seorang insinyur sipil asal Italia, Antonio Nicoletti, teringat kejadian mengejutkan ketika dia berusia 17 tahun. Kala itu, salah satu hamparan bunga di sekitar Piazza tiba-tiba runtuh ke dalam tanah.
Nicoletti kini berprofesi sebagai perencana kota dan direktur Dewan Pariwisata Basilicata. Kejadian runtuhnya hamparan bunga membuat para petugas lingkungan kota itu melihat apa yang terjadi di dalam tanah.
Mereka menyelam ke dalam air yang ada di bawah reruntuhan itu, ada juga yang membawa perahu karet untuk menjelajahi perairan di bawah tanah demi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Ternyata petak hamparan bunga itu dibangun di atas sebuah waduk raksasa yang berdekatan dengan distrik Sassi kuno, sebuah distrik dekat gua tua Matera. Distrik Sassi di Matera dihuni penduduk sejak sekitar 850 Masehi, distrik Sassi juga sempat dikenal sebagai "vergogna nazionale" atau aib negara.
Seperti dilansir BBC, penyematan sebutan aib negara diberikan pemerintah Italia pada awal 1950-an, ketika diketahui bahwa penduduknya hidup dalam kemelaratan, tanpa akses yang layak ke air bersih, listrik, penyakit atau saluran pembuangan. Distrik Sassi di Matera pun dievakuasi dan 20 ribu penduduk pindah ke gedung apartemen yang baru dibangun di pinggiran kota modern.
Penemuan kembali waduk itu mengejutkan banyak orang, baik di dalam maupun di luar Italia. Namun, bagi banyak Materani, mereka yang dibesarkan di distrik Sassi dan keturunan mereka, itu hanya memperkuat apa yang sudah mereka ketahui: Matera bukanlah tempat terbelakang.
Sebelum kejatuhannya yang tragis karena kemiskinan, kepadatan penduduk dan penyakit yang meluas, Matera telah menjadi komunitas yang sukses dan maju dengan sistem pengumpulan dan kanalisasi air hujan bawah tanah yang mengesankan.
Sejak abad ke-9, distrik Sassi adalah rumah bagi komunitas pemilik tanah, pengrajin, dan pedagang yang terjalin erat, dan, kemudian, petani serta penggembala, yang telah beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan yang sebagian besar tandus dan berbatu.
Rumah batu mereka kondusif untuk musim dingin yang sejuk dan musim panas yang panas seperti gurun, dan gua yang mereka gali dari batu kapur lunak di belakang rumah mereka ideal untuk menyimpan makanan karena menjaga suhu konstan.
Penduduk Matera juga menciptakan sistem reservoir sederhana, namun cerdik yang diukir dari batu yang mengumpulkan dan menyaring air hujan. "Untuk sebuah kota, akses ke aliran air sangat penting," kata Sabrina Centonze, seorang arsitek yang berspesialisasi dalam perumahan.
"Dalam ketidakhadiran mereka, Matera mengeksploitasi mata air dan air hujan, mengumpulkannya dalam berbagai jenis waduk yang disesuaikan dengan tujuan yang berbeda," tambahnya.
Limbah, air limbah, dan pupuk kandang didaur ulang. Komunitas yang sebagian besar mandiri menanam produknya sendiri di taman yang dibuat di atas atap tempat tinggal di bawah atau di pedesaan yang mengelilingi kota batu tua.
Kini, Matera telah menjadi salah satu destinasi wisata unik dan mengagumkan di Italia. Matera juga mendapat sebutan Kota Gua, di mana wisatawan bisa menghabiskan banyak waktu di gua. Mulai dari penginapan di dalam gua, tempat makan di dalam gua, sampai minum aperitivo di bar gua, dan bahkan melihat patung modern di museum gua.
Sejak menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1993 dan Ibukota Kebudayaan Eropa pada tahun 2019, jumlah pengunjung terus bertambah dan banyak gua telah diubah menjadi hotel dan restoran bergaya.
Matera terletak di sudut terpencil Italia Selatan di wilayah kecil Basilicata. Ini bukan tempat yang paling mudah untuk dijangkau, itulah sebabnya tempat ini relatif tidak dikenal, terutama oleh wisatawan mancanegara.
Jakarta, CNN Indonesia --
Lokasi di Piazza Vittorio Veneto di Kota Matera, di selatan Italia membuat seorang insinyur sipil asal Italia, Antonio Nicoletti, teringat kejadian mengejutkan ketika dia berusia 17 tahun. Kala itu, salah satu hamparan bunga di sekitar Piazza tiba-tiba runtuh ke dalam tanah.
Nicoletti kini berprofesi sebagai perencana kota dan direktur Dewan Pariwisata Basilicata. Kejadian runtuhnya hamparan bunga membuat para petugas lingkungan kota itu melihat apa yang terjadi di dalam tanah.
Mereka menyelam ke dalam air yang ada di bawah reruntuhan itu, ada juga yang membawa perahu karet untuk menjelajahi perairan di bawah tanah demi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Ternyata petak hamparan bunga itu dibangun di atas sebuah waduk raksasa yang berdekatan dengan distrik Sassi kuno, sebuah distrik dekat gua tua Matera. Distrik Sassi di Matera dihuni penduduk sejak sekitar 850 Masehi, distrik Sassi juga sempat dikenal sebagai "vergogna nazionale" atau aib negara.
Seperti dilansir BBC, penyematan sebutan aib negara diberikan pemerintah Italia pada awal 1950-an, ketika diketahui bahwa penduduknya hidup dalam kemelaratan, tanpa akses yang layak ke air bersih, listrik, penyakit atau saluran pembuangan. Distrik Sassi di Matera pun dievakuasi dan 20 ribu penduduk pindah ke gedung apartemen yang baru dibangun di pinggiran kota modern.
Penemuan kembali waduk itu mengejutkan banyak orang, baik di dalam maupun di luar Italia. Namun, bagi banyak Materani, mereka yang dibesarkan di distrik Sassi dan keturunan mereka, itu hanya memperkuat apa yang sudah mereka ketahui: Matera bukanlah tempat terbelakang.
Sebelum kejatuhannya yang tragis karena kemiskinan, kepadatan penduduk dan penyakit yang meluas, Matera telah menjadi komunitas yang sukses dan maju dengan sistem pengumpulan dan kanalisasi air hujan bawah tanah yang mengesankan.
Sejak abad ke-9, distrik Sassi adalah rumah bagi komunitas pemilik tanah, pengrajin, dan pedagang yang terjalin erat, dan, kemudian, petani serta penggembala, yang telah beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan yang sebagian besar tandus dan berbatu.
Matera Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO Sejak 1993
Kota Matera yang pernah disebut sebagai aib negara Italia. (Filippo Monnteforte / AFP)
Rumah batu mereka kondusif untuk musim dingin yang sejuk dan musim panas yang panas seperti gurun, dan gua yang mereka gali dari batu kapur lunak di belakang rumah mereka ideal untuk menyimpan makanan karena menjaga suhu konstan.
Penduduk Matera juga menciptakan sistem reservoir sederhana, namun cerdik yang diukir dari batu yang mengumpulkan dan menyaring air hujan. "Untuk sebuah kota, akses ke aliran air sangat penting," kata Sabrina Centonze, seorang arsitek yang berspesialisasi dalam perumahan.
"Dalam ketidakhadiran mereka, Matera mengeksploitasi mata air dan air hujan, mengumpulkannya dalam berbagai jenis waduk yang disesuaikan dengan tujuan yang berbeda," tambahnya.
Limbah, air limbah, dan pupuk kandang didaur ulang. Komunitas yang sebagian besar mandiri menanam produknya sendiri di taman yang dibuat di atas atap tempat tinggal di bawah atau di pedesaan yang mengelilingi kota batu tua.
Kini, Matera telah menjadi salah satu destinasi wisata unik dan mengagumkan di Italia. Matera juga mendapat sebutan Kota Gua, di mana wisatawan bisa menghabiskan banyak waktu di gua. Mulai dari penginapan di dalam gua, tempat makan di dalam gua, sampai minum aperitivo di bar gua, dan bahkan melihat patung modern di museum gua.
Sejak menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1993 dan Ibukota Kebudayaan Eropa pada tahun 2019, jumlah pengunjung terus bertambah dan banyak gua telah diubah menjadi hotel dan restoran bergaya.
Matera terletak di sudut terpencil Italia Selatan di wilayah kecil Basilicata. Ini bukan tempat yang paling mudah untuk dijangkau, itulah sebabnya tempat ini relatif tidak dikenal, terutama oleh wisatawan mancanegara.