Sejak usia 1 tahun, Nida tidak tumbuh dengan baik. Kulitnya pucat, perutnya buncit, persis seperti anak yang terkena gizi buruk. Dia mengidap thalassemia.( iStock/Gam1983)
Thalasemia Merenggut Senyum Putriku
Singkat waktu, setelah melakukan pengecekan ternyata benar, Nida mengidap Thalasemia. Konsekuensinya, Nida harus rutin menerima donor darah setiap dua pekan.
Mulanya, Faiz masih belum paham seberbahaya apa penyakit ini. Tapi setelah mencari referensi, berkonsultasi dengan dokter, Faiz tahu betapa penyakit ini bisa merenggut senyum putrinya seumur hidup.
"Kalut, mana waktu itu Agustus 2020 waktu Nida usianya masih 1,5 tahun. Awal pandemi juga, jadi stok darah sering kosong," kata Faiz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Golongan darah Faiz dengan Nida memang sama. Tapi dia tidak bisa mendonorkan darahnya setiap dua pekan. Tentu, Nida memerlukan pendonor lain agar kebutuhannya bisa terpenuhi.
Mencari darah ini bukan perkara mudah. Apalagi, saat pandemi stok darah kerap kosong baik di rumah sakit maupun PMI.
Faiz sering kali 'mengemis', meminta tolong kepada teman, kolega, rekan kerja, keluarga, bahkan tetangga agar bersedia menjadi pendonor untuk Nida.
Beberapa kali ada yang berbelas kasih memberikan darahnya, tapi sering juga mendapat penolakan.
"Sampai kirim pesan dimana-mana, bikin pengumuman di medsos kalau saya butuh darah, sulit sekali waktu pandemi 2020-2021 itu," kata Faiz.
Pendonor memberi anakku kehidupan
Seumur hidupnya, Nida harus melakukan transfusi darah. Hal ini dilakukan dua kali dalam satu bulan, atau dua pekan sekali.
Jika dia tidak menjalani transfusi, tubuhnya lemas, mudah terserang penyakit, kulitnya pun pucat. Nida juga akan mengeluh bahwa sekujur tubuhnya sakit.
Donor darah adalah satu-satunya jalan keluar agar Nida bisa menjalani hidup dengan normal. Faiz mengakui bahwa hidup keluarganya memang sangat bergantung pada para pendonor darah.
Sebagai salah satu orang tua yang memiliki anak pengidap Thalasemia, Faiz selalu mengingatkan bahwa donor darah yang dilakukan seseorang bisa menyelamatkan ribuan nyawa, salah satunya anak dia.
"Kami perlu darah, jadi terimakasih untuk yang sudah dan selalu rutin melakukan donor darah. karena begini, darah tidak ada pabriknya, pabriknya hanya tubuh manusia. Jadi kehidupan anak-anak thalasemia ini sangat bergantung pada orang lain, pada para pendonor darah ini," kata Faiz, menutup percakapan malam itu.
Bagi Ahmad Faiz (33) tak ada yang lebih indah selain tawa bahagia Nida, putri keduanya saat bermain dengan teman-teman sebayanya. Hal yang memang cukup langka karena kondisi kesehatan Nida (4) yang kerap naik turun.
Sejak usia 1 tahun, Nida tidak tumbuh dengan baik. Kulitnya pucat, perutnya buncit, persis seperti anak yang terkena gizi buruk. Nida juga sering sakit-sakitan. Setiap kali dibawa ke dokter, diagnosanya sama. Kalau tidak anemia, ya gizi buruk.
"Sekitar 2019 sering sakit, dibawa ke dokter dibilang gizi buruk, dipenuhi gizinya, tapi tidak ada perbaikan sama sekali," kata pria yang kerap disapa Faiz itu, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (13/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai sekitar awal 2020, HB darah Nida turun drastis. Demam tinggi dan nyaris pingsan. Nida membuat Faiz dan istrinya panik dan buru-buru merujuk Nida ke rumah sakit.
Dokter pun menyarankan Nida ditransfusi darah. Golongan darahnya A dan saat itu stok darah di rumah sakit masih aman.
"Nah habis transfusi dia sehat, sehat banget. Kita langsung mikir oh iya ini anak punya anemia kayaknya, yaudah kita kasih makan yang baik untuk penumbuh darah, kita jaga kesehatannya setelah transfusi itu," kata Faiz.
Sayangnya, 'normalnya' Nida ini hanya bertahan tiga bulan pascatransfusi. Setelah itu, kesehatannya kembali menurun. Kulitnya kembali pucat, lemas, dia juga mudah sekali sakit. Tubuhnya sangat rentan.
Faiz kebingungan. Padahal segala upaya agar darah anaknya tidak kurang selalu dilakukan.
Faiz pun mulai kalang kabut, apalagi saat itu pandemi Covid-19 sudah masuk ke Indonesia. Tapi, Faiz tetap membawa putri keduanya itu ke rumah sakit.
Singkat cerita, dokter yang menangani Nida mulai curiga. Tidak mungkin hanya dalam waktu tiga bulan anemianya kambuh, bahkan kondisinya lebih parah.
Dokter pun mulai curiga, Nida mengidap Thalasemia. Faiz yang saat itu belum paham penyakit apa, bahkan baru mendengar namanya hanya bisa mengangguk, mengikuti saran dokter agar Nida dirujuk ke RSCM dan melakukan uji Thalasemia.
"Saya gak tahu itu penyakit apa, pikirnya oh biasa kali ya kaya anemia. Karena kita tahunya penyakit darah ya kalau gak anemia, leukemia," kata Faiz.
Thalasemia Merenggut Senyum Putriku
Foto: iStock/Chan2545
Thalasemia Merenggut Senyum Putriku
Singkat waktu, setelah melakukan pengecekan ternyata benar, Nida mengidap Thalasemia. Konsekuensinya, Nida harus rutin menerima donor darah setiap dua pekan.
Mulanya, Faiz masih belum paham seberbahaya apa penyakit ini. Tapi setelah mencari referensi, berkonsultasi dengan dokter, Faiz tahu betapa penyakit ini bisa merenggut senyum putrinya seumur hidup.
"Kalut, mana waktu itu Agustus 2020 waktu Nida usianya masih 1,5 tahun. Awal pandemi juga, jadi stok darah sering kosong," kata Faiz.
Golongan darah Faiz dengan Nida memang sama. Tapi dia tidak bisa mendonorkan darahnya setiap dua pekan. Tentu, Nida memerlukan pendonor lain agar kebutuhannya bisa terpenuhi.
Mencari darah ini bukan perkara mudah. Apalagi, saat pandemi stok darah kerap kosong baik di rumah sakit maupun PMI.
Faiz sering kali 'mengemis', meminta tolong kepada teman, kolega, rekan kerja, keluarga, bahkan tetangga agar bersedia menjadi pendonor untuk Nida.
Beberapa kali ada yang berbelas kasih memberikan darahnya, tapi sering juga mendapat penolakan.
"Sampai kirim pesan dimana-mana, bikin pengumuman di medsos kalau saya butuh darah, sulit sekali waktu pandemi 2020-2021 itu," kata Faiz.
Pendonor memberi anakku kehidupan
Seumur hidupnya, Nida harus melakukan transfusi darah. Hal ini dilakukan dua kali dalam satu bulan, atau dua pekan sekali.
Jika dia tidak menjalani transfusi, tubuhnya lemas, mudah terserang penyakit, kulitnya pun pucat. Nida juga akan mengeluh bahwa sekujur tubuhnya sakit.
Donor darah adalah satu-satunya jalan keluar agar Nida bisa menjalani hidup dengan normal. Faiz mengakui bahwa hidup keluarganya memang sangat bergantung pada para pendonor darah.
Sebagai salah satu orang tua yang memiliki anak pengidap Thalasemia, Faiz selalu mengingatkan bahwa donor darah yang dilakukan seseorang bisa menyelamatkan ribuan nyawa, salah satunya anak dia.
"Kami perlu darah, jadi terimakasih untuk yang sudah dan selalu rutin melakukan donor darah. karena begini, darah tidak ada pabriknya, pabriknya hanya tubuh manusia. Jadi kehidupan anak-anak thalasemia ini sangat bergantung pada orang lain, pada para pendonor darah ini," kata Faiz, menutup percakapan malam itu.