Hotel Tertua Dunia Ternyata Ada di Jepang, Lokasinya di Pedalaman
CNN Indonesia
Rabu, 26 Jul 2023 19:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Nishiyama Onsen Keiunkan, hotel tertua di dunia. (Boltor via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0)
Jakarta, CNN Indonesia --
Siapa yang menyangka, hotel tertua di dunia ternyata berada di Jepang. Lokasinya berada di pedalaman pegunungan Prefektur Yamanashi, Jepang. Nama penginapan ini Nishiyama Onsen Keiunkan.
Berdasarkan legenda, pada tahun 705 Masehi, putra tertua Fujiwara no Kamatari, keluarga aristokrat terkuat di Jepang dalam periode itu, mengembara dari ibu kota kemudian menemukan mata air panas di daerah yang kini dikenal sebagai Prefektur Yamanashi.
Lalu, putra tertua Fujiwara no Kamatari itu membangun ryokan, hotel pemandian air panas tradisional Jepang. Selama lebih dari satu milenium, para tamu dari berbagai kalangan mendatangi ryokan ini.
Salah satu yang datang adalah Tokugawa (keluarga shogun yang memerintah Jepang selama 400 tahun) dan Kaisar Naruhito. Nishiyama Onsen Keiunkan pun menjadi banyak dikenal orang.
Seperti dilansir CNN, popularitas Nishiyama Onsen Keiunkan kian meningkat pada 2011, saat Guinness Book of World Records menetapkannya sebagai hotel tertua di dunia.
Predikat tersebut menjadikan ryokan ini menjadi incaran wisatawan mancanegara, apalagi Nishiyama Onsen Keiunkan masih menerapkan tradisi berusia 1.300 tahun dengan setia.
Namun, untuk bisa mencapai Nishiyama Onsen Keiunkan memerlukan perjalanan yang cukup lama dan panjang. Pengunjung yang naik kereta untuk ke lokasi ini mesti turun di stasiun terkecil.
Ketika turun di Desa Minobu, yang berpenduduk 11 ribu orang. Pengunjung dapat naik bus antar-jemput yang disediakan oleh ryokan. Saking kecilnya stasiun ini, loket tiketnya hanya menerima uang tunai dan bukti tiket kertas, padahal Jepang dikenal negara yang terbiasa menggunakan transaksi digital.
Jangan mencari minimarket atau restoran cepat saji seperti McDonald's di Minobu. Untuk bisa sampai ke Nishiyama Onsen Keiunkan, pengunjung harus menyusuri jalan berliku selama sekitar satu jam.
Kamu akan melalui perjalanan yang semakin dalam sampai akhirnya tampak ryokan. Staf hotel akan memakai kimono tradisional dan menyapa pengunjung atau para tamu yang datang.
Staf hotel juga memberi tamu sandal, karena sepatu tidak diperbolehkan digunakan dari titik perjalanan ini. Waktu seakan berhenti di penginapan berlantai tatami dan dihiasi beragam barang tradisional Jepang itu.
Di Nishiyama Onsen Keiunkan, kamar standar punya tiga bagian di antaranya dua area duduk dan satu ruang keluarga. Pengunjung juga melihat Kaligrafi dan gulungan gantung khas tradisional Jepang yang disebut kakejiku menghiasi kamar.
Jendela kamar sangat besar sehingga pengunjung bisa menyaksikan pemandangan hutan yang tampak seperti lukisan. Sebuah sungai besar mengalir di bawahnya dan hembusan uap mengisyaratkan adanya mata air panas di sana.
Lantai penginapan terbuat dari batu lokal dan pemandiannya terbuat dari kayu. Pemandian yang di dalam ruangan disulam dengan tanaman hias.
Ya, terdapat enam mata air panas di sana, empat outdoor dan dua indoor. Dua dari sumber air panas dalam ruangan hanya tersedia melalui reservasi, memungkinkan mereka yang bertato dapat menikmati pengalaman tersebut.
Bukan apa-apa, sebagian besar pengelola spa mata air panas di Jepang masih melarang pengunjung bertato, karena seni tubuh diasosiasikan dengan Geng Yakuza, kendati stigma itu perlahan berubah.
Sementara untuk hidangan, para tamu hotel disediakan bilik pribadi pada waktu yang telah dipesan untuk makan malam. Ada lima menu yang disajikan dengan ditemani anggur buatan lokal.
Berbagai cerita dilalui oleh Nishiyama Onsen Keiunkan, termasuk momen dramatis seperti kebakaran, angin topan, hingga bencana lain yang mengganggu operasional penginapan ini.
Pada tahun 1909 dan 1916 terjadi kebakaran besar di Nishiyama Onsen Keiunkan. Pada 1925, sebuah batu besar menghancurkan salah satu bangunan ryokan. Lalu, pada 1982 topan besar menerpa daerah ini.
Gara-gara berbagai insiden tersebut, bangunan utama hotel pun terpaksa harus berpindah sebanyak tiga kali.
Menurut Presiden Ryokan Kenjiro Kawano, lokasi hotel yang terpencil memungkinkan bisnis ini bertahan selama bertahun-tahun. Selain itu, tidak pernah ada pembahasan soal ekspansi untuk hotel ini.
Jakarta, CNN Indonesia --
Siapa yang menyangka, hotel tertua di dunia ternyata berada di Jepang. Lokasinya berada di pedalaman pegunungan Prefektur Yamanashi, Jepang. Nama penginapan ini Nishiyama Onsen Keiunkan.
Berdasarkan legenda, pada tahun 705 Masehi, putra tertua Fujiwara no Kamatari, keluarga aristokrat terkuat di Jepang dalam periode itu, mengembara dari ibu kota kemudian menemukan mata air panas di daerah yang kini dikenal sebagai Prefektur Yamanashi.
Lalu, putra tertua Fujiwara no Kamatari itu membangun ryokan, hotel pemandian air panas tradisional Jepang. Selama lebih dari satu milenium, para tamu dari berbagai kalangan mendatangi ryokan ini.
Salah satu yang datang adalah Tokugawa (keluarga shogun yang memerintah Jepang selama 400 tahun) dan Kaisar Naruhito. Nishiyama Onsen Keiunkan pun menjadi banyak dikenal orang.
Seperti dilansir CNN, popularitas Nishiyama Onsen Keiunkan kian meningkat pada 2011, saat Guinness Book of World Records menetapkannya sebagai hotel tertua di dunia.
Predikat tersebut menjadikan ryokan ini menjadi incaran wisatawan mancanegara, apalagi Nishiyama Onsen Keiunkan masih menerapkan tradisi berusia 1.300 tahun dengan setia.
Namun, untuk bisa mencapai Nishiyama Onsen Keiunkan memerlukan perjalanan yang cukup lama dan panjang. Pengunjung yang naik kereta untuk ke lokasi ini mesti turun di stasiun terkecil.
Ketika turun di Desa Minobu, yang berpenduduk 11 ribu orang. Pengunjung dapat naik bus antar-jemput yang disediakan oleh ryokan. Saking kecilnya stasiun ini, loket tiketnya hanya menerima uang tunai dan bukti tiket kertas, padahal Jepang dikenal negara yang terbiasa menggunakan transaksi digital.
Jangan mencari minimarket atau restoran cepat saji seperti McDonald's di Minobu. Untuk bisa sampai ke Nishiyama Onsen Keiunkan, pengunjung harus menyusuri jalan berliku selama sekitar satu jam.
Kamu akan melalui perjalanan yang semakin dalam sampai akhirnya tampak ryokan. Staf hotel akan memakai kimono tradisional dan menyapa pengunjung atau para tamu yang datang.
Staf hotel juga memberi tamu sandal, karena sepatu tidak diperbolehkan digunakan dari titik perjalanan ini. Waktu seakan berhenti di penginapan berlantai tatami dan dihiasi beragam barang tradisional Jepang itu.
Terdapat 6 Mata Air Panas di Nishiyama Onsen Keiunkan
Hotel tertua di dunia, Nishiyama Onsen Keiunkan. (Boltor via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0)
Di Nishiyama Onsen Keiunkan, kamar standar punya tiga bagian di antaranya dua area duduk dan satu ruang keluarga. Pengunjung juga melihat Kaligrafi dan gulungan gantung khas tradisional Jepang yang disebut kakejiku menghiasi kamar.
Jendela kamar sangat besar sehingga pengunjung bisa menyaksikan pemandangan hutan yang tampak seperti lukisan. Sebuah sungai besar mengalir di bawahnya dan hembusan uap mengisyaratkan adanya mata air panas di sana.
Lantai penginapan terbuat dari batu lokal dan pemandiannya terbuat dari kayu. Pemandian yang di dalam ruangan disulam dengan tanaman hias.
Ya, terdapat enam mata air panas di sana, empat outdoor dan dua indoor. Dua dari sumber air panas dalam ruangan hanya tersedia melalui reservasi, memungkinkan mereka yang bertato dapat menikmati pengalaman tersebut.
Bukan apa-apa, sebagian besar pengelola spa mata air panas di Jepang masih melarang pengunjung bertato, karena seni tubuh diasosiasikan dengan Geng Yakuza, kendati stigma itu perlahan berubah.
Sementara untuk hidangan, para tamu hotel disediakan bilik pribadi pada waktu yang telah dipesan untuk makan malam. Ada lima menu yang disajikan dengan ditemani anggur buatan lokal.
Berbagai cerita dilalui oleh Nishiyama Onsen Keiunkan, termasuk momen dramatis seperti kebakaran, angin topan, hingga bencana lain yang mengganggu operasional penginapan ini.
Pada tahun 1909 dan 1916 terjadi kebakaran besar di Nishiyama Onsen Keiunkan. Pada 1925, sebuah batu besar menghancurkan salah satu bangunan ryokan. Lalu, pada 1982 topan besar menerpa daerah ini.
Gara-gara berbagai insiden tersebut, bangunan utama hotel pun terpaksa harus berpindah sebanyak tiga kali.
Menurut Presiden Ryokan Kenjiro Kawano, lokasi hotel yang terpencil memungkinkan bisnis ini bertahan selama bertahun-tahun. Selain itu, tidak pernah ada pembahasan soal ekspansi untuk hotel ini.