Jakarta, CNN Indonesia -- Menjelajahi dunia untuk mencari ilmu menjadi mimpi saya sejak kecil. Datang ke negeri orang seperti Taiwan, membuat saya belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Bahasa, budaya, tradisi, dan kebiasaan baru selalu menarik hati saya.
Keterbatasan bahasa antara saya dan penduduk lokal menjadi pengalaman yang lucu sekaligus menarik. Tidak jarang raut bingung terlihat jelas di muka saya ketika penduduk lokal mengajak berbincang. Komunikasi itu pun berakhir dengan bahasa tubuh dan senyuman tanda pura-pura mengerti.
Kali ini saya mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di negara yang dikenal dengan julukan Pulau Formosa itu. Lingkungan yang bersih, cuaca yang panas, dan hiruk pikuk kota menyambut saya ketika sampai di Taipei, Taiwan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ya, saya datang di waktu Taiwan sedang mengalami musim panas ekstrem. Suhu udara bisa terasa sampai 39 derajat celcius. Hampir semua pejalan kaki menggunakan payung anti UV untuk melindungi diri dari teriknya matahari.
Menjalani hari-hari di Taiwan tidak saya habiskan dengan hanya belajar di kelas dan mengerjakan tugas. Saya memanfaatkan waktu libur kelas untuk mengeksplorasi tempat-tempat bersejarah Taiwan.
Kejadian menegangkan pun terjadi pada saat saya akan pulang dari Chiang Kai Shek, tempat peringatan mantan presiden Republik Tiongkok.
Saya dan teman-teman terkejut melihat handphone tiba-tiba berdering dengan tulisan "Peringatan Presiden" yang dilengkapi dengan tanda seru segitiga kuning. Bunyi alarm pun berdengung keras seperti tanda peringatan serius.
Saya dan teman-teman panik mencoba membaca situasi yang sedang terjadi. Saya tidak paham dengan maksud dari peringatan presiden yang terus berdering di handphone, karena menggunakan bahasa Mandarin.
 Gambar "Peringatan Presiden" di ponsel penduduk Kota Taipei, Taiwan untuk latihan apabila sewaktu-waktu militer China menyerang. (Arsip Catarina Amalia) |
Seketika Kota Taipei berubah menjadi kota mati. Tidak ada mobil, bus, atau sepeda motor yang melintas. Pejalan kaki yang sebelumnya berseliweran juga menghilang. Saya dan teman-teman semakin bingung dan mencoba merekam kejadian tersebut.
Pemerintah Taiwan Mengantisipasi Penyelamatan Warga dari Serangan China
Suasana di Shi-men Ting, Distrik Perbelanjanaan di Kota Taipei, Taiwan. (Arsip Catarina Amalia)
Kami mencari tempat terdekat untuk bertanya kepada warga lokal tentang apa yang sedang terjadi. Sampailah kami di Seven Eleven dan terlihat beberapa warga lokal di sana.
Pelayan Seven Eleven menjelaskan bahwa alarm peringatan tersebut digunakan pemerintah untuk melatih masyarakat dari serangan bom mendadak. Saat ini memang sedang ada ketegangan politik antara Taiwan dan China. Oleh karena itu, pemerintah Taiwan menyiapkan upaya-upaya antisipasi penyelamatan masyarakat.
Setelah beberapa saat, barulah ramai di group chat kelas terkait pengumuman peringatan presiden. Masyarakat Taiwan diminta untuk bersembunyi di shelter-shelter yang telah disiapkan pemerintah. Masyarakat yang tidak patuh terancam dikenakan denda berupa uang 150 ribu New Taiwan Dolar ($NTD) .
Alarm berhenti berdering setelah 30 menit. Saya dan teman-teman keluar untuk melihat situasi lagi. Ternyata kondisi Kota Taipei sudah kembali normal seperti semula. Bus yang saya tunggu akhirnya datang.
Peringatan pelatihan dari presiden ini pernah saya alami sebelumnya, tetapi dalam bentuk berbeda. Disebarkan berita oleh universitas tempat saya belajar bahwa seluruh mahasiswa laki-laki diminta mengikuti latihan militer.
Mahasiswa lokal Taiwan memberikan trik kepada teman-teman saya yang laki-laki untuk tetap berada di ruangan agar tidak terendus oleh petugas keamanan. Sanksi yang diberikan jika tidak mematuhi juga dalam bentuk uang ratusan ribu $NTD.
Begitulah rasanya tinggal di negara yang sedang berkonflik dengan negara lain. Masyarakatnya diminta siap siaga demi meminimalisasi risiko yang terjadi, termasuk saat ada serangan militer dari negara lain.