Hutan Hujan Tropis Sumatera, Warisan Dunia di Indonesia dalam Bahaya
CNN Indonesia
Rabu, 13 Sep 2023 20:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Hutan Hujan Tropis Sumatera. (iStockphoto)
Pertama, keberadaan taman-taman nasional yang letaknya ada di punggung utama Pegunungan Bukit Barisan yang dikenal sebagai 'Andes'-nya Sumatera.
Pegunungan ini menawarkan pemandangan yang indah nan melimpah berupa hutan-hutan, air terjun, gua, hingga danau-danau vulkanik kecil.
Kedua, keberadaannya merupakan blok hutan terpenting di Pulau Sumatera untuk konservasi aneka ragam hayati. Wilayah ini dinilai sebagai tempat berlindung iklim yang penting bagi berbagai spesies selama masa evolusi dan proses evolusi di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terakhir, ketiga taman nasional dalam situs warisan dunia ini adalah kawasan yang punya habitat beragam dan aneka ragam flora dan fauna. Secara total, ketiga taman tersebut mencakup lebih dari separuh keanekaragaman hayati di Sumatera.
Hutan dataran rendah yang ada di sana merupakan lokasi penting bagi konservasi biota yang terancam punah di Asia Tenggara.
Seperti dikutip dari whc.unesco.org, berdasarkan keputusan terakhir Komite Warisan Dunia UNESCO pada 4 Juni 2021, masih menempatkan Hutan Hujan Tropis Sumatra dalam status bahaya.
Menurut Komite Warisan Dunia UNESCO, ada empat ancaman atas eksistensi Hutan Hujan Tropis ini, yaitu pembangunan jalan, pertambangan, penebangan liar, hingga perambahan (penguasaan lahan konservasi secara tidak sah).
Di sisi lain, dalam laporan yang diterima UNESCO dari pemerintah Indonesia terkait capaian atas upaya konservasi Hutan Hujan Tropis Sumatra (2011-2022), disebutkan beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi berbagai ancaman yang membuat status Hutan Hujan Tropis Sumatera berada dalam bahaya.
Salah satu progresnya adalah pertumbuhan populasi beberapa jenis fauna. Laporan tersebut mencatat pertumbuhan populasi Gajah Sumatera sebesar 3% dari tahun 2007-2017; lalu populasi Badak Sumatera sebesar 3% pada tahun 2020; dan 100 persen pertumbuhan Harimau Sumatera dari tahun 2010-2022.
Hutan Hujan Tropis Sumatera di Indonesia ditetapkan The United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai situs warisan dunia sejak 2004.
Namun, tujuh tahun usai ditetapkan UNESCO atau tepatnya pada 2011, Hutan Hujan Tropis Sumatera berubah statusnya menjadi Situs Warisan Dunia yang dalam Bahaya. Status itu belum berubah hingga sekarang.
Apa sebenarnya yang dimiliki Hutan Hujan Tropis Sumatera hingga ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO?
Sebagai salah satu kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara, hutan hujan tropis ini berlokasi di kawasan Bukit Barisan dan dinilai berpotensi untuk menjadi rumah bagi beragam biota Sumatera dan spesies-spesies yang terancam punah.
Hutan Hujan Tropis Sumatera wilayahnya membentang hingga tujuh provinsi. Kawasannya mencakup provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Dengan luas total 2.595.124 hektar, wilayahnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Kawasan ini menyimpan banyak destinasi alam emas Indonesia. Ada Gunung Kerinci Seblat sebagai gunung berapi tertinggi Indonesia yang tingginya 3.805 mdpl.
Ada pula Danau Gunung Tujuh sebagai danau tertinggi di Asia Tenggara. Selain itu, Taman Nasional Gunung Leuser maupun Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menghadap langsung ke Samudera Hindia.
Diperkirakan ada 10.000 spesies tumbuhan, dan 580 spesies burung, dan 201 spesies mamalia hidup di sini. Ada 15 spesies endemik Sundaland yang hanya ada di Indonesia, hidup di hutan ini. Salah satunya adalah Orang Utan Sumatera.
Keindahan dan keunikan Hutan Hujan Tropis Sumatera dinilai memiliki nilai universal yang luar biasa dan dinilai memenuhi beberapa syarat sebagai situs warisan dunia UNESCO.
Mengenal Warisan Dunia UNESCO, Hutan Hujan Tropis Sumatera
Hutan Hujan Tropis Sumatera. (iStockphoto)
Pertama, keberadaan taman-taman nasional yang letaknya ada di punggung utama Pegunungan Bukit Barisan yang dikenal sebagai 'Andes'-nya Sumatera.
Pegunungan ini menawarkan pemandangan yang indah nan melimpah berupa hutan-hutan, air terjun, gua, hingga danau-danau vulkanik kecil.
Kedua, keberadaannya merupakan blok hutan terpenting di Pulau Sumatera untuk konservasi aneka ragam hayati. Wilayah ini dinilai sebagai tempat berlindung iklim yang penting bagi berbagai spesies selama masa evolusi dan proses evolusi di masa depan.
Terakhir, ketiga taman nasional dalam situs warisan dunia ini adalah kawasan yang punya habitat beragam dan aneka ragam flora dan fauna. Secara total, ketiga taman tersebut mencakup lebih dari separuh keanekaragaman hayati di Sumatera.
Hutan dataran rendah yang ada di sana merupakan lokasi penting bagi konservasi biota yang terancam punah di Asia Tenggara.
Seperti dikutip dari whc.unesco.org, berdasarkan keputusan terakhir Komite Warisan Dunia UNESCO pada 4 Juni 2021, masih menempatkan Hutan Hujan Tropis Sumatra dalam status bahaya.
Menurut Komite Warisan Dunia UNESCO, ada empat ancaman atas eksistensi Hutan Hujan Tropis ini, yaitu pembangunan jalan, pertambangan, penebangan liar, hingga perambahan (penguasaan lahan konservasi secara tidak sah).
Di sisi lain, dalam laporan yang diterima UNESCO dari pemerintah Indonesia terkait capaian atas upaya konservasi Hutan Hujan Tropis Sumatra (2011-2022), disebutkan beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi berbagai ancaman yang membuat status Hutan Hujan Tropis Sumatera berada dalam bahaya.
Salah satu progresnya adalah pertumbuhan populasi beberapa jenis fauna. Laporan tersebut mencatat pertumbuhan populasi Gajah Sumatera sebesar 3% dari tahun 2007-2017; lalu populasi Badak Sumatera sebesar 3% pada tahun 2020; dan 100 persen pertumbuhan Harimau Sumatera dari tahun 2010-2022.