Gara-gara Mimpi Ketinggian, Kami Tukar Posisi di Rumah Tangga
CNN Indonesia
Minggu, 28 Jan 2024 10:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Di zaman kiwari, tukar posisi dalam rumah tangga bukan lagi hal yang aneh. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Tapi perlahan saya gemas juga. Saya bertanya-tanya sampai kapan kondisinya akan seperti ini.
"Kita, tuh, gini-gini aja. Kamu, tuh, sebenernya mau ngapain?" tanya saya suatu waktu pada Elang.
Saya lelah melihat Elang yang tak juga memperlihatkan kemajuan. Bertahun-tahun kehidupan berjalan seperti ini, ia masih belum juga menemukan apa yang akan dilakukannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, menurut saya, sebenarnya banyak hal-hal remeh yang bisa dimonetisasi Elang, tanpa perlu mengikuti impian idealisnya.
Kau tahu bagaimana idealisnya Elang? Misalnya, begini. Pembuatan satu produk, menurut Elang, membutuhkan alat yang harganya mahal bukan kepalang. Ya, masak kita harus beli alat mahal dulu baru bisa jalan. Sudah tahu sekarang kondisi keuangan pas-pasan karena hanya bergantung dari saya.
Apa lacur, modal tipis dan idealisme yang tinggi pun membuat impian bisnis menguap ke udara. Ia pergi entah ke mana.
Sempat juga saya mempertanyakan keberlanjutan rumah tangga kami. Tapi, kalau dipikir-pikir, apa iya rumah tangga saya harus gagal hanya karena uang? Rasanya saya terlalu egois.
"Maaf, ya, aku begini orangnya. Aku belum bisa memenuhi kebutuhan kita. Apa pun pilihan dan keputusan kamu, aku siap, kok, nerimanya," ujar Elang suatu waktu.
Lagi pula dipikir-pikir, saya juga sebenarnya ikut andil membikin masalah kian rumit. Saya sendiri juga terlalu sibuk bekerja. Tak ada waktu untuk mengurus si kecil di rumah.
Dengan kondisi begini, secara tidak langsung saya juga membatasi ruang gerak Elang untuk bereksplorasi mencari peluang-peluang cuan yang lain. Pasalnya, waktu Elang jadi habis menggantikan posisi saya mengurus anak di rumah seharian.
Saya sadar, saya juga egois kala itu. Saya hanya memikirkan diri saya dan mimpi untuk berkarier tinggi di bidang yang disukai. Saya ingin menjadi sesuatu.
Tak cuma sibuk bekerja, saya juga bahkan sempat mengikuti workshop dan kegiatan-kegiatan lain di luar pekerjaan formal. Sok sibuk, ya?
Ilustrasi pasangan suami istri. (iStockphoto)
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, yang jadi korban di sini adalah anak. Kasihan si kecil punya orang tua yang mimpinya sama-sama ketinggian.
Si kecil tumbuh kembang lebih banyak bersama Elang. Jujur, saya sendiri saat itu tak merasakan bonding yang kuat dengan si kecil. Mungkin gara-garanya karena saya yang terlalu sibuk bermimpi dan fokus bekerja demi mengumpulkan cuan untuk kebutuhan bersama.
Tapi, kini kondisinya telah berubah. Dimulai dari momentum saat saya diberhentikan dari pekerjaan.
Tiga-empat bulan setelahnya tabungan masih bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga kami. Tapi selanjutnya kami ketar-ketir.
Momen itu mungkin jadi titik balik bagi rumah tangga kami. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk membangun ikatan dengan si kecil. Sementara Elang juga punya waktu untuk kembali mengembangkan bisnisnya.
Katanya, selalu ada jalan menuju Roma. Pepatah itu mungkin benar adanya. Waktu yang sangat luang membuat Elang akhirnya menemukan jalan. Perlahan, rumah tangga kami berangsur membaik.
Saya kini resmi menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Mengurus anak dan mengerjakan urusan-urusan domestik.
Kalau boleh jujur, ada rasa kecewa yang berkecamuk di dalam hati. Bertahun-tahun menjadi wanita karier ternyata bikin transisi untuk menjadi ibu rumah tangga tak mudah dijalani.
Saya stres. Saya bosan. Saya juga punya perasaan gemas pada mimpi-mimpi yang belum tercapai. Mungkin, ini juga yang dirasakan Elang saat periode 2-3 tahun itu.
Saya tahu posisi menjadi ibu/bapak rumah tangga ternyata tak mudah. Apalagi bagi kami yang sebelumnya terbiasa aktif dan sibuk berkegiatan. Elang pernah ada di posisi ini.
Jika saja mimpi tak perlu terlalu sempurna, mungkin kondisinya tak akan seperti ini. Tak akan ada 'tukar posisi' di rumah tangga ini: saya bekerja mencari nafkah, sementara suami saya mengurus anakdi rumah.
"Maaf, ya, sekarang rumah tangga kita bergantung dulu sama kamu."
Kalimat di atas berkali-kali keluar dari mulut suami saya, Elang. Ia berusaha meminta maaf karena kondisi yang kami hadapi saat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya percaya bahwa Elang sadar betul akan kondisinya. Lewat kalimat yang diucapkannya di atas, mungkin juga ia menyesalinya. Saya hanya berusaha menjadi istri yang suportif.
Toh, pernikahan dan rumah tangga bukan cuma menyoal pembagian siapa yang nyari duit dan siapa yang mengurus hal-hal domestik, bukan? Lebih dari itu, rumah tangga adalah kerja sama.
Kondisi ini kami alami kira-kira selama 2-3 tahun. Selama hampir tiga tahun itu pula, praktis saya lebih sibuk bekerja mengupayakan cicilan demi cicilan terlunasi. Sebagai gantinya, suami saya lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama si kecil.
Kalau mau gampang, bisa saja kami langsung menyalahkan pandemi Covid-19 sebagai biang kerok. Tapi, ternyata masalahnya tak semudah itu, Alfredo!
Kalau dipikir-pikir, apa yang terjadi pada rumah tangga kami terlalu kompleks dan rumit.
Bisa jadi gara-garanya adalah mimpi, baik itu mimpi saya maupun Elang. Kau boleh bilang kalau mimpi kami ketinggian. Sebut saja kami terlalu idealis.
Sejak sebelum menikah, Elang memang sudah bermimpi untuk memiliki usahanya sendiri. Hal itu pula yang membuat saya setuju Elang hanya memberikan uang bulanan Rp500 ribu per bulan di masa-masa awal pernikahan.
Bukan karena Elang pelit dan tak bertanggung jawab, tapi saya berusaha mendukung keinginannya untuk menabung sebagian gajinya demi membangun mimpinya. Toh, saya juga bekerja. Saya tak mau ambil pusing.
Ilustrasi pasangan. (iStock/PeopleImages)
Waktu yang dinanti pun tiba. Elang keluar dari pekerjaannya dan mencoba pelan-pelan merintis usahanya sendiri.
Awalnya baik-baik saja. Tapi, perlahan usaha yang dicoba Elang kian loyo. Salah satunya karena pandemi Covid-19 yang membuat pola bisnis banyak orang pun berubah. Kami pasrah.
Waktu terus berjalan, simpanan uang menipis perlahan. Mau tak mau, hampir sebagian besar kebutuhan rumah tangga kami menjadi tanggungan saya. Belum lagi saat itu kami baru saja dikaruniai seorang bayi cantik.
Tapi, saya tak marah. Saya tetap percaya Elang akan mencari jalan keluar. Toh, faktanya ia memang berusaha mencari formula bisnis yang baru.
Masalahnya, Elang terlalu idealis. Ia punya standar-standar tertentu yang harus dipenuhi dalam berbisnis. Soalnya, bisnis yang ingin ia lakoni berkaitan dengan hal-hal yang dia sukai dan sempat menjadi profesinya selama bertahun-tahun.
Akibatnya, formula bisnis yang dicobanya pun tak juga membuahkan hasil. Alih-alih berhasil, ia malah gagal.
Ya, sudah. Sementara Elang terus mengulik bisnis yang ingin dijalaninya, saya terus sibuk bekerja. Bersyukur, pemasukan saya 'pas' untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Lagi pula, saya senang bekerja. Pekerjaan saya juga sangat sesuai dengan passion.
Hampir setiap hari saya pulang malam. Saking sukanya dengan pekerjaan ini, saya rela kerja ekstra. Hmm.. Diam-diam saya juga menyimpan mimpi di sini.
Sementara saya bekerja, Elang mengurus si kecil di rumah. Kami sengaja tak memakai bantuan orang lain. Selain untuk mengurangi pengeluaran, Elang juga tak suka jika si kecil diurus orang lain.
Kalau dipikir-pikir, Elang sebenarnya cekatan betul dalam mengurus anak. Dia bahkan lebih jago daripada saya. Urusan popok saja, lebih banyak Elang yang mengurus.
Sementara saya, kalau boleh dibilang, paling hanya bertemu si kecil pada pagi dan malam hari. Si kecil tumbuh lekat bersama bapaknya.
Oh, ya! Elang juga lebih jago masak dibandingkan saya. Jujur saja, saya memang bukan seorang perempuan yang senang berada di dapur. Jangankan membumbui ikan, menumis pun mulanya saya bingung.
Tapi Elang cekatan urusan itu. Ia rajin membumbui lauk seperti ikan dan ayam, yang kemudian nanti tinggal digoreng dan kami makan bersama. Lauk-lauk yang telah dibumbuinya itu ia masukkan ke dalam kulkas sebagai simpanan.
Hebat, ya, suami saya. Saya, kok, kalah?
Simak cerita selengkapnya di halaman berikutnya..
Gara-gara Mimpi Ketinggian, Kami Tukar Posisi di Rumah Tangga
Tapi perlahan saya gemas juga. Saya bertanya-tanya sampai kapan kondisinya akan seperti ini.
"Kita, tuh, gini-gini aja. Kamu, tuh, sebenernya mau ngapain?" tanya saya suatu waktu pada Elang.
Saya lelah melihat Elang yang tak juga memperlihatkan kemajuan. Bertahun-tahun kehidupan berjalan seperti ini, ia masih belum juga menemukan apa yang akan dilakukannya.
Padahal, menurut saya, sebenarnya banyak hal-hal remeh yang bisa dimonetisasi Elang, tanpa perlu mengikuti impian idealisnya.
Kau tahu bagaimana idealisnya Elang? Misalnya, begini. Pembuatan satu produk, menurut Elang, membutuhkan alat yang harganya mahal bukan kepalang. Ya, masak kita harus beli alat mahal dulu baru bisa jalan. Sudah tahu sekarang kondisi keuangan pas-pasan karena hanya bergantung dari saya.
Apa lacur, modal tipis dan idealisme yang tinggi pun membuat impian bisnis menguap ke udara. Ia pergi entah ke mana.
Sempat juga saya mempertanyakan keberlanjutan rumah tangga kami. Tapi, kalau dipikir-pikir, apa iya rumah tangga saya harus gagal hanya karena uang? Rasanya saya terlalu egois.
"Maaf, ya, aku begini orangnya. Aku belum bisa memenuhi kebutuhan kita. Apa pun pilihan dan keputusan kamu, aku siap, kok, nerimanya," ujar Elang suatu waktu.
Lagi pula dipikir-pikir, saya juga sebenarnya ikut andil membikin masalah kian rumit. Saya sendiri juga terlalu sibuk bekerja. Tak ada waktu untuk mengurus si kecil di rumah.
Dengan kondisi begini, secara tidak langsung saya juga membatasi ruang gerak Elang untuk bereksplorasi mencari peluang-peluang cuan yang lain. Pasalnya, waktu Elang jadi habis menggantikan posisi saya mengurus anak di rumah seharian.
Saya sadar, saya juga egois kala itu. Saya hanya memikirkan diri saya dan mimpi untuk berkarier tinggi di bidang yang disukai. Saya ingin menjadi sesuatu.
Tak cuma sibuk bekerja, saya juga bahkan sempat mengikuti workshop dan kegiatan-kegiatan lain di luar pekerjaan formal. Sok sibuk, ya?
Ilustrasi pasangan suami istri. (iStockphoto)
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, yang jadi korban di sini adalah anak. Kasihan si kecil punya orang tua yang mimpinya sama-sama ketinggian.
Si kecil tumbuh kembang lebih banyak bersama Elang. Jujur, saya sendiri saat itu tak merasakan bonding yang kuat dengan si kecil. Mungkin gara-garanya karena saya yang terlalu sibuk bermimpi dan fokus bekerja demi mengumpulkan cuan untuk kebutuhan bersama.
Tapi, kini kondisinya telah berubah. Dimulai dari momentum saat saya diberhentikan dari pekerjaan.
Tiga-empat bulan setelahnya tabungan masih bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga kami. Tapi selanjutnya kami ketar-ketir.
Momen itu mungkin jadi titik balik bagi rumah tangga kami. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk membangun ikatan dengan si kecil. Sementara Elang juga punya waktu untuk kembali mengembangkan bisnisnya.
Katanya, selalu ada jalan menuju Roma. Pepatah itu mungkin benar adanya. Waktu yang sangat luang membuat Elang akhirnya menemukan jalan. Perlahan, rumah tangga kami berangsur membaik.
Saya kini resmi menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Mengurus anak dan mengerjakan urusan-urusan domestik.
Kalau boleh jujur, ada rasa kecewa yang berkecamuk di dalam hati. Bertahun-tahun menjadi wanita karier ternyata bikin transisi untuk menjadi ibu rumah tangga tak mudah dijalani.
Saya stres. Saya bosan. Saya juga punya perasaan gemas pada mimpi-mimpi yang belum tercapai. Mungkin, ini juga yang dirasakan Elang saat periode 2-3 tahun itu.
Saya tahu posisi menjadi ibu/bapak rumah tangga ternyata tak mudah. Apalagi bagi kami yang sebelumnya terbiasa aktif dan sibuk berkegiatan. Elang pernah ada di posisi ini.