Perang Bikin Penerbangan ke Israel Lebih Lama, Tiket Makin Mahal
CNN Indonesia
Selasa, 14 Mei 2024 12:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bandara Internasional Ben Gurion di Israel. (REUTERS/Ronen Zvulun)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Hamas, wisatawan yang ingin mengunjungi Israel sebagai turis dihadapkan pada tantangan unik dalam menemukan penerbangan yang aman dan terjangkau.
Sejak 7 Oktober 2023, ketegangan telah meningkat dengan serangan lintas batas oleh kelompok pejuang Palestina Hamas. Namun, hal tersebut tidak menghalangi penerbangan sipil yang tetap beroperasi dari dan ke Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, tanpa insiden.
Bagaimana Israel mempertahankan keselamatan penerbangannya? Sistem pertahanan udara Iron Dome, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen, berperan penting dalam melindungi wilayah udara Negeri Zionis itu hingga jarak 70 kilometer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Penerbangan Sipil Israel mengadopsi penutupan wilayah udara secara taktis, di mana merupakan langkah yang biasa diambil bandara internasional dalam situasi darurat.
"Kami secara teratur menutup wilayah udara kami selama 10 hingga 40 menit, di mana pesawat akan berada di udara lebih lama. Ini tidak menjadi masalah karena kami telah memberi tahu maskapai penerbangan untuk membawa bahan bakar tambahan agar dapat bertahan di udara hingga 40 menit," kata Kepala Departemen Infrastruktur Udara di Otoritas Penerbangan Sipil Israel, Libby Bahat.
Namun, perjalanan ke Israel bukan tanpa hambatan. Situasi ini telah menimbulkan apa yang disebut 'war pricing,' di mana harga tiket melonjak tajam selama periode konflik.
Mengutip dari South China Morning Post, seorang penumpang menggambarkan perjalanannya dari Singapura ke Ben Gurion melalui Athena sebagai pengalaman yang unik dan menantang. Perjalanan dimulai dengan 12 jam perjalanan dari Singapura ke ibu kota Yunani, Athena, dilanjutkan dengan penerbangan dua jam ke Ben Gurion.
Sebelum konflik, tujuh maskapai melayani rute ini, tetapi kini hanya enam maskapai yang beroperasi dengan layanan terbatas. Ryanair, maskapai ketujuh, masih menunggu pembukaan kembali Terminal 1 di Ben Gurion yang ditutup karena rendahnya lalu lintas penumpang setelah perang.
Terminal 1 didedikasikan untuk maskapai penerbangan biaya rendah dan mengenakan pajak bandara hanya US$11 (Rp177 ribu) per orang jika dibandingkan dengan Terminal 2 dan 3 yang dikenakan harga US$30 (Rp482 ribu). Terbatasnya pasokan juga meluas ke banyak maskapai penerbangan yang terbang ke Ben Gurion.
Maskapai penerbangan bertarif paling rendah tersedia asal Yunani, Bluebird menawarkan penerbangan biaya US$145 (Rp2,3 juta). Harga tersebut merupakan harga yang sudah naik hampir tiga kali lipat dari harga awal sebelum perang yaitu US$49 (Rp787 ribu).
Sesuai dengan harga yang ditawarkan, para wisatawan mungkin akan dihadapkan pada beberapa tantangan. Pesawat dengan maskapai Bluebird ini harus transit di pulau Rhodes, Yunani di mana penerbangan menuju Ben Gurion menjadi lebih lama 2 jam.
Setelah melewati gerbang, seratus orang penumpang Bluebird diturunkan dari bus ke jalanan aspal yang panas dan harus menunggu setengah jam sebelum menaiki pesawat kembali.
Tak hanya itu, banyak kursi yang berubah warna dan robek dan tidak ada yang bisa direbahkan. Kursi-kursi pesawat telah dikunci dalam posisi tegak sehingga Bluebird memiliki lebih banyak kursi di dalam badan pesawat.
"Di Rhodes, bunyi gedebuk saat mendarat begitu keras dan keras, saya pikir roda depan akan patah. Pendaratan di Israel jauh lebih lancar," kata penumpang tersebut.
Sekitar 90 persen penumpangnya adalah warga Israel, termasuk sekelompok Yahudi Hasid yang sangat religius dan bertopi tinggi dan mantel punggung panjang. Sisanya terdiri dari warga Arab-Israel dan segelintir wisatawan, termasuk pasangan Amerika yang kembali setelah perjalanan sampingan ke Athena sebagai bagian dari kunjungan selama sebulan di Israel.
"Mereka mengatakan kepada saya bahwa penerbangan awal mereka ke Israel lepas landas dari Los Angeles hanya beberapa menit setelah wilayah udara Israel dibuka kembali setelah serangan Iran," ujar penumpang itu.
Satu-satunya maskapai dengan fasilitas dan penawaran terbaik adalah maskapai penerbangan nasional Israel, El Al tentu dengan harga yang bombastis. Maskapai komersial di dunia yang melengkapi pesawatnya dengan sistem pertahanan rudal pencegat menginginkan US$668 (Rp10,7 juta) untuk dua jam penerbangan dari Athena.
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Hamas, wisatawan yang ingin mengunjungi Israel sebagai turis dihadapkan pada tantangan unik dalam menemukan penerbangan yang aman dan terjangkau.
Sejak 7 Oktober 2023, ketegangan telah meningkat dengan serangan lintas batas oleh kelompok pejuang Palestina Hamas. Namun, hal tersebut tidak menghalangi penerbangan sipil yang tetap beroperasi dari dan ke Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, tanpa insiden.
Bagaimana Israel mempertahankan keselamatan penerbangannya? Sistem pertahanan udara Iron Dome, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90 persen, berperan penting dalam melindungi wilayah udara Negeri Zionis itu hingga jarak 70 kilometer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Penerbangan Sipil Israel mengadopsi penutupan wilayah udara secara taktis, di mana merupakan langkah yang biasa diambil bandara internasional dalam situasi darurat.
"Kami secara teratur menutup wilayah udara kami selama 10 hingga 40 menit, di mana pesawat akan berada di udara lebih lama. Ini tidak menjadi masalah karena kami telah memberi tahu maskapai penerbangan untuk membawa bahan bakar tambahan agar dapat bertahan di udara hingga 40 menit," kata Kepala Departemen Infrastruktur Udara di Otoritas Penerbangan Sipil Israel, Libby Bahat.
Namun, perjalanan ke Israel bukan tanpa hambatan. Situasi ini telah menimbulkan apa yang disebut 'war pricing,' di mana harga tiket melonjak tajam selama periode konflik.
Mengutip dari South China Morning Post, seorang penumpang menggambarkan perjalanannya dari Singapura ke Ben Gurion melalui Athena sebagai pengalaman yang unik dan menantang. Perjalanan dimulai dengan 12 jam perjalanan dari Singapura ke ibu kota Yunani, Athena, dilanjutkan dengan penerbangan dua jam ke Ben Gurion.
Sebelum konflik, tujuh maskapai melayani rute ini, tetapi kini hanya enam maskapai yang beroperasi dengan layanan terbatas. Ryanair, maskapai ketujuh, masih menunggu pembukaan kembali Terminal 1 di Ben Gurion yang ditutup karena rendahnya lalu lintas penumpang setelah perang.
Terminal 1 didedikasikan untuk maskapai penerbangan biaya rendah dan mengenakan pajak bandara hanya US$11 (Rp177 ribu) per orang jika dibandingkan dengan Terminal 2 dan 3 yang dikenakan harga US$30 (Rp482 ribu). Terbatasnya pasokan juga meluas ke banyak maskapai penerbangan yang terbang ke Ben Gurion.
Gara-gara Perang, Penerbangan ke Israel Harus Transit ke Yunani
Turis asing di Bandara Ben Gurion, Israel. (REUTERS/Ronen Zvulun)
Maskapai penerbangan bertarif paling rendah tersedia asal Yunani, Bluebird menawarkan penerbangan biaya US$145 (Rp2,3 juta). Harga tersebut merupakan harga yang sudah naik hampir tiga kali lipat dari harga awal sebelum perang yaitu US$49 (Rp787 ribu).
Sesuai dengan harga yang ditawarkan, para wisatawan mungkin akan dihadapkan pada beberapa tantangan. Pesawat dengan maskapai Bluebird ini harus transit di pulau Rhodes, Yunani di mana penerbangan menuju Ben Gurion menjadi lebih lama 2 jam.
Setelah melewati gerbang, seratus orang penumpang Bluebird diturunkan dari bus ke jalanan aspal yang panas dan harus menunggu setengah jam sebelum menaiki pesawat kembali.
Tak hanya itu, banyak kursi yang berubah warna dan robek dan tidak ada yang bisa direbahkan. Kursi-kursi pesawat telah dikunci dalam posisi tegak sehingga Bluebird memiliki lebih banyak kursi di dalam badan pesawat.
"Di Rhodes, bunyi gedebuk saat mendarat begitu keras dan keras, saya pikir roda depan akan patah. Pendaratan di Israel jauh lebih lancar," kata penumpang tersebut.
Sekitar 90 persen penumpangnya adalah warga Israel, termasuk sekelompok Yahudi Hasid yang sangat religius dan bertopi tinggi dan mantel punggung panjang. Sisanya terdiri dari warga Arab-Israel dan segelintir wisatawan, termasuk pasangan Amerika yang kembali setelah perjalanan sampingan ke Athena sebagai bagian dari kunjungan selama sebulan di Israel.
"Mereka mengatakan kepada saya bahwa penerbangan awal mereka ke Israel lepas landas dari Los Angeles hanya beberapa menit setelah wilayah udara Israel dibuka kembali setelah serangan Iran," ujar penumpang itu.
Satu-satunya maskapai dengan fasilitas dan penawaran terbaik adalah maskapai penerbangan nasional Israel, El Al tentu dengan harga yang bombastis. Maskapai komersial di dunia yang melengkapi pesawatnya dengan sistem pertahanan rudal pencegat menginginkan US$668 (Rp10,7 juta) untuk dua jam penerbangan dari Athena.