Kritik Tes Kehamilan di Sekolah, dr Boyke Dorong Pendidikan Seks Dini
CNN Indonesia
Minggu, 26 Jan 2025 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Aturan tes kehamilan di sekolah bagi siswa SMA menuai kritik dari berbagai pihak. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seksolog Boyke Dian Nugraha, yang akrab disapa dr. Boyke, memberikan tanggapan kritisterhadap kebijakan salah satu SMA di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang mewajibkan tes kehamilan bagi para siswinya. Kebijakan ini menjadi sorotan publik, apalagi terungkap bahwa hal ini telah dilakukan selama dua tahun di SMA Sulthan Baruna.
dr Boyke mengaku tidak setuju dengan praktik tersebut. Menurutnya, tes kehamilan bukanlah solusi untuk mencegah pergaulan bebas di kalangan siswa.
"Lebih baik [para siswa] diberikan pendidikan seks bersama dengan pendidikan keagamaan," ujar dr. Boyke saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/1).
Dia juga mempertanyakan tujuan di balik kebijakan ini dan menilai bahwa tes kehamilan tidak efektif untuk mencegah pergaulan bebas.
"Buat apa [tes kehamilan]? Masa setiap siswi diperiksa tes kehamilan? Tes kehamilan itu kalau sudah terjadi kehamilan baru dia akan positif. Terus buat apa? Suruh gugurin? Kan, enggak bisa dong. Justru yang harus kita lakukan itu adalah pencegahan," tegas dr. Boyke.
Menurutnya, tes kehamilan tidak dapat membuktikan keterlibatan seorang dalam pergaulan bebas. Lagi pula, ada banyak faktor yang memengaruhi hasil tes kehamilan, seperti penggunaan kontrasepsi atau hubungan seksual di luar masa subur.
Ilustrasi. dr. Boyke menilai tes kehamilan tidak efektif cegah pergaulan bebas. (iStockphoto/Love portrait and love the world)
"Percuma melakukan tes kehamilan. Tes kehamilan itu dilakukan kalau siswi itu memang hamil karena melakukan seks pada masa subur dan tanpa pengaman. Kalau hubungan seksnya bukan pada masa subur, atau menggunakan pengaman, tentu tidak akan hamil," jelasnya.
Dia juga menyayangkan kebijakan yang menurutnya hanya buang-buang anggaran tanpa memberikan solusi nyata.
"Enggak ada gunanya, buang-buang duit. Yang paling penting itu adalah anak-anak sejak SMP diberikan pendidikan seks," tambahnya.
Dia pun menyarankan agar sekolah fokus pada pencegahan melalui pendidikan seks. Pendidikan sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai risiko kehamilan di usia muda, penularan penyakit kelamin, HIV, hingga kanker mulut rahim.
"Begini, kalau kamu sampai melakukan hubungan seks, bahayanya adalah kehamilan, penyakit kelamin, HIV, termasuk kanker mulut rahim bagi perempuan. Kalau hanya tes kehamilan, semua juga enggak akan ada yang positif kalau belum hamil," tuturnya.
Ia juga menyarankan agar sekolah mengintegrasikan pendidikan seks ke dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya melalui guru BK, kegiatan keputrian, atau mengundang dokter dari puskesmas untuk memberikan edukasi langsung.
"Gurunya sendiri harus memberi edukasi. Cukup satu jam saja. Atau bisa mengundang dokter dari puskesmas. Kan, enggak susah. Tinggal sekolahnya mau atau tidak," kata dr. Boyke.
dr. Boyke juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi, seperti video edukasi yang tersedia di media sosial untuk memberikan pemahaman kepada siswa. Menurutnya, konten-konten tersebut mudah diakses dan relevan dengan generasi muda saat ini.
Sebagai langkah preventif, dr. Boyke menekankan bahwa sekolah harus fokus pada edukasi dan diskusi tentang kesehatan reproduksi. Menurutnya, pendidikan seks bukan hanya mencegah pergaulan bebas, tetapi juga melindungi kesehatan reproduksi siswa dan mencegah dampak negatif hubungan seksual di usia dini.
"Tes kehamilan siswa itu enggak ada gunanya sama sekali," tegasnya. "Ide boleh, kreativitas boleh, tapi juga harus melihat efektivitas dan manfaatnya. Jauh lebih bagus melakukan pendidikan seks."
Seksolog Boyke Dian Nugraha, yang akrab disapa dr. Boyke, memberikan tanggapan kritisterhadap kebijakan salah satu SMA di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang mewajibkan tes kehamilan bagi para siswinya. Kebijakan ini menjadi sorotan publik, apalagi terungkap bahwa hal ini telah dilakukan selama dua tahun di SMA Sulthan Baruna.
dr Boyke mengaku tidak setuju dengan praktik tersebut. Menurutnya, tes kehamilan bukanlah solusi untuk mencegah pergaulan bebas di kalangan siswa.
"Lebih baik [para siswa] diberikan pendidikan seks bersama dengan pendidikan keagamaan," ujar dr. Boyke saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/1).
Dia juga mempertanyakan tujuan di balik kebijakan ini dan menilai bahwa tes kehamilan tidak efektif untuk mencegah pergaulan bebas.
"Buat apa [tes kehamilan]? Masa setiap siswi diperiksa tes kehamilan? Tes kehamilan itu kalau sudah terjadi kehamilan baru dia akan positif. Terus buat apa? Suruh gugurin? Kan, enggak bisa dong. Justru yang harus kita lakukan itu adalah pencegahan," tegas dr. Boyke.
Menurutnya, tes kehamilan tidak dapat membuktikan keterlibatan seorang dalam pergaulan bebas. Lagi pula, ada banyak faktor yang memengaruhi hasil tes kehamilan, seperti penggunaan kontrasepsi atau hubungan seksual di luar masa subur.
Ilustrasi. dr. Boyke menilai tes kehamilan tidak efektif cegah pergaulan bebas. (iStockphoto/Love portrait and love the world)
"Percuma melakukan tes kehamilan. Tes kehamilan itu dilakukan kalau siswi itu memang hamil karena melakukan seks pada masa subur dan tanpa pengaman. Kalau hubungan seksnya bukan pada masa subur, atau menggunakan pengaman, tentu tidak akan hamil," jelasnya.
Dia juga menyayangkan kebijakan yang menurutnya hanya buang-buang anggaran tanpa memberikan solusi nyata.
"Enggak ada gunanya, buang-buang duit. Yang paling penting itu adalah anak-anak sejak SMP diberikan pendidikan seks," tambahnya.
Ilustrasi. Edukasi dinilai lebih penting daripada tes kehamilan untuk para siswi. (iStockphoto/Love portrait and love the world)
Dia pun menyarankan agar sekolah fokus pada pencegahan melalui pendidikan seks. Pendidikan sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai risiko kehamilan di usia muda, penularan penyakit kelamin, HIV, hingga kanker mulut rahim.
"Begini, kalau kamu sampai melakukan hubungan seks, bahayanya adalah kehamilan, penyakit kelamin, HIV, termasuk kanker mulut rahim bagi perempuan. Kalau hanya tes kehamilan, semua juga enggak akan ada yang positif kalau belum hamil," tuturnya.
Ia juga menyarankan agar sekolah mengintegrasikan pendidikan seks ke dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya melalui guru BK, kegiatan keputrian, atau mengundang dokter dari puskesmas untuk memberikan edukasi langsung.
"Gurunya sendiri harus memberi edukasi. Cukup satu jam saja. Atau bisa mengundang dokter dari puskesmas. Kan, enggak susah. Tinggal sekolahnya mau atau tidak," kata dr. Boyke.
dr. Boyke juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi, seperti video edukasi yang tersedia di media sosial untuk memberikan pemahaman kepada siswa. Menurutnya, konten-konten tersebut mudah diakses dan relevan dengan generasi muda saat ini.
Sebagai langkah preventif, dr. Boyke menekankan bahwa sekolah harus fokus pada edukasi dan diskusi tentang kesehatan reproduksi. Menurutnya, pendidikan seks bukan hanya mencegah pergaulan bebas, tetapi juga melindungi kesehatan reproduksi siswa dan mencegah dampak negatif hubungan seksual di usia dini.
"Tes kehamilan siswa itu enggak ada gunanya sama sekali," tegasnya. "Ide boleh, kreativitas boleh, tapi juga harus melihat efektivitas dan manfaatnya. Jauh lebih bagus melakukan pendidikan seks."