Kenapa Perjalanan Pulang Selalu Terasa Lebih Cepat? Ini Penjelasannya

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 19:15 WIB
Ilustrasi. Dalam psikologi, fenomena perjalanan pulang yang dirasa lebih cepat dari perjalanan pergi dikenal sebagai return trip effect. (istockphoto/Rani Nurlaela Desandi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah merasa perjalanan pergi menuju suatu tempat terasa lama, tetapi perjalanan pulangnya seperti berlangsung jauh lebih singkat? Padahal, jarak yang ditempuh sama dan waktu perjalanan sebenarnya tidak berubah.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai return trip effect, yakni kecenderungan perjalanan pulang terasa lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi.

Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan yang dialami sesekali. Sejumlah penelitian mencoba menguji mengapa otak dapat mempersepsikan perjalanan yang sama dengan cara berbeda.

Perjalanan pulang memang terasa lebih singkat

Penelitian dari Psychonomic Bulletin & Review menguji return trip effect melalui tiga studi. Peneliti menggunakan beberapa situasi, mulai dari perjalanan nyata menggunakan bus dan sepeda hingga eksperimen ketika peserta menonton video perjalanan.

Hasilnya konsisten, peserta cenderung menilai perjalanan pulang lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi, meskipun durasi dan jarak keduanya sebenarnya sama.

Salah satu penjelasan yang paling mudah adalah familiaritas. Saat berangkat, kita belum tahu persis seperti apa perjalanan yang akan dilalui. Ketika pulang, kita sudah mengenali rute sehingga perjalanan terasa lebih mudah diprediksi.

Bahkan penelitian menemukan bahwa efek tersebut tetap muncul meskipun peserta menggunakan rute berbeda saat perjalanan pulang, selama jarak yang ditempuh sama.

Ekspektasi ikut memengaruhi

Peneliti kemudian mengajukan penjelasan yang disebut expectation violation atau pelanggaran ekspektasi. Saat berangkat, seseorang mungkin memperkirakan perjalanan akan berlangsung singkat. Ketika perjalanan ternyata terasa lebih lama dari perkiraan, ekspektasi terhadap perjalanan berikutnya ikut berubah.

Saat perjalanan pulang ternyata tidak selama yang dibayangkan, durasi tersebut kemudian terasa lebih singkat. Jadi, bukan waktu perjalanannya yang berubah, melainkan cara otak memperkirakan dan mengingat durasi tersebut.

Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa yang berubah adalah persepsi kita terhadap durasi perjalanan. Bahkan, efek tersebut dapat baru terasa setelah perjalanan berakhir, ketika otak melihat kembali dan membandingkan dua pengalaman yang sebenarnya memiliki durasi sama. Ternyata, efeknya juga bisa muncul setelah sampai.

Mengutip penelitian yang diterbitkan dalam PLOS ONE, peneliti membandingkan penilaian durasi yang dilakukan saat perjalanan berlangsung dengan penilaian setelah perjalanan selesai. Mereka juga mengukur aktivitas sistem saraf otonom peserta menggunakan elektrokardiogram (ECG).

Hasilnya menunjukkan return trip effect tetap muncul setelah perjalanan selesai. Artinya, seseorang belum tentu merasa perjalanan pulang lebih cepat saat masih berada di dalam kendaraan.

Jadi, otak kita memang punya cara sendiri dalam menghitung perjalanan.

(anm/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK