Jakarta, CNN Indonesia -- Dari jalan, Gedung Autograph Tower terlihat berdiri menjulang di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Wujudnya seperti raksasa kaca dan baja yang mendominasi langit ibu kota.
Tapi keistimewaannya baru benar-benar terasa saat pengunjung masuk dan menaiki lift menuju lantai 99. Hanya butuh 40 detik untuk mencapai ketinggian itu, namun pengalaman yang menanti di atas jauh melampaui apa pun yang biasa ditawarkan kota ini.
Di sanalah letak UP at Thamrin Nine, observatorium 360 derajat tertinggi di Indonesia, berdiri di puncak gedung setinggi 385 meter. Tempat ini menjadi destinasi baru yang ramai dikunjungi, bahkan di hari biasa. Tak hanya menampilkan lanskap Jakarta dari lantai 99 hingga lantai 109, UP juga menawarkan wahana ekstrem seperti UPswing, ayunan tertinggi di Indonesia yang langsung menghadap langit terbuka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petualangan ke langit Jakarta ini dimulai dari lantai dua Agora Mall, tempat tiket untuk menjajal Jakarta dari atas langit dijual.
Setelah melewati pengecekan, pengunjung diarahkan naik ke lantai 99 menggunakan lift berkecepatan tinggi. Meski singkat, perjalanan vertikal ini terasa berkesan, karena interior lift dihiasi lampu dekoratif yang membuatnya tak terasa membosankan.
Total perjalanan lift dari lantai dasar ke lantai 99 hanya memerlukan waktu tempuh selama 45 detik.
Di lantai 99, pengunjung pertama-tama diajak masuk ke Immersive Room, sebuah ruang yang menyajikan cerita Jakarta melalui proyeksi visual berskala besar. Jakarta digambarkan secara digital, lengkap dengan kilas balik sejarah dan perkembangan urban.
Bagi banyak pengunjung, ruang ini menjadi pembuka yang menyenangkan sebelum benar-benar melihat ibu kota dari ketinggian sebenarnya.
Menyaksikan Jakarta dari Lantai 106
Dari lantai 99, perjalanan dilanjutkan ke lantai 106 area utama observatorium yang dinamai Sky Garden. Di sinilah pengunjung bisa menikmati panorama Jakarta dari semua arah.
Monas terlihat berdiri tenang di kejauhan, gedung-gedung perkantoran di Sudirman membentuk lanskap modern di sisi barat, sementara Pantai Ancol bisa terlihat jika cuaca cukup cerah di sisi utara.
Meskipun kunjungan dilakukan di awal pekan, suasana di lantai 106 tetap ramai. Beberapa pengunjung duduk santai menikmati angin sore, sebagian lainnya sibuk mengabadikan momen lewat kamera ponsel. Semua tampak ingin menikmati Jakarta dari sudut yang berbeda, lebih tinggi, lebih tenang, dan tentunya lebih berangin.
Satu atraksi yang jadi magnet perhatian adalah di sini adalah UPswing, ayunan setinggi lebih dari 100 lantai yang berdiri tepat di sisi gedung. Ayunan ini hanya bisa dinaiki dengan tiket tambahan Rp75.000, dan menjadi favorit bagi pengunjung yang mencari sensasi adrenalin.
Sebelum naik, staf akan membantu mengenakan helm dan sabuk pengaman. Setelah duduk, kaki pengunjung langsung menggantung bebas, tanpa penghalang di depan.
Lalu, ayunan perlahan mulai bergerak ke luar gedung. Angin kencang langsung menyapu wajah, dan pandangan terbuka luas ke arah kota yang membentang di bawah. Meski hanya berlangsung sekitar dua menit, pengalaman ini meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Tidak sedikit pengunjung yang berteriak spontan, sementara yang lain justru terdiam, takut, kagum, atau sekadar tak percaya bisa melihat Jakarta dari posisi se-ekstrem itu. Ayunan ini bukan hanya soal keberanian, tapi juga soal cara baru menikmati kota.
Naik Lebih Tinggi ke Lantai 109
Bagi yang ingin melihat lebih banyak dan dengan suasana lebih tenang, lantai UP High di lantai 109 bisa menjadi pilihan. Tiket tambahan sebesar Rp85.000 diperlukan untuk mengakses area ini.
Tidak seramai lantai 106, lantai ini terasa lebih privat, cocok bagi mereka yang ingin mengambil foto tanpa gangguan atau hanya duduk menikmati matahari terbenam.
Dari Atas Gedung Tertinggi Indonesia, Garis Cakrawala Jakarta Tampak Penuh
Pengunjung dengan latar pemandangan kota Jakarta dari langit di UP at Thamrin Nine, Autograph Tower, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Di lantai tertinggi ini, garis cakrawala Jakarta terlihat penuh. Dari utara ke selatan, dari barat ke timur, gedung-gedung, jalan raya, dan permukiman kota terlihat seolah hanya dalam satu genggaman pandang. Dan saat malam tiba, cahaya kota menjelma menjadi lanskap urban yang nyaris hipnotis.
Bagi Anda yang ingin berkunjung, rasanya perlu memerhatikan beberapa hal. Misalnya, waktu terbaik untuk berkunjung ke UP di Thamrin Nine ini. Anda disarankan berkunjung menjelang senja, antara pukul 16.30 hingga 18.30.
Saat itu, langit Jakarta mulai berubah warna, dan lampu kota menyala satu per satu. Dari ketinggian ini, Ibu Kota tampak seperti permadani cahaya yang hidup.
Selain itu, Anda juga perlu mencari tahu soal tiket masuk ke setiap arena. Untuk tiket masuk ke Sky Garden dibanderol mulai dari Rp100.000 per orang. Pengunjung yang ingin mencoba UPswing perlu membayar tambahan Rp75.000, sementara untuk masuk ke UP High dikenakan biaya tambahan Rp85.000. Tiket dapat dipesan secara langsung atau melalui platform daring seperti Loket.com.
Beberapa ketentuan juga perlu diperhatikan. Pengunjung dilarang membawa kamera profesional, tripod, gimbal, tongkat swafoto, maupun drone. Ponsel wajib digantungkan dengan tali leher, terutama saat berada di area terbuka. Penggunaan pelindung sepatu juga diwajibkan ketika berjalan di atas lantai kaca.
Disarankan membawa tas ringan dan mengenakan pakaian nyaman karena sebagian besar area observatorium berada di ruang terbuka. Fasilitas penitipan barang tersedia di lantai tiket bagi pengunjung yang membawa barang lebih banyak.
Dari segi akses, lokasi UP at Thamrin Nine cukup strategis. Terhubung langsung dengan transportasi publik seperti MRT Dukuh Atas, LRT, KRL BNI City, dan halte TransJakarta Tosari. Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi juga bisa memanfaatkan area parkir serta stasiun pengisian daya untuk mobil listrik.
Dengan kombinasi pemandangan kota, pengalaman digital, dan wahana ekstrem, UP at Thamrin Nine bukan sekadar observatorium, ia menjadi destinasi baru bagi warga dan wisatawan yang ingin melihat Jakarta dari cara yang berbeda.
Di tempat ini, ibu kota yang sering terasa padat dan riuh, justru tampil hening dan luas. Dan siapa sangka, kadang cara terbaik untuk memahami kota adalah dengan melihatnya dari atas, dari ketinggian yang cukup untuk mengingatkan, bahwa Jakarta, sesibuk apa pun, tetap menyimpan sisi yang bisa dinikmati pelan-pelan dan dalam kesunyian.