8 Destinasi Populer Dunia yang Perlu Dihindari Turis untuk 2026
4. Isola Sacra, Italia
Isola Sacra merupakan sebuah komunitas pesisir kecil di kota Fiumicino, Italia. Mereka mendapatkan nama 'Isola Sacra' setelah pelabuhannya diusulkan untuk menyambut beberapa kapal pesiar terbesar di dunia.
Namun, penduduk setempat menentang proyek ini, mereka khawatir hal ini akan mengundang perhatian wisatawan. Jika ribuan turis datang menyerbu Isola Sacra, takutnya akan merusak ekosistem di sana yang rapuh. Termasuk bukit pasir, lahan basah, lahan pertanian, sampai spesies tumbuhan dan hewan.
5. Wilayah Jungfrau, Swiss
Jungfrau tengah bergulat dengan dilema, antara menyeimbangkan pariwisata yang sedang naik daun atau melestarikan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat di sana yang unik. Padahal, menurut Jungfrau Railways, jumlah dan keuntungan pariwisata di wilayah tersebut sedang berada pada titik tertinggi sepanjang masa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6. Meksiko
Sementara itu, Meksiko tengah berjuang untuk mengatasi ledakan pariwisata yang berlebihan. Banyak penduduk lokal yang akhirnya mengeluhkan harga sewa akomodasi yang tinggi, penggusuran, hingga erosi identitas budaya. Menurut Fodor, banyak yang menyalahkan penyewaan jangka pendek oleh wisatawan yang berkunjung ke Meksiko.
7. Mombasa, Kenya
Mombasa di Kenya merupakan rumah bagi pantai tropis dengan pasir putih, cagar alam, spesies satwa liar yang unik, sampai harta karun budaya yang ikonik.
Mombasa menyambut rekor 2,4 juta kedatangan internasional tahun lalu, angka ini meningkat 14,6 persen dibandingkan tahun 2023. Namun, pejabat setempat tidak bisa mengambil sikap ketika overtourism ini terjadi bisa menyebabkan kerusakan di Mombasa yang indah.
Ditambah lagi, Fodor mencatat bahwa kota tersebut sedang berjuang dengan menipisnya sumber daya, kepadatan penduduk, infrastruktur transportasi yang tidak memadai, dan pengelolaan limbah yang buruk.
8. Montmartre, Paris
Terakhir adalah Montmarte, sebuah desa yang berada di puncak perbukitan Paris, Prancis. Pasalnya tempat ini hanya mampu menampung 30 ribu penduduk, tetapi harus berjuang dengan menyambut sekitar 11 juta wisatawan setiap tahun.
Menurut Fodor's, penduduk telah melakukan protes meskipun suaranya masih kecil. Sebagian besar karena mengeluhkan kenaikan biaya perumahan dan ketakutan identitas budaya masyarakat akan hilang lama-kelamaan.
(ana/wiw)[Gambas:Video CNN]