Menkes Angkat Bicara soal Pasien 'Super Flu' di Bandung yang Meninggal

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 06:46 WIB
Menkes menekankan bahwa penyebab utama kematian pasien 'Super Flu' tersebut bukanlah murni akibat serangan virus, melainkan dipicu komorbid.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara soal kematian pasian Super Flu di RSHS Bandung. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin angkat bicara terkait kasus kematian seorang pasien yang terinfeksi Influenza A H3N2 subclade K atau yang populer disebut 'Super Flu' di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat.

Menkes menekankan bahwa penyebab utama kematian pasien tersebut bukanlah murni akibat serangan virus, melainkan dipicu oleh kondisi penyakit penyerta atau komorbid yang sudah diderita pasien.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (12/1), Budi Gunadi menjelaskan kehadiran virus dalam tubuh seseorang tidak selalu menjadi penyebab tunggal kematian jika individu tersebut memiliki masalah kesehatan kronis lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai ilustrasi, jika ada orang yang sedang flu kemudian mengalami kecelakaan tertabrak mobil dan meninggal, penyebab kematiannya adalah kecelakaan tersebut, bukan flunya. Hal ini serupa dengan kasus di Bandung; pasien tersebut meninggal karena memang memiliki riwayat penyakit-penyakit lain yang cukup berat," ujar Budi Gunadi.

Lebih lanjut, Menkes mengungkapkan bahwa kasus di RSHS Bandung ini merupakan bagian dari rangkaian 62 kasus 'Super Flu' yang telah terdeteksi di seluruh Indonesia.

Dengan demikian, ia memastikan bahwa temuan tersebut merupakan data lama yang sudah masuk dalam pantauan kementerian dan bukan merupakan munculnya klaster kasus baru yang mendadak.

Pihak RSHS Bandung sebelumnya melaporkan telah menangani total 10 pasien yang menunjukkan gejala infeksi Influenza A H3N2 subclade K. Dari total pasien tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi bawaan yang memburuk.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, memaparkan bahwa timnya telah melakukan pemantauan ketat terhadap pasien yang diduga terpapar 'Super Flu' sejak periode Agustus hingga November 2025. Berdasarkan data yang dihimpun, tren kasus sebenarnya telah menunjukkan penurunan signifikan sejak November tahun lalu.

"Meskipun sampel diperiksa secara bertahap, data lengkap mengenai 10 kasus yang dinyatakan positif Influenza A H3N2 subclade K ini baru kami terima secara utuh pada bulan Januari ini," ungkap dr. Yovita dalam penjelasannya di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1), melansir Detik.

Berdasarkan tinjauan medis pihak rumah sakit, 10 kasus tersebut menjangkiti pasien dari berbagai kelompok usia, yang menunjukkan bahwa virus ini dapat menyerang siapa saja. Dua bayi usia 9 bulan dan 1 tahun, pasien umur 11 tahun hingga mayoritas diderita pasien usia 20 hingga 60 tahun.

Terkait pasien yang meninggal dunia, dr. Yovita menjelaskan pasien tersebut merupakan salah satu dari dua orang yang kondisinya sempat dikategorikan berat. Satu pasien harus dirawat di ruang high care unit, sementara pasien yang meninggal sempat mendapatkan penanganan di ruang intensif (ICU).

"Pasien yang berada di ruang intensif akhirnya dinyatakan meninggal dunia karena komplikasi komorbid yang sangat kompleks. Berdasarkan catatan medis, terdapat riwayat penyakit stroke, gagal jantung, infeksi sistemik, hingga gagal ginjal. Mengingat banyaknya penyakit penyerta tersebut, kami tidak dapat menyatakan bahwa kematian ini secara langsung disebabkan oleh virus 'Super Flu' semata," pungkas dr. Yovita.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]