Warisan Rona Merah dari 'Kaisar Terakhir Mode' Valentino Garavani
Pada 1970, ia meluncurkan lini siap pakai "Valentino Boutique", diikuti debut ready-to-wear Paris pada 1975. Ekspansi lisensi, mulai parfum, aksesori, hingga produk gaya hidup, menguatkan posisi bisnisnya, menjadikan Valentino salah satu rumah mode Italia pertama yang beroperasi dengan skala global. Valentino juga menjadi label fesyen Italia pertama yang melantai di bursa, jauh sebelum Versace, Prada, atau Giorgio Armani.
Pengakuan institusional pun menyusul, dimulai dari presentasi haute couture di Metropolitan Museum of Art pada 1982, penghargaan Cavaliere di Gran Croce pada 1986, Chevalier de la Légion d'Honneur pada 2006, serta CFDA Lifetime Achievement Award pada 2000.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perayaan 40 tahun rumah mode di Piazza di Spagna, Roma, menampilkan 40 gaun merah, yang menjadi sebuah retrospektif tentang konsistensi identitas yang dibangunnya di kota favoritnya.
Di tengah perubahan selera era 1990-an yang condong pada minimalisme dan grunge, Valentino tetap bertahan pada ideal keindahan klasik, membangun dunia yang otonom dari fluktuasi tren.
Transisi korporasi dimulai pada 1998 ketika Valentino dan Giammetti menjual perusahaan kepada HdP, diikuti serangkaian perubahan kepemilikan hingga Mayhoola for Investments mengambil alih pada 2012. Meski demikian, peralihan posisi puncak dari sisi kreatif berlangsung relatif mulus.
Setelah pensiun pada 2008, yang ditandai peragaan haute couture Spring/Summer terakhir, tongkat estafet diberikan kepada Pierpaolo Piccioli dan Maria Grazia Chiuri.
Film dokumenter Valentino: The Last Emperor (2008) karya Matt Tyrnauer memperluas pengaruh Valentino ke budaya populer dan membuka jalan bagi gelombang dokumenter mode berikutnya. Film itu memotret disiplin kerja, relasi personal, dan gaya hidup yang kini jarang ditemukan di industri yang semakin terindustrialisasi.
John Fairchild dari Women's Wear Daily menyebutnya 'the Sheik of chic'. Sementara Walter Veltroni, mantan Wali Kota Roma, merangkum posisinya: "In Italy, there is the Pope - and there is Valentino".
Lihat Juga : |
Estetika Roma tetap menjadi poros, sebagaimana ditafsirkan ulang dalam pameran Forever Valentino di Doha di tahun 2023. Pameran museum skala besar ini menampilkan perspektif label dan dikuratori Massimiliano Gioni dan Alexander Fury.
Warisan Valentino tidak terletak pada inovasi teknis semata, melainkan pada keteguhan membangun sistem makna sebuah estetika pakaian dan gaya hidup secara menyeluruh: Roma sebagai latar, merah sebagai identitas, dan keindahan sebagai tujuan utama.
Dalam industri yang terus bergerak, keteguhan itu menjadi ukuran yang jarang bertahan. Justru, karena itulah Valentino Garavani menutup hidupnya sebagai referensi terakhir dari sebuah era.
Prosesi penghormatan terakhir akan digelar di PM23, Piazza Mignanelli 23, pada Rabu (21/1) dan Kamis 22 (22/1), pukul 11.00-18.00 waktu setempat.
(asr/asr)
