Perjalanan Tolak Angin Jadi Obat Herbal Terstandar

CNN Indonesia
Selasa, 20 Jan 2026 22:56 WIB
Tolak Angin memiliki perjalanan panjang hingga bisa menyandang predikat sebagai obat herbal terstandar (OHT). Seperti apa kisahnya?
Tolak Angin memiliki perjalanan panjang hingga bisa menyandang predikat sebagai obat herbal terstandar (OHT). (Freepik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Musim hujan seperti sekarang, Tolak Angin layaknya kawan akrab. Tolak Angin memiliki perjalanan panjang hingga bisa menyandang predikat sebagai obat herbal terstandar (OHT). Seperti apa kisahnya?

Hangat dan berkhasiat. Mungkin dua hal ini yang diingat ketika bicara soal Tolak Angin. Hanya saja, Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat menyadari kemudahan mengakses informasi membuat orang rentan diterpa informasi yang tak jelas kebenarannya.

Masih meragukan Tolak Angin? Irwan mengajak untuk menilik kembali perjalanan salah satu produk andalan Sido Muncul ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai perusahaan kami berbasis pada penelitian, di luar itu kami tidak ngomong yang lain. Semua berbasis penelitian," ujar Irwan saat temu media di kantor Sido Muncul, Jakarta Selatan, Selasa (20/1).

Uji ilmiah

Agar diakui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk harus melalui uji toksisitas dan uji khasiat.

Sido Muncul pun menggandeng Universitas Sanata Dharma (USD) untuk uji toksisitas dan Universitas Diponegoro (Undip) untuk uji khasiat.

Peneliti Tolak Angin: Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Ipang Djunarko, bercerita 23 tahun lalu dilakukan uji toksisitas subkronis terhadap produk.

Ipang dan tim melakukan uji toksisitas pada hewan coba. Selain kelompok kontrol, terdapat kelompok perlakuan yang diberi cairan dengan dosis berbeda.

"Kami amati setiap perlakuan selama 3 bulan. Kami mulai dari pengamatan gejala klinik, uji darah rutin, uji kimia klinik, semua dilakukan untuk mengetahui efek toksisitas secara biokimiawi," jelas Ipang yang hadir secara virtual.

Dok: Tolak AnginIlustrasi. Tolak Angin telah melalui uji toksisitas dan uji khasiat sehingga terbukti aman dan mendatangkan manfaat. (Dok: Tolak Angin)

Tim peneliti juga melihat apa ada perubahan secara fisiologi, struktural pada tubuh hewan coba.

Phebe Hendra, peneliti Tolak Angin: Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang turut hadir secara virtual, menambahkan secara prinsip tidak ada perubahan pada berat badan, sistem hematologi, struktural, maupun organ vital pada hewan coba.

"Secara prinsip boleh kita katakan, penggunaan Tolak Angin cair dalam jangka panjang, 90 hari, pada hewan uji masih relatif aman selama di dosis yang sudah dianjurkan," katanya.

Menurut literatur, lanjut dia, uji 90 hari pada hewan tikus setara dengan 101 bulan pada manusia. Uji pada tikus dapat memberikan sedikit gambaran jika Tolak Angin dikonsumsi dalam jangka panjang.

Sementara itu, peneliti Tolak Angin: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Neni Susilaningsih, bercerita Tolak Angin menjalani uji khasiat dengan dua tahap, yakni uji pada hewan coba dan uji klinis atau pada manusia.

Pada penelitian tersebut, pemberian Tolak Angin selama seminggu menunjukkan ada peningkatan jumlah limfosit darah tepi, kemudian peningkatan komponen respons imun.

Asian scientist or doctors use microscopes to test for the coronavirus (COVID 19). Or a new flu virus to save human life In the lab Or hospital. Successful in researching the treatment of patientsIlustrasi. Dari uji khasiat di Undip, Tolak Angin terbukti meningkatkan komponen respons imun. (iStock/Reptile8488)

"Di samping itu, kami menilai kadar kreatinin, ureum, fungsi ginjal, hati, hemoglobin, leukosit, semua menunjukkan yang diberi Tolak Angin dan tidak diberi tidak ada perbedaan bermakna. [Tolak Angin] tidak berpengaruh pada fungsi ginjal dan lain-lain," jelas Neni.

Hasil penelitian baik uji toksisitas maupun uji khasiat ini mampu menaikkan level Tolak Angin dari jamu ke obat herbal terstandar (OHT).

(els)


[Gambas:Video CNN]