Hamil di Usia 40-an, Ini Risiko dan Pemeriksaan yang Perlu Dilakukan

CNN Indonesia
Jumat, 20 Feb 2026 06:30 WIB
Ilustrasi. Hamil di usia 40-an tentu sangat berisiko, penting untuk menjaga ibu dan janin. (StockSnap/Freestocks.org)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kehamilan di usia 40-an semakin sering terjadi seiring banyak perempuan yang menunda kehamilan. Meski demikian, dokter menegaskan bahwa kehamilan pada usia ini tetap memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan usia yang lebih muda.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Andon Hestiantoro menjelaskan, peningkatan risiko tersebut terjadi karena perubahan alami pada tubuh perempuan.

"Kehamilan di usia ini berisiko lebih tinggi karena proses penuaan alami tubuh yang memengaruhi sistem reproduksi dan organ lainnya," jelas Andon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (20/1).

Menurutnya, ada sejumlah faktor biologis dan medis yang membuat kehamilan di usia 40-an perlu mendapat perhatian khusus. Salah satunya adalah penurunan kualitas dan kuantitas sel telur.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi peluang hamil, tetapi juga meningkatkan risiko keguguran dan kelainan kromosom pada janin, seperti sindrom Down.

Selain itu, perempuan di usia 40-an juga lebih berisiko memiliki penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan tiroid. Kondisi-kondisi ini dapat memperberat jalannya kehamilan bila tidak terkontrol dengan baik.

Menurut Andon, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan pada rahim.

"Seperti miom atau endometriosis yang lebih sering ditemukan," katanya.

Ia menambahkan, ibu hamil usia 40-an juga lebih sering memerlukan tindakan medis, seperti persalinan dengan bantuan alat atau operasi sesar.

Adapun risiko yang paling sering ditemui pada ibu hamil di usia 40-an meliputi:

• Diabetes gestasional, yakni gangguan toleransi glukosa selama kehamilan.

• Hipertensi gestasional atau preeklampsia, yaitu tekanan darah tinggi yang muncul saat hamil.

• Keguguran, dengan risiko bisa lebih dari 30-35 persen pada usia di atas 40 tahun.

• Kelainan kromosom pada janin.

• Persalinan prematur dan berat bayi lahir rendah.

• Plasenta previa, yakni kondisi ketika plasenta menutupi jalan lahir.

Pemeriksaan penting sebelum dan awal kehamilan

Andon menekankan, kehamilan di usia 40-an sebaiknya tidak terjadi tanpa perencanaan. Pemeriksaan pra-kehamilan atau preconception care menjadi langkah yang sangat penting.

Beberapa pemeriksaan yang dianjurkan sebelum hamil antara lain:

• Pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk jantung, paru-paru, ginjal, dan fungsi hati.

• Skrining penyakit kronis.

• Pemeriksaan kandungan, termasuk USG panggul untuk mendeteksi miom atau kista.

• Tes penyakit menular seperti HIV, hepatitis, sifilis, dan TORCH.

• Konseling genetik dan carrier screening jika memungkinkan.

• Pemeriksaan kesuburan pasangan.

"Faktor pria juga penting," ujar Andon.

Setelah hamil, pengawasan ketat perlu dilakukan sejak awal kehamilan. Secara medis, kehamilan di usia 40-an sudah termasuk kehamilan risiko tinggi.

Pemeriksaan yang umumnya dianjurkan meliputi:

• USG dini untuk memastikan usia kehamilan dan denyut jantung janin.

• Skrining kelainan kromosom, seperti NIPT (Non-Invasive Prenatal Test).

• Tes gula darah lebih awal dan diulang pada trimester kedua.

• Pemantauan tekanan darah secara rutin.

• Pemeriksaan janin lebih detail pada trimester kedua dan ketiga.

"Terima bahwa ini adalah kehamilan risiko tinggi dan miliki komitmen untuk kontrol rutin serta menjalani semua skrining yang dianjurkan," tambahnya.

Meski risikonya lebih tinggi, kehamilan di usia 40-an tetap bisa berjalan dengan aman jika kondisi ibu baik dan dipantau secara ketat. Gaya hidup sehat, pengendalian penyakit kronis, serta kepatuhan menjalani kontrol kehamilan menjadi kunci utama.

"Lakukan persiapan matang dan konsultasi pra-kehamilan dengan dokter kandungan dan dokter penyakit dalam. Jangan coba-coba hamil tanpa pemeriksaan awal," tutup Andon.

(nga/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK