Ini Kondisi yang Membuat Kehamilan di Usia 40-an Tak Disarankan
Kehamilan di usia 40-an tidak selalu dapat dijalani dengan aman, terutama jika disertai kondisi medis tertentu yang berat.
Dalam situasi tertentu, kehamilan justru dapat menimbulkan risiko serius hingga mengancam nyawa ibu sehingga secara medis tidak disarankan untuk dilanjutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis kandungan Andon Hestiantoro menegaskan bahwa tidak semua perempuan usia 40-an berada dalam kondisi kesehatan yang memungkinkan untuk hamil.
Beberapa penyakit kronis dan gangguan organ membuat tubuh tidak mampu beradaptasi dengan perubahan besar selama kehamilan.
"Ada kondisi yang sangat membahayakan nyawa ibu sehingga kehamilan sangat tidak disarankan," ujar Andon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (20/1).
Salah satu kondisi tersebut adalah penyakit jantung atau paru berat. Kehamilan meningkatkan volume darah dan beban kerja jantung.
Pada perempuan dengan gangguan jantung berat atau hipertensi pulmonal, kondisi ini dapat memicu gagal jantung dan meningkatkan risiko kematian ibu.
Mengutip Cleveland Clinic, memiliki penyakit jantung bawaan juga berisiko lebih tinggi untuk lahir prematur. Wanita dengan kondisi memiliki komplikasi kehamilan yang lebih tinggi.
Selain itu, gagal ginjal kronis juga menjadi kondisi yang sangat berisiko. Kondisi ginjal yang sudah menurun drastis terutama pada pasien yang memerlukan cuci darah.
Andon menambahkan, kondisi medis lain yang membuat kehamilan tidak dianjurkan adalah kanker aktif yang sedang menjalani pengobatan. Terapi kanker dapat membahayakan kesehatan ibu sekaligus mengganggu tumbuh kembang janin.
Melansir Cancer Center, paparan terapi radiasi pada ibu hamil dapat menyebabkan cacat lahir seperti kemandulan, katarak, hingga kematian.
Pengobatan kemoterapi yang diberikan pada trimester pertama dapat memengaruhi mata, telinga, sistem peredaran darah bayi, serta berdampak pada pertumbuhan janin.
Riwayat komplikasi kehamilan berat sebelumnya juga menjadi pertimbangan penting. Perempuan yang pernah mengalami perdarahan hebat atau plasenta akreta memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serupa pada kehamilan berikutnya.
"Pada kasus seperti itu, dokter akan menjelaskan risiko mortalitas yang tinggi dan menyarankan alternatif lain misal adopsi atau surogasi," kata Andon.
Kondisi lain yang termasuk berbahaya adalah sirosis hati berat. Gangguan fungsi hati dapat menyebabkan masalah pembekuan darah dan meningkatkan risiko perdarahan selama kehamilan maupun persalinan.
Menukil dari Biology Insights, penyakit hati stadium lanjut sering mengganggu keseimbangan hormonal yang diperlukan untuk ovulasi dan menstruasi. Gangguan hormonal sering kali mengakibatkan amenore (tidak adanya menstruasi atau oligomenore (menstruasi tidak teratur atau jarang).
Beberapa wanita dengan sirosis yang menunggu transplantasi hati mengalami gangguan menstruasi yang menurunkan kemungkinan hamil. Pada kondisi ini kesuburan diperkirakan berkurang sekitar 40 persen pada orang dengan sirosis.
Dalam kondisi-kondisi tersebut, kehamilan umumnya tidak direkomendasikan karena risiko yang dihadapi ibu jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Konsultasi medis menjadi langkah penting agar perempuan dan pasangan memahami konsekuensi medis secara menyeluruh.
Kehamilan di usia 40-an memang semakin sering terjadi di masa sekarang. Namun dokter menekankan bahwa keputusan untuk hamil harus didasarkan pada kesiapan kesehatan bukan sekadar keinginan.
Keselamatan ibu tetap menjadi prioritas utama dalam setiap perencanaan kehamilan, terutama pada usia dan kondisi kesehatan yang berisiko tinggi.
(nga/fef)[Gambas:Video CNN]

